Antara Tasawuf Dan Pengamalan Thariqah
Antara Tasawuf Dan Pengamalan Thariqah
Ubes Nur Islam
Muqaddimah
Alternatif & Solusi - Mengamalkan ilmu taswwuf tidak bisa lepas dari ilmu Tareqoh. Ilmu Tasawwuf sebagai disiplin ilmu yang mengitari konsep-konsep praktek ajaran Islam secara terpadu, sedangkan ilmu thaiqoh adalah tata urutan bagaimana ilmu tasawwuf itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi antara ilmu tasawwuf dan ilmu thariqah tidak bisa dipisahkan. Thariqah adalah praktek amaliah tasawwuf yang dikembangkan oleh para imam murysid secara turun temurun, yang segi amaliahnya bersumber dari sanad-sanad yang diterima oleh masing-masing mursyid thariqah, yang kemudian berkembang menjadi sekte-sekte khusus sesuai keputusan dan kebijakan para mursyid yang membawanya. Sehingga, secara teknis amaliah thariqah dari masing-masing sekte akan sangat berbeda, walaupun pokok pangkalnya dari sumber yang sama, yaitu dari Rasulullah SAW.
Dalam realitasnya, praktek thariqah ini, ada yang mengambil dari sanad yang tersambung dari Rasulullah dan ada yang terputus bahkan bertententangan dengan sunnah Rasulullah, yang terakir inilah sangat dikecam oleh para ulama tasawwuf dan imam-imam mursyid thariqah, sebab prakteknya sangat tidak sesuai lagi dengan tatanan syariat Islam dan banyak bid’ahnya. Bagi praktek thariqah yang bagian pertama, yang sanadnya tersambung dengan Rasulullah inilah yang bisa dijadikan sumber amaliyah bagi ummat Islam. Para Ulama menyebut bagian pertama ini dengan sebutan thariqah mu’tabarah.
Thariqah mu’tabarah adalah thariqah yang dilegetemed dan diakui oleh sumua aliran thoriqah. Karena praktek dan sumber amaliahnya sacara hakikat sama dengan semua thariqah yang ada. Perbedaanya hanya pada sisi sanad, pasword link, dan mekanisme pengamalan praktek zikir-zikir yang dilakukan para pangamal thariqah. Pihak yang dikuasakan untuk memberikan legitimasi ini adalah lembaga JATMAN NU, yaitu sebuah lembaga di bawah naungan Nahdhotul ‘Ulama.
Sedangkan menurut istilah, Thorekoh berasal dari kata ‘Ath-Thariq’, langkah
jalan menuju kepada Hakikat, atau dengan kata lain implementasi
pengalaman Syari'at secara kaffah. Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy
mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:
1) Tarekat adalah pengamalan syari'at, melaksanakan beban ibadah (dengan tekun)
dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah (ibadah), yang sebenarnya memang
tidak boleh dipermudah.
2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan
kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata, maupun yang tidak
(batin).
3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal
mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal yang diwajibkan
dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan (pelaksanaan) di bawah bimbingan
seorang Arif (Syekh) dari (Shufi) yang mencita-citakan suatu tujuan.
Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap kehidupan
Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan bahwa istilah
Tarekat mempunyai dua macam pengertian, yaitu: pertama, Tarekat yang
diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang
yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang
disebut "Al-Maqamaat" dan "Al-Ahwaal".
Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi; yaitu
amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan latihan kejiwaan
(kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang, maupun secara bersama-sama,
dengan melalui aturan-aturan tertentu untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian
yang disebut "Al-Maqaamaat" dan "Al-Akhwaal", meskipun
kedua istilah ini ada segi perbedaannya.
Latihan kerohanian itu, sering juga disebut "Suluk", maka pengertian
Tarekat dan Suluk adalah sama, bila dilihat dari sisi amalannya (prakteknya).
Tetapi kalau dilihat dari sisi organisasinya (perkumpulannya), tentu saja
pengertian Tarekat dan Suluk tidak sama.
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode
khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala
melalui tahapan-tahapan/maqamat.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode
pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya
menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum
sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti
zawiyah, ribath, atau khanaqah.
Bila ditinjau dari sisi lain, tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan,
sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh
atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru
tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah
dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau
limpahan pertolongan dari guru.
Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham
tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tariqah Alawiyah, al-Thariqah al-Mu'tabarah al-Ahadiyyah,
Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksibandiyah, Tarekat Rifa'iah, Tarekat Samaniyah
dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan
atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung
dengan paham tasawuf atau dengan tarekat besar. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor),
Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam
sebutannya saja.
Thoriqoh atau tarekat adalah suatu ilmu untuk mengetahui hal ihwal nafsu dan
sifat-sifatnya yang ada pada diri manusia, mana yang tercela kemudian di jauhi
dan ditinggalkan, dan mana yang terpuji kemudian diamalkan. Tarekat ini sendiri
tergolong menjadi dua golongan, yaitu tarekat muktabaroh dan tarekat yang tidak
muktabaroh. Tarekat muktabaroh adalah aliran tarekat yang memiliki sanad yang
muttashil (bersambung) sampai kepada Rosuluwllah Saw. Sedang beliau sendiri
menerimanya dari malaikat jibril dan malaikat jibril dari Aowllah SWT.
Sedangkan tarekat yang tidak muktabaroh adalah aliran tarekat yang tidak
memiliki sanad dan tidak muttashil sampi kepada Rosuluwllah. Tetapi pada
pelaksanaan dan prakteknya bisa sama atau bahkan berbeda dan bertentangan dengan syariat Islam.
Dalam Ilmu Tasawuf, Tariqah merupakan satu jalan atau kaedah yang ditempuh
menuju keridhaan Allah swt dengan amaliah zahir dan bathin seperti yang
terkandung dalam keluasan Ilmu Tasawuf. Adapun ikhtiar menempuh jalan itu lebih
dikenali dengan istilah Suluk. Sedangkan orang bersuluk itu pula dipanggil dengan istilah Salik.
Dalam keterangan yang lain, dapat difahami bahwa tariqah itu adalah jalan atau
petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh
Nabi Muhammad saw dan dikerjakan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw, Tabi’in,
Tab’I Tabi’in yang
terus turun temurun sehingga
sampai kepada para ulama dan guru-guru para salik.
Guru-Guru yang memberikan petunjuk dan bimbingan ini dinamakan Mursyid. Mursyid peranannya membimbing dan mengajar muridnya setelah memperolehi ijazah dari gurunya pula sebagai tersebut dalam silsilahnya. Dengan demikian ahli Tasawuf berkeyakinan bahwa hukum-hukum serta peraturan- peraturan dalam ilmu Syariah dapat dilaksanakan dengan sebaik- baik perlaksanaan melalui jalan Tariqah.
Penggunaan Kata “Thariqah” Dalam Al-Qur’an
Di dalam Al-Quranul Karim, perkataan Tariqah digunakan sebanyak 9 kali di dalam
5 tempat
surah. Pengertian tariqah di dalam Al-Quran
mempunyai beberapa pengertian. Antaranya ialah:
1. Surah An-Nisa’ : 168
‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman,
Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan
menunjukkan jalan kepada mereka.’
2. Surah An-Nisa’ : 169
‘Melainkan jalan ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’
3. Surah Thoha : 63
‘Mereka berkata : Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar
ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan
hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.’
4. Surah Thoha : 77
‘Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: Pergilah kamu
dengan hambaKu (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan
yang kering di laut itu, kamu tidak usah khuatir akan tersusul dan tidak usah
takut (akan tenggelam).’
5. Surah Thoha : 104
‘Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan ketika berkata
orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: Kamu tidak berdiam (di
dunia) melainkan hanyalah sehari sahaja.’
6. Surah Al-Ahqaf : 30
‘Mereka berkata : Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah
mendengarkan kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang
membenarkan kitab - kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan
kepada jalan yang lurus.’
7. Surah Al-Mukminin : 17
‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah
jalan (tujuh buah langit) dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).’
8. Surah Al-Jinn : 11
‘Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang soleh dan
di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh
jalan yang berbeza-beza.’
9. Surah Al-Jinn : 16
‘Dan bahawasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas
jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air
yang segar (rezeki yang banyak).’
Manakala, jika diperhatikan 3 bentuk kata tharaqa digunakan di dalam Al-Quran,
maka bentuk tersebut adalah:1) Thariq – Jalan yang ditetapkan atau jalan yang
dilalui oleh manusia, 2) Thariqah – Keutamaan atau kebenaran, 3) Tharaiq –
Berbentuk jamak dari perkataan thariq dan thariqah. Mempunyai dua makna iaitu
:Jalan yang nampak dan Aliran thariqah
Motivasi, Tujuan dan Pokok Amalan Thoriqoh
Thariqah sebagai organisasi para salik dan kaum / kelompok sufi, pada dasarnya memiliki tujuan yang satu,
yaitu Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah
swt. Akan tetapi sebagai organisasi, para salik yang kebanyakan diikuti
masyarakat awam merupakan para Mubtadi’in, maka dalam tariqah terdapat
tujuan-tujuan yang lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan
pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar, dalam Tariqah terdapat
tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tatacara dan jenis-jenis amalan
kesufian. Ketiga tujuan pokok tersebut adalah:
1. Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Ia merupakan satu proses penyucian jiwa yang akan menghasilkan ketenteraman,
ketenangan dan rasa dekat
dengan Allah swt dengan menyucikan hati dari segala kekotoran dan penyakit hati
atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh
seorang salik atau ahli tariqah. Bahkan dalam tradisi tariqah, Tazkiyatun Nafs
ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam
penyakit, akan secara langsung menjadikan seseorang dekat kepada Allah swt.
Zikrullah (Mengingati Dan Menyebut Allah)
Adapun jalan atau cara menjalani proses Tazkiyatun Nafs ini adalah dengan Zikrullah (mengingat Allah). Zikrullah merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap Tariqah. Yang dimaksudkan dengan Zikir dalam sesuatu tariqah adalah mengingati Allah swt dan menyebut nama Allah swt, baik secara Jahar (lisan) atau secara Sirr (rahsia). Di dalam Tariqah, zikrullah diyakini sebagai cara yang paling efektif untuk membersihkan jiwa dari segala macam kekotoran dan penyakit-penyakitnya sehingga hampir semua tariqah menggunakan cara ini.
Selain zikrullah, Tazkiyatun Nafs ini juga diperolehi dengan: Mengamalkan
Syariat, Melaksanakan amalan-amalan sunnah, dan Berperilaku zuhud dan wara’.
2. Taqarrub ila Allah (Mendekatkan Diri Kepada Allah swt)
Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt merupakan antara tujuan
utama para sufi dan ahli tariqah. Ini diupayakan dengan beberapa cara yang
tersendiri. Cara-cara tersebut dilaksanakan di samping perlaksanaan dan
upaya mengingat Allah (zikir) secara terus-menerus, sehingga sampai tidak
sedetik pun seorang salik itu lupa kepada Allah swt.
Antara cara yang biasanya dilakukan oleh para pengikut tariqah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih berkesan ialah : pertama Tawassul & Wasilah. Tawassul dan Wasilah dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah yang biasa dilakukan di dalam tariqah adalah suatu cara (wasilah) agar pendekatan diri kepada Allah swt dapat dilakukan dengan mudah dan ringan. Di antara bentuk-bentuk Tawassul yang biasa dilakukan adalah meng-hadiahkan bacaan Al-Fatihah kepada Syeikh yang memiliki silsilah tariqah yang diikutinya sejak Nabi Muhammad saw sampai kepada mursyid yang mengajarkan zikir dan membimbing zikir kepadanya.
Kedua Muraqabah. Muraqabah ialah duduk bertafakkur atau mengheningkan perbuatan
dengan penuh kesungguhan hati, dengan seolah-olah berhadapan dengan Allah swt.
Meyakinkan diri bahwa Allah swt senantiasa mengawasi dan memerhatikannya.
Sehingga dengan latihan Muraqabah ini, seorang salik akan memiliki nilai Ihsan
yang baik, dan akan dapat merasakan kehadiran Allah swt di mana sahaja dan pada
setiap masa.
Ketiga, Khalwat & Uzlah (Mengasingkan Diri). Khalwat atau uzlah adalah
mengasingkan diri dari hiruk pikuk urusan duniawi. Sebahagian tariqah tidak
mengajarkan Khalwat ini dalam keadaan fisikal, kerana menurut golongan ini khalwat cukup dilakukan menerusi kehadiran hati
(Khalwat Qalb). Sedangkan sebahagian tariqah yang lain, mengajarkan Khalwat
atau Uzlah secara fisikal, sebagai pengajaran
untuk membawa penuntutnya dapat melakukan Khalwat Qalb. Ajaran tentang khalwat
ini dilaksanakan dengan mengambil iktibar dari amalan Rasulullah saw pada
menjelang masa pengangkatan kenabiannya. Dalam perlaksanaan Khalwat ini diisi
dengan berbagai Mujahadah demi mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam tradisi
sebahagian tariqah di rantau Nusantara ini, Khalwat ini lebih dikenali dengan
Suluk.
3. Tujuan-Tujuan Lain
Tariqah sebagai kumpulan metode dan kayfiyat prakteh amalan yang menghimpunkan
para calon sufi atau Salik, yang kebanyakannya terdiri dari masyarakat yang
haus akan rahmat Allah. Untuk tahap awal kedudukan mereka itu berperingkat Mubtadi’in (permulaan), maka
dalam tariqah terdapat amalan-amalan yang menyesuaikan kepada keadaan
masyarakat awam. Amalan-amalan tersebut bertujuan mengharapkan sesuatu imbalan
ataupun pertolongan dalam melaksanakan tujuan pengamalan tersebut.
Kadangkala, amalan-amalan inilah yang biasanya memenuhi masa ruang para Salik. Di antara amalan-amalan tersebut ialah: pertama Wirid. Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara istiqamah (konsisten, tersus menerus), pada waktu-waktu yang khusus seperti setiap selesai mengerjakan sembahyang atau pada waktu-waktu tertentu yang lain. Wirid ini biasanya berupa potongan-potongan ayat, selawat atau pun nama-nama Allah.
Perbedaannya dengan zikir, adalah kalau zikir itu diijazahkan oleh seorang Mursyid dalam proses Bai’ah atau
Talqin atau Hirqah. Sedangkan wirid tidak semestinya harus diijazahkan oleh
seorang Mursyid dan tidak diberikan dalam suatu proses perjanjian (bai’ah).
Sedangkan dari sudut tujuan juga memiliki perbedaan antara keduanya. Zikir hanya dilakukan
satu-satunya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, sedangkan wirid biasa
dikerjakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang lain, umpama memohon
keberkahan rezeki, pertolongan dan sebagainya.
Kedua Ratib. Ratib adalah amalan yang harus diwiridkan oleh para pengamalnya.
Tetapi Ratib ini merupakan kumpulan dari beberapa potongan ayat atau
surah-surah pendek yang digabungkan dengan bacaan-bacaan lain seperti
Istighfar, Tasbih, Selawat, Asmaul Husna, Kalimah Thayyibah dalam suatu jumlah
yang telah ditentukan dalam pengamalan yang khusus.
Ratib ini biasanya disusun oleh seorang mursyid besar dan diberikan secara ijazah kepada para muridnya. Ratib ini juga biasa diamalkan oleh seorang dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan rohani dan merupakan wasilah (perantaraan) dalam doa untuk kepentingan hajat-hajat yang khusus.
Ketiga Hizib. Hizib pula adalah suatu doa yang panjang, dengan susunan
perkataan dan bahasa yang indah disusun oleh seorang sufi besar. Hizib ini
biasanya merupakan doa pelindung bagi seorang sufi yang juga diberikan kepada
muridnya secara ijazah. Hizib diyakini oleh kebanyakan masyarakat Islam sebagai
amalan yang dimiliki daya yang sangat besar terutama jika diperhadapkan dengan
ilmu-ilmu ghaib dan kesaktian.
Keempat manaqib. Manaqib sebenarnya adalah
biografi seorang sufi besar atau wali Allah seperti As-Syeikh Abdul Qadir
Jailani dan Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandi. Diyakini oleh para pengamal
tariqah sebagai mempunyai suatu kekuatan rohani dan barakah. Bacaan manaqib ini
seringkali dijadikan sebagai amalan, terutama untuk mengingati sejarah dan
perjuangan para waliyullah dan untuk tujuan terkabulnya segala hajat-hajat yang
baik dan khusus.
Secara umum, pokok praktek dari semua Aliran Tariqah itu ada lima : Pertama, mempelajari ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan perlaksanaan segala perintah-perintah syara’. Kedua, mendampingi guru-guru dan teman setariqah untuk melihat bagaimana cara melakukan sesuatu ibadah. Ketiga, meninggalkan segala Rukhsah dan Ta’wil untuk menjaga dan memelihara kesempurnaan amal. Keempat, menjaga dan mempergunakan waktu serta mengisikannya dengan segala wirid dan doa guna kekhusyukan dan kehadiran jiwa. Dan kelima, mengekang diri, jangan sampai keluar melakukan hawa nafsu dan supaya diri itu terjaga daripada kesalahan. (Ubes dari berbagai sumber)



Comments
Post a Comment