BUKTI KEESAAN ALLAH SWT DI ALAM SEMESTA

 BUKTI KEESAAN ALLAH SWT

DI ALAM SEMESTA

Oleh: Ubes Nur Islam

 

Alternatif & SolusiUntuk memperkuat iman dan aqidah, salah satunya adalah dengan mempelajari ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam alam semesta yang telah dibuktikan melalui ilmu pengetahuan oleh para ilmuwan serta dibenarkan oleh Al-Qur’an.


Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan hadits memberikan pandangan komprehensif dan metode terpadu dalam membangun aqidah yang murni dengan cara memaparkan bukti-bukti dan fakta yang jelas di alam raya ini melalui ayat-ayat kauniyah-Nya. Jika dikaitkan dengan materi pendidikan Islam, ilmu pengetahuan (sains) menjadi perangkat untuk menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits, seperti halnya ilmu bahasa dan ushul fikih yang juga menjadi perangkat untuk menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an di bidang ilmu keagamaan, dalam rangka membentuk keimanan dalam diri seorang muslim.

 


Al-Qur’an dalam hal ini menjelaskan dengan nyata, bahwa seluruh alam raya adalah “ayat-ayat kauniyah”, yakni semacam “buku sains”, yang menunjukkan sekaligus bukti rasional atas eksistensi dan wujud dan keesaan Allah, sehingga merenungkan fenomena alam dan mengenal hukum Allah (snnatullah) yang berlaku di alam semesta akan membuahkan keimanan yang kuat dan rasa takut kepada Allah.


Di dalam Al-Qur’an banyak disebut langit dan bumi, matahari, bulan dan rotasinya, timur dan barat, galaksi, bintang dan planet, gejala siang dan malam, fajar dan senja, gelap dan terang, laut, sungai, mata air, angin, awan tebal yang mengandung hujan, kilat, gunung. Disebutkan pula bermacam-macam hewan seperti laba-laba, semut, nyamuk, sapi betina, lebah, unta, burung yang berbaris, dan sebagainya.

 

Menurut Harun Yahya (2005:1-2) seseorang yang mengamati apapun yang terjadi di sekitarnya, dan tidak berusaha membatasi pandangannya, akan menemukan horison yang terbentang luas di hadapannya. Dia akan mulai berpikir mengajukan pertanyaan “mengapa”, “bagaimana”, “untuk apa?” lebih sering dari  sebelumnya, dan dia akan mengamati dunia di sekelilingnya dengan sudut pandang ini. Penjelasan-penjelasan yang selama ini diperolehnya, tidak akan memuaskannya. Pada akhirnya dia akan melihat bahwa alam semesta dan isinya telah diciptakan¸ dirancang dan direncanakan secara sempurna oleh Allah. Pada saat itulah dia akan menyadari bahwa kekuasaan dan kehendak Allah meliputi seluruh makhluk yang Dia ciptakan ini, sebagaimana firman Allah berikut.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tandatanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS Al Baqarah: 164)


1. Keajaiban penciptaan langit dan bumi sebagai bukti wujud Allah

Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintangbintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya.

 

Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” pengamat. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.

 

Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi pengamat, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang”. Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa ‘titik tunggal’ ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki ‘volume nol’, dan ‘kepadatan tak hingga. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.


Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini
dinamakan ‘Big Bang’, dan teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa ‘volume nol’ merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep ‘ketiadaan’, yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai ‘titik bervolume nol’. Sebenarnya, ‘sebuah titik tak bervolume’ berarti ‘ketiadaan’.


Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20, telah dinyatakan dalam Alqur’an 14 abad lampau: “Dia Pencipta langit dan bumi” (QS. AlAn’aam, 6: 101)


Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain. Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang ‘seharusnya ada’ ini pada akhirnya diketemukan.


Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert
Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut ‘radiasi latar kosmis’, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.


Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background
Explorer (COBE). COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penzias dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.

 

Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian,  diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.

 

Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat, Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekalikali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (QS. AlMulk:3).

 

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al Anbiya:30)


Kata “ratq” yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq” (Ahmad Fuad Pasya, 2004:49).


Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, dapat dipahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belum diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya  untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

 

Ketika membandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan dipahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuanpenemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.


Selanjutnya, mengenai ekspansi alam semesta ini, yang
menaburkan materi paling tidak sebanyak 100 milyar galaksi yang masing-masing berisi rata-rata 100 milyar bintang itu, Al- Qur’an menyatakan dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 47:

Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa

 

Harun Yahya (2002) menambahkan, di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.

 

Misalnya bumi berotasi pada sumbunya dengan kecepatan ratarata 1.670 km/jam, dengan mengingat bahwa peluru tercepat memiliki kecepatan rata-rata 1.800 km/jam, jelas bahwa bumi bergerak sangat cepat meskipun ukurannya sangat besar. Adapun tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.


Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita
berada di ujung tanduk. Namun ternyata sistem alam ini dan segala sesuatu yang berada di dalamnya, tidak dibiarkan “sendiri”, dan system ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.


2. Fenomena tentang Laut

Menurut Mutawalli (1989), gambar-gambar yang diambil dengan kamera canggih menunjukkan bahwa kondisi lautan dunia tidak seluruhnya sama dan serupa. Padanya ada perbedaan-perbedaan dalam hal suhu, kadar garam, konsentrasi, dan kadar oksigen. Ada yang berwama biru tua, ada yang hitam, dan ada pula yang kuning. Perbedaan wama itu disebabkan oleh adanya perbedaan suhu antara satu lautan dengan yang lainnya. Dan dengan pengambilan gambar khusus untuk mengukur suhu melalui satelit dan pesawat ruang angkasa terlihatlah garis putih tinggi yang memisahkan antara satu lautan dengan lautan lainnya. Firman Allah SWT:

 

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya Kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing (QS. Ar-Rahman 19-20)

 

Menurut Ahmad Fuad Pasya (2004:149), kata maraja yang terdapat dalam ayat di atas berarti percampuran yang tidak menyatu secara sempurna. Sedangkan kata bahr dalam bahasa Arab, selain digunakan untuk arti laut juga digunakan untuk arti sungai meskipun sungai berbeda dari air laut dari segi airnya, kepadatannya dan tingkat garamnya.


Teknologi modern telah mampu mengambil gambar sekat
(pemisah) antara laut yang satu dengan laut lainnya. Apabila ada air suatu lautan akan memasuki lautan lainnya, air tersebut harus melalui jalur pemisah terlebih dahulu. Selain itu, lautan yang satu tidak dapat leluasa menguasai lautan lainnya, dan juga tidak dapat mengubah atau merusak kondisinya.


Ditambahkan oleh Ahmad Fuad Pasya (2004:151-152), bentuk
kawasan pembatas kedua jenis air itu bergantung pada volume dan kecepatan air yang memancar ke muara. Secara umum, tingkat ketawaran air sungai yang memancar ke muara di laut terus berkurang. Sebaliknya, air teluk yang mempunyai tingkat kepadatan dan keasinan yang tinggi  memancar ke air laut yang mempunyai tingkat keasinan lebih kecil. Di antara contoh gejala air seperti ini adalah mata air tawar yang keluar di dekat Bahrain dan Qatar di perairan Teluk Arab yang asin, Sungai Nil yang bermuara di Laut  tengah, dan air Sungai Amazon yang bermuara di Laut Atlantik. Semua itu merupakan tanda kekuasaan Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu

 

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.


Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak
merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. (QS. Al Baqarah:255)


3. Fenomena tentang Gunung

Mutawalli (1989) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa gunung-gunung mempunyai akar yang menghunjam (dalam) ke tanah. Pada periode sebelumnya, fenomena ini tidak dikenal orang, dan pada peta-peta ilmu bumi pun tidak terlukis adanya akar-akar gunung yang menghunjam ke dalam tanah. Tetapi gambar yang diambil akhir-akhir ini menunjukkan adanya pasak-pasak gunung yang disebut akar, yang menghunjam jauh ke perut bumi. Dengan demikian tepatlah keajaiban firman Allah:

 

Bukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, Dan gunung-gunung sebagai pasak?(QS. An Naba:6-7)


Harun Yahya (2002) menambahkan bahwa informasi yang
diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al-Qur’an. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu. Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah magma menghancurkan kerak bumi.


Dari sisi lain, menurut Ahmad Fuad Pasya (2002:119), kalangan
mufasir dengan cerdas menangkap makna yang terkandung di balik kata rawasi (menancap) yang disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an untuk sifat gunung serta hubungannya dengan keseimbangan bumi ketika bergerak atau berputar. Fakta ilmiah membuktikan bumi berotasi pada porosnya dan berevolusi mengelilingi matahari. Seperti diketahui, setiap benda yang bergerak atau berputar tidak akan berguncang kecuali jika terjadi pergeseran di sekitar porosnya. Bumi juga tidak berguncang ketika berputar, dan manusia tidak merasakannya. Dengan demikian, gunung yang menancap di bumi merupakan faktor penting dalam menjaga keseimbangannya.

 

Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan dia menciptakan) sungaisungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl:15)


Penyebutan gunung dan fungsi keberadaannya pada ayat di atas
menunjukkan salah satu tanda kekuasaan Allah sekaligus bukti keesaanNya dan keharusan manusia untuk beriman kepada-Nya.


4. Fenomena tentang Hujan

Harun Yahya (2002) menyatakan bahwa tahapan pembentukan hujan baru dapat dipelajari setelah radar cuaca ditemukan. Menurut radar, pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, pembentukanangin; kedua, pembentukan awan; ketiga, turunnya hujan. Yang tercantum di dalam ayat Al-Qur’an tentang pembentukan hujan sangatlah sesuai dengan penemuan ini:

 

Allah, dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (QS. Ar- Ruum : 48)


Tahap pertama: “Dialah (Allah) yang mengirim angin....”. Sejumlah besar gelembung udara terbentuk karena buih di lautan secara terus-menerus pecah dan menyebabkan partikel air disemburkan ke langit. Partikel yang kaya garam ini kemudian di bawa angin dan naik ke atmosfer. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, berfungsi sebagai penangkap air. Inilah yang akan membentuk titik-titik awan dengan mengumpulkan uap air di sekitamya, yang kemudian naik dari lautan sebagai tetesan kecil.


Tahap kedua: “...menggerakkan awan dan Allah  membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan menjadikannya bergumpal-gumpal.....” Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal garam atau partikel debu di udara. Karena tetesan air di awan sangat kecil (0,01 s/d 0,02 mm), awan menggantung di udara dan menyebar di langit, sehingga langit tertutup oleh awan.

 

Dalam hal ini, menurut Ahmad Fuad Pasya (2004: 164), Allah mengirim angin lalu menggerakkan awan, kemudian mengendalikannya dengan kelembutan-Nya dari satu tempat ke tempat lain, menyatukan awan-awan yang berpencar, memperbanyaknya, mengembangkannya, dan membentangkannya, menjadikannya bertumpuk-tumpuk sehingga membuka peluang terjadinya kilat, petir, dan hujan.

 

Dan Allah, dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, Maka kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu. (QS Fathir:9).


Tahap ketiga:”...lalu kamu lihat hujan keluar dari celahcelahnya.” Partikel air yang mengelilingi kristal garam dan partikel debu akan bertambah tebal dan membentuk tetesan hujan, sehingga tetesan hujan akan menjadi lebih berat daripada udara, dan mulai jatuh ke bumi sebagai hujan.


Seperti telah diketahui, hujan berasal dari penguapan air dan
merupakan penguapan air laut yang asin. Namun air hujan adalah tawar karena adanya hukum fisika yang telah ditetapkan oleh Allah.

 

Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar (QS. AlMursalat:27).


Berdasarkan hukum ini, dari manapun asalnya penguapan air, hujan yang
jatuh ke tanah selalu dalam keadaan murni dan bersih, sesuai dengan ketentuan Allah.

 

Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS Al Furqaan: 48)

 

Selain itu, hujan merupakan penyubur tanah yang sangat penting. Garam-garam mineral yang berasal dari penguapan air dan turun bersama hujan merupakan contoh pupuk konvensional (kalsium, magnesium,  kalium, dan lain-lain) yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Sementara itu, logam berat, yang terdapat dalam tipe aerosol, adalah unsur-unsur lain yang meningkatkan kesuburan pada masa perkembangan dan produksi tanaman.

 

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam (QS. Qaaf: 9).

 

Dengan cara seperti ini, 150 juta ton pupuk jatuh ke permukaan bumi setiap tahunnya. Setelah seratus tahun lebih, tanah tandus dapat menjadi subur dan kaya akan unsur esensial untuk tanaman, hanya dari pupuk yang jatuh bersama hujan. Hutan pun berkembang dan diberi “makan” dengan bantuan aerosol dari laut tersebut. Andaikan tidak ada pupuk alami seperti ini di bumi ini hanya akan terdapat sedikit tumbuhan,dan keseimbangan ekologi akan terganggu.


Menurut Harun Yahya (2002), dalam ayat kesebelas surat AzZuk
hruf, hujan didefinisikan sebagai air yang dikirimkan “menurut kadar”. Sudah tentu, hujan turun ke bumi dalam takaran yang tepat. Takaran pertama yang berhubungan dengan hujan adalah kecepatan turunnya. Benda yang berat dan ukurannya sama dengan air hujan, bila dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, akan mengalami percepatan terus menerus dan jatuh ke bumi dengan kecepatan 558 km/jam.

 

Akan tetapi rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam. Ini disebabkan titik-titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer. Andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan, bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter.

 

Pada kasus ini, satu tetes air yang jatuh akan memiliki efek yang sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 110 cm. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505X1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.

Comments