BAGAIMANA MENJELAJAH ALAM LANGITAN

 BAGAIMANA MENJELAJAH ALAM LANGITAN

Ubes Nur Islam

 


Puisi Ibnu Arobi

Di antara mereka menghormatiku  di bumi,
yang lainnya  menghormatiku di udara.
Di antara mereka menghormatiku  di manapun aku berada,
yang lainnya  menghormatiku  di langit.
Mereka mengajariku dan aku pun mengajarinya.
Namun, keberadaanku tidak sama.
Aku tetap di dalam entitasku.
Mereka tidak tetap dalam entitasnya.
Mereka menjelmakan diri dalam berbagai bentuk.
Seperti air yang masuk di dalam cangkir yang berwarna.

(Ibnu Arabi, dalam Kitab Futuhat Al-Makkiyah, Juz 1 h 735)


Alternatif & SolusiPuisi di atas merupakan ilustrasi yang menggambarkan seseorang mampu melakukan perjalanan
ke alam langitan, berkelana, mencari, menjelajah, berinteraksi, berkomunikasi, dan bahkan belajar dan berguru kepada makhluk yang berada di alam lain, alam langitan, alam arwah, alam para ruhaniyyun, alam ulwi, alam sufli, dan atau istilah alam yang lainnya. Apakah mungkin seseorang bisa berkomunikasi dan saling mengambil manfaat satu sama lainnya di dalam alam yang  berbeda? Sangat nampak jawabannya, adalah mungkin. Sebagaimana dilakukan orang-orang khusus yang berhasil menembus hijab atau menyingkap tabir yang juga diisyaratkan dalam Alquran dan hadits. Ternyata tidak sedikit orang berhasil mengakses dan berkomunikasi dengan penghuni alam ulwiyah langit spiritual itu.

Pengalaman batin Ibnu Arabi yang diungkapkan dalam bentuk puisi (syair) seperti dikutip di atas, itu merupakan saksi nyata, bahwa alam-alam lainnya bisa ditembus, bisa ditempati  dan para penghuninya bisa saling melakukan komunikasi interaktif dengan kita secara nyata.




Sebuah fakta. Ketika saya menghadiri ceramah pengajian Syekh Hisyam Al-Kabbani (Seorang Murid Syekh Nadim dari Thariqah Naqsabandiyah Haqqani, yang kini Beliau menjadi Mursyid dari Thariqah Naqsabandi Al-Kabbani), saat itu even pengajian dilaksanakan pada tahun 2010 di kediaman Habib al-Mundzir al-Musawwa Jakarta, di tengah akhir ceramanya beliau membagikan ijazah thoriqah tersebut kepada semua pendengar (mustami’), dan saya ada di dalam ruangan majlis tersebut. Saat itu juga, seakan musryidku, Syekh Ali Fahmi al-Huseni, yang dijuluki Pangeran Sugihrasa, yang kedudukannya berada di wilayah Cirebon, secara keghoiban beliau datang dan berkomunikasi dengan Syekh Hisyam yang sedang mengisi ceramah di atas podium yang lokasinya di Jakarta. 

Guruku, Syekh Ali Fahmi, lalu berkata, “.... wahai Syekh Al-Kabbani...., di majlis anda ada yang sudah punya thoriqah”. Langsung seketika Syekh Hisyam al-Kabbani, menarik kalimatnya, dengan berkata: “.... bagi yang sudah memiliki thoriqah, ijazah ini boleh mengambilnya sebagai tabarruk saja ya”. Di sisi yang bersamaan, mursyidku, Syekh Ali Fahmi juga berpesan kepadaku, dengan berkata: “jaga ideologi thoriqahmu”. Kalimat ini sangat jelas dan menggetarkan hati sanubariku. Padahal beliau, mursyidku, berada sangat jauh nan di sana, di Cirebon, sementara saya sedang berada di tempat kediaman Habib al-Munzir al-Musawwa.

Sebuah fakta lainnya. Ketika saya menghadiri ceramah pengajian Tabligh Akbar, yang diselenggarakan oleh Lembaga JATMAN NU Kabupaten Karawang pada tahun 2014 Masehi, dan di hadiri oleh para murid dari Kelompok Majlis Ta’lim Ahbabur Rosul Karawang yang dipimpin oleh ustad Alwi. Pengajian tersebut dilaksanakan di Masjid Agung Karawang Jawa Barat, dalam pengajian mengundang seorang ulama besar dari murid Syekh Nadim, yaitu Syekh Hisyam al-Kabbani (dari Thariqah Naqsabandiyah Haqqani), di awal ceramahnya, beliau mengatakan, bahwa beliau datang di Masjid Agung tersebut didampingingi  gurunya, Syekh Nadim al-Haqqoni (yang secara nyata sejak awal beliau hanya sendiri, di dampingi bersama murid-muridnya yang lain, tanpa diiringi sang syekh, sebab Syekh Nadim sudah sejak lama wafat), keduanya masuk ke masjid Agung Karawang dan disambut oleh seorang ulama Besar Pendiri Thoriqah Rifa’iyah, yaitu Syekh Rifa’i (yang secara nyata beliau juga sudah wafat, beliau hidup di zaman tahun 419 Hijryah, berarti wafatnya sejak seribu tahun yang lalu). 

Namun beliau, Syekh Hisyam menjelaskannya secara tegas, bahwa beliau pun merasa aneh kenapa Syekh Nadim gurunya juga ikut hadir saat masuk ke Masjid tersebut dan dia (Sekh Hisyam) disudutkan oleh gurunya untuk bersalaman dengan Syekh Rifai tersebut. Barulah kemudian bersalaman dengan tokoh ulama-ulama dari Karawang lainnya yang hadir saat itu.

Kemudian, Syekh Hisam melanjutkan ceramah umumnya kepada murid-muridnya dan kepada semua mustami’ yang hadir saat itu, dengan tema fadilah shalawat, dan sekaligus sebagai akhir ceramahnya beliau membagikan ijazah (umum untuk thoriqah) tersebut kepada semua mustami’.

Untuk menguatkan realitas ini, kiranya kita perlu fakta lain. Saya punya seorang sahabat, saya begitu dekat dengannya. Suatu waktu, pada malam hari, di pertengahan bulan Mei 2021 Masehi, saya bersama sahabat saya (sebut saja Ahmad, bukan nama sebenarnya) duduk bersama di depan teras Masjid Agung Karawang, sambil santai ia bersama saya saling tegur sapa secara harmonis, dalam sebuah perbincangan, ia berkata kepada saya, 

“Dua hari yang lalu saya dijumpai oleh seorang yang mengaku dirinya Syekh Idhofi, yang makamnya ada di lingkungan Masjid Agung Karawang. Orang itu bertanya kepada saya, katanya: “Taukah kamu, siapa saya? Nama saya Syekh Idhofi. Kamu tahu tidak nama ini? Jika tidak tahu siapa nama ini, coba tanyakan kepada orang tua itu”. Dia menunjuk Mbah Gembol, nama panggilan seorang, yang selalu menjaga makam Syekh Abdur Rahman di Masjid Agung Karawang. langsung sahabat saya itu menanyakan tentang nama yang dimaksud kepadanya. Jawab Mbah Gembol, “Syekh idhofi adalah Kakek Syekh Syarif Hidayatullah”.

Lalu sahabat saya itu, kembali menghampiri orang ghoib tersebut, lalu orang itu berkata, “Bagaimana sudah tau sekarang tentang saya”. Sahabat saya menjawab, “ya”. Lalu, sahabat saya melanjutkan ceritanya, “Kemudian pada tengah dialognya dia memberi nasihat kepadaku”. Katanya, “Kamu Cuma sakit badan saja, ruhaniyah kamu masih tetap baik, sama sekali tidak terjadi apa-apa. Sudahlah, mulai saat ini kamu banyak diam, jangan banyak berkata-kata...., perbanyak tawakkal kepada Allah, ya, ...dst”.

Cerita sahabat saya tersebut sebenarnya sangat panjang, namun saya hanya mengutip bagian intinya saja. Demikian, sekelumit pertemuan antara sahabat saya (yang hidup zaman kini dengan Syekh Idhofi, yang sudah wafat sejak lebih kurang 500 tahun yang lalu), sebuah realitas tentang dialog antara Syekh Idhofi, sebagai orang ruhani bisa terjadi dan bisa berdialog langsung dengan sahabat saya sebagai seorang jasmani, yang masih hidup.

 

Fenomena dan realitas semacam ini di kalangan para pengamal thoriqoh sangat banyak terjadi, namun demikian, walau banyak terjadi, tidak semua orang mampu melakukan itu kecuali yang dianugrahi keistimewaan fenomenal tersebut. Mampukah kita melakukan dan memiliki kemampuan tersebut? Setiap diri kita punya peluang untuk mampu memiliki kapasitas semua itu, akan tetapi masalahnya di sini adalah mekanisme apa yang dilalui para sufi yang berhasil menembus batas alam spiritual tersebut? Sebelum membahas pertanyaan ini, terlebih dahulu kita perlu memahami apa yang dimaksud alam oleh para pengamal thariqoh atau kelompok kaum sufi.


Alam, jika ditilik secara kebahasaan, alam berasal dari akar kata alima - ya’lamu - ilman, berarti mengetahui. Prof Dr Nasaruddin Umar mencoba mengupas kata ini, menurutnya, alam berasal dari akar kata yang terbentuk kata ‘alam, yang artinya tanda, petunjuk, atau bendera; dan ‘alamah yang bermakna alamat atau sesuatu yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya’lamu al-syai).


lebih lanjut dikatakan bahwa, dalam perspektif tasawuf, alam adalah segala sesuatu selain Allah SWT (ma siwa Allah). Alam adalah tanda yang menunjuk kepada (adanya) Allah. Alam juga memberikan kesadaran dan pengetahuan. Alam meliputi seluruh universalitas (kulliyyat) alam dengan segenap bentuknya secara ijmali/undifferentiated.


Alam dalam format ilmu filsafat, dikenal dengan istilah al-’aql al-awwal (the first intellect). Dari sini, Allah sebagai al-Rahman dimanifestasikan. Di sisi lain, alam mencakup pula hakikat seluruh partikularitas (juziyyat) secara tafshili (differentiated) yang terkandung di dalam al-’aql al-awwal/the first intellect. Nama Allah sebagai Al-Rahim dimanifestasikan. Pendapat ini juga banyak diakomodasi di dalam kitab-kitab tafsir, terutama dalam menjelaskan perbedaan konteks antara al-Rahman dan al-Rahim dalam ayat pertama dan ketiga dari surah Al-Fatihah: Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (al-Rahman al-Rahim).


Seorang manusia yang menggabungkan kedua karakter alam di atas biasa disebut manusia paripurna (insan kamil), karena secara ijmal (undifferentiated) menjadi bagian dalam martabat ruh, dan secara tafshil (differentiated) bagian dalam martabat qalb. Insan kamil menjadi sebuah alam universal yang merepresentasikan keseluruhan nama-nama Allah. Ia sudah menjadi manivestasi (madzhar) nama-nama Allah.


Menurut pandangan perspektif tasawuf, alam tidak terbatas hanya dalam dua bentuk, yaitu dengan meminjam istilah Muhammad Abduh, ‘alam syahadah dan ‘alam gaib, tapi alam bisa tak berbatas. Sebab, berbicara tentang alam berarti  mencakup pula kehadiran Ilahiyah universal (al-hadharat al-kulliyyat, atau ilmuan Erofah menyebutnya universal divine presences), yang di antaranya ada yang lebih dekat ke alam syahadah mutlak, dan lainnya lebih dekat ke alam gaib mutlak.


Alam sering juga digunakan dalam dua konteks, yaitu alam secara keseluruhan (semua kecuali Allah) dan alam dalam konteks tingkatan alam, seperti ‘alam al-mulk, ‘alam al-mitsal, ‘alam al-malakut, dan ‘alam jabarut. Masing-masing alam ini mempunyai penghuni. Manusia bisa mengakses dan sekaligus menjadi bagian dari alam-alam tersebut bersama dengan makhluk-makhluk spiritual lainnya seperti malaikat dan jin. Hal itu dapat dilakukan, tentu saja jika manusia itu mampu menyingkap tabir rahasia yang selama ini menghijab dirinya.


Manusia, secara fitrahnya, di alam dunia ini berada di alam malakut dan dalam keadaan tertentu ia bisa mengalami transformasi spiritual ke alam-alam lain, tentu saja, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki atau diberikan kepadanya oleh Allah. Mengenai tingkatan-tingkatan alam ini lebih banyak digunakan dalam konteks kedua, yakni tingkatan alam spiritual.


Di dalam setiap tingkatan alam, Allah (Al-Haq) selalu mengindikasikan kehadiran-Nya, sehingga tidak ada suatu ruang, waktu, dan dimensi yang bebas dari cakupan Allah. Meskipun dikenal berbagai tingkatan, pada hakikatnya tetap hanya satu kehadiran, yakni kehadiran Ilahiyyah (al-hadharat al-Ilahiyyah).


Ketunggalan kehadiran Ilahiyyah termanifestasi di dalam apa yang disebut oleh para sufi dengan tauhid al-Dzat, tauhid al-Shifat, dan tauhid al-Af’al. Dalam konteks ini, Ibnu Arabi, salah seorang sufi yang berlatar belakang seorang filsuf, terlihat merasa kesulitan membedakan secara skematis antara alam dan Al-Haq.


Karena menurutnya, keseluruhan alam ini tak lain adalah madzhar, atau lokus manifestasi-Nya. Bagi Ibnu Arabi, bukan hal yang mustahil untuk berguru kepada para penghuni alam lain. Bahkan, manusia bisa langsung berkomunikasi dan berguru kepada Al-Haq.


Ibnu Arabi beralasan, Al-Haq adalah bagian inmanen dalam diri manusia sebagai alam mikrokosmos, bukannya Ia (Allah) transenden seperti banyak digambarkan oleh ulama fikih, Allahu a’lam. Secara sederhana, tingkatan alam yang akan menjadi objek pembahasan di sini ialah alam mulk, alam mitsal, alam malakut, dan alam jabarut.


Untuk berinteraksi dan saling memberi manfaat atau mengambil manfaat atau berguru kepada para penghuni alam-alam tersebut, pengenalan mendalam mengenai alam-alam itu perlu dilakukan. Sebab, bagaimana mungkin bisa mengakses sekaligus belajar kepada para penghuninya jika alamnya sendiri tak dipahami dengan baik. Setiap alam harus diketahui fenomena dan karakternya, dan insya Allah akan dibahas dalam artikel-artikel tersendiri.


Selain itu, hal yang paling penting adalah manusia sepatutnya mengenal dirinya sendiri dulu secara mendalam. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal lebih jauh alam lain tanpa didahului mengenal diri sendiri atau alam di mana kita tinggal. Apalagi, rahasia Tuhan di dalam diri kita sungguh sangat besar.


Oleh karena itu, sebelum menyingkap hijab-hijab yang ada di alam lain, yang harus disingkap lebih dulu adalah hijab yang ada dalam diri kita. Selanjutnya menyingkap hijab di alam kita, kemudian alam-alam lainnya. Terkait hal ini, pernyataan Rasulullah yang sering dikutip para sufi adalah Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (Barangsiapa yang memahami dirinya, ia dapat memahami Tuhannya).


Prof. Syuhudi Ismail menyatakan bahwa, para ulama hadits menganggap pernyataan itu bukan hadits. Kalangan sufi seolah sudah mengkonfirmasikan langsung kepada Rasulullah akan keberadaan hadits ini. Hadits ini berulang-ulang dikutip di dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan kitab-kitab karya Ibnu Arabi.


Dari hadits ini diketahui bahwa kompleksitas dan rahasia di dalam diri manusia berlapis-lapis. Setelah mengenal alam-alam spiritual dan rahasia besar yang ada di dalam diri manusia, langkah berikutnya adalah bagaimana melakukan upaya sungguh-sungguh untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Inilah langkah awal memulai untuk mendapatkan kemampuan menjelajah alam-alam ulwiyah langit spiritual.

 

Kedekatan ini menjadi prasyarat untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan Allah (Al-Haq). Diperlukan mursyid untuk membimbing kita agar jangan salah alamat dalam mencari dan menemukan objek yang dituju. Seseorang yang mulai memasuki dunia pencarian spiritual menempuh jalan khusus, itulah yang disebut murid atau salik.

 

lebih lanjut, kemudian, para murid itu akan menjalani berbagai latihan spiritual (riyadhah) secara konsisten sampai mereka menembus berbagai lapis alam dan menyingkap beragam hijab rahasia. Murid yang berhasil menembus batas dan menyingkap tabir disebut mukasyafah, yakni prestasi spiritual yang berhasil dicapai orang-orang yang terpilih oleh Allah. Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk mencapai harapan yang kita cita-citakan ini. (Ubes Nur Islam dari berbagai sumber)

Comments