ESENSI IBADAH PUASA DALAM PRESPEKTIF ILMU KEDOKTERAN
ESENSI IBADAH PUASA
DALAM PRESPEKTIF ILMU KEDOKTERAN
Oleh: Ubes Nur Islam
Alternatif & Solusi - Keistimewaan bulan Ramadhan amat
luar biasa, sehingga setiap refleksi ibadah di bulan Ramadhan pahalanya
berlipat ganda, melakukan shalat fardu pahalanya sama dengan 70 kali lipat di
bulan lain. Melakukan shalat sunnat di bulan ini sama dengan shalat fardu di
bulan lain. Tidurnya orang berpuasa di bulan Ramadhan mendapat pahala, nafas
dan ngoroknya menjadi seperti ucapan wirid dan bertasbih. Dalam bulan Ramadhan
ini pula diwajibkan kaum mukminin yang sudah baligh atau mukallaf untuk
melaksakan ibadah puasa (shaum) selama satu bulan penuh.
Mungkin masih ada yang
bertanya-tanya, apa itu shaum (puasa), mengapa harus puasa di bulan Ramadhan
saja, lalu ada efek dan manfaat apa dari puasa itu sendiri? Dan masih banyak
pertanyaan lainnya. Manakala, jawabannya diambil dari dalil-dalil ajaran Islam,
tentu jawabannya normative, sesuai kaidah-kaidah hukum dan sumber ajaran Islam.
Tapi, kali ini kita akan menguak esensi puasa dalam prespektif ilmu kedokteran.
Agama Islam adalah agama
kesehatan, tidak sedikit al-Qur’an dan Hadits Nabi menjelaskan tentang makanan
yang bergizi, dan memberikan petunjuk-petunjuk mengenai aturan makan dan minum untuk
menjaga kesehatan. Hal ini sangat penting dalam kesehatan masyarakat muslim,
agar mereka menjadi masyarakat yang kuat, mampu bekerja, beribadah, dan
berjihad fi sabilillah.
Rasulullah dalam berbagai
hadits menerangkan pentingnya melakukan hal yang menjadi sebab hidup lebih
sehat. Salah satu diantara hal amaliah yang bisa menyehatkan tubuh adalah puasa
(shaum), sebagaimana hadits yang diriwayatkan berikut ini: SHUMMUU
TASHIHHUU, “Berpuasalah kamu, supaya kamu sehat” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Na’im dari Abu
Hurairah RA)
Menurut Dr. Abd Aziz Ahmad
Syaraf dalam kitabnya, Ash-Shaumu fi Ath-Thibbi wal Islami, bahwa puasa
dapat menyehatkan badan dari berbagai penyakit, diantaranya: 1) Kegemukan yang
berlebihan, dan pembengkakan darah hingga membeku di dalam pembuluh darah, 2)
Gout (arthritis), yakni penyakit pada persendian sebagai akibat dari zat
endapan zat asam air seni di dalam persendian tulang, 3) Penyakit batu ginjal,
yaitu penyakit yang disebabkan endapan zat garam, di dalam buah pinggang, yang
dapat menghablur di dalam ginjal, 4) Terjadinya tumpukan pasir dalam empedu,
penyakit ini dapat menyebabkan sakit perut dan sakit kepala, dan juga bisa
menaikkan tekanan darah yang disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi tidak
teratur atau berlebihan, 5) Mulas perut yang akut, yang banyak mengandung zat
asam. Dan masih banyak penyakit lainnya, yang hanya disembuhkan melalui therapy
puasa saja.
Rasulullah pernah bersabda: “Perut
itu ibarat tempat kediaman penyakit. Menjaga dan memelihara kesehatan adalah
pangkal segala pengobatan”. (HR Abu Ya’la dari ‘Aisyah RA)
Hadits di atas mengisyaratkan,
bahwa menjaga dan memelihara kesehatan tubuh dengan cara menjaga perut agar
ditata dan diurus, jangan sampai perut menjadi sumber penyakit. Dan ini artinya
hendaklah tidak terlalu banyak mengisi perut terlalu berlebihan, alias sering
melakukan therapy puasa.
Dalam kitab At-Tijaratur
Rahbihah, Syekh Ahmad Umar Thanthawi, menceritakan Ahnaf Bin Qais, seorang
cendekiawan di zaman tabi’in yang sering berpuasa, pernah ditanya oleh seorang:
“Hai Ahnaf, mengapa engkau selalu berpuasa, sedang usiamu sudah lanjut?” Ahnaf
menjawab, “Saya selalu berpuasa, karena saya telah bertanya kepada enam orang
ilmuan tentang enam perkara, maka semua jawaban mereka adalah al-ju’,
berlapar-lapar.”
Enam pertanyaan yang dimaksud Ahnaf
Bin Qais adalah sebagai berikut: 1) Saya bertanya kepada para dokter, tentang
obat yang paling manjur dalam penyembuhan. Mereka mejawab, al-ju’ (lapar), 2)
Saya bertanya kepada para hukama, tentang hal terbaik untuk memasuki pintu
ilmu. Mereka mejawab, al-ju’ (lapar), 3) Saya bertanya kepada para ulama,
tentang sesuatu hal terbaik untuk memelihara ilmu. Mereka mejawab, al-ju’
(lapar), 4) Saya bertanya kepada para ahli ibadah, tentang rahasia menjaga
ketekunan dalam ibadah. Mereka mejawab, al-ju’ (lapar), 5) Saya bertanya kepada
ahli zuhud, tentang sesuatu yang paling menguatkan dalam kezuhudan. Mereka
mejawab, al-ju’ (lapar), dan 6) Saya bertanya kepada para raja-raja, tentang
makanan yang paling lezat dimakan. Mereka mejawab, bahwa makanan paling lezat
ialah yang dimakan setelah al-ju’ (lapar).
Puasa dalam tinjauan dunia
kesehatan akan banyak membantu kita memamahi makna puasa dan esensinya, perintah Allah tentang puasa akan terkuak sangat nyata.
Menurut ahli gizi klinis pada Rumah Sakit Pertamina Jakarta, dr. Titi
Sekarindah MS.Sp.GK, berpendapat bahwa, puasa itu memang banyak manfaatnya bagi
kesehatan. Manfaat pertama, puasa memberi kesempatan kepada organ cerna untuk
istirahat sejenak, dengan puasa, organ ini mendapat jatah istirahat tambahan
sekitar 12-14 jam tiap hari selama bulan Ramadhan.
Kedua, puasa dapat
mengaktifkan mekanisme control gula darah. Pada siang hari, kadar gula darah
menurun karena taka da pasokan makanan, namun kondisi ini tidak berbahaya,
karena tubuh sudah dilengkapi dengan mekanisme control. Begitu kadar gula turun, tubuh akan
membongkar lumbung glikogen di organ hati yang akan dilepas ke dalam darah
sebagai glukosa. Berpuasa dapat mengaktifkan mekanisme control gula, sehingga
resiko terserang diabetes mellitus, kencing manis ikut berkurang.
Ketiga, puasa memberi
kesempatan untuk menurunkan berat badan, terutama bagi mereka yang kegemukan.
Saat makan kelebihan gula akan disimpan oleh liver dalam bentuk glikogen. Jika
kapasitas penyimpanan lumbung sudah terlewati, glukosa diubah menjadi lemak,
selanjutnya disimpan di bawah jaringan kulit.
Simpanan lemak akan menumpuk
jika makanan yang kita santap kaya lemak. Dengan puasa, tubuh membongkar
cadangan glikogen yang ada di liver. Jika cadangan glikogen menipis, tubuh akan
menggunakan timbunan lemak sebagai sumber energy. Kemudian, gudang timbunan
lemak akan berkurang, berat badan akan turun dan resiko penyakit akibat
kegemukan pun ikut menurun.
Di sisi yang sama, Sahid
Athar, seorang pengurus Clinic Associate Professor dari Indiana University School
of Medicine, Indianapolis, Amerika Serikat, mengungkap bahwa, bila puasa
dilakukan secara benar, bisa mengurangi resiko terhadap tingginya kadar lemak
darah, kolestrol, dan triglisenida.
Sebaliknya, adapun bagi
penderita sakit berat, seperti sirosis hati, jangan berpuasa, sebab mereka
tidak mempunyai lumbung glikogen. Ia sangat rentan terhadap penurunan kadar
gula darah. Termasuk penderita sakit mag, diabetes mellitus tipe lanjut, dan
hipertensi tidak dianjurkan berpuasa. Begitu juga, ibu hamil dan menyusui. Pada
tiga bulan pertama, dan tiga bulan ketiga, karena masa pembentukan organ-organ
penting bagi bayi, ibu hamil sebaiknya tidak berpuasa. Tetapi pada tiga bulan
kedua boleh puasa, asalkan kesehatannya bagus dan di bawah pengawasan dokter.
Islam sebagai agama yang
memudahkan dan meringankan para pemeluknya, walaupun pelaksanaan puasa di bulan
Ramadhan ini wajib bagi semua mukallaf, namun manakala mukallaf ini mengalami
fenomena alamiyah seperti penyakit berat, atau keadaan situasi dan kondisi
berat, seperti ibu hamil dan ibu menyususi atau ada kegiatan perjalan jauh dan
melehkan (musafarah), atau keadaan fisik sudah tua renta, maka ibadah puasa
boleh ditunda pada waktu di luar bulan Ramadhan, atau digantikan dengan fidyah,
sebagai refleksi rukhsoh dari ajaran agama Islam.
Ibadah puasa dalam Islam
banyak mengandung hikmah, diataranya untuk meningkatkan kualitas nilai
kemanusian dirinya sebagai makhluk insani, melatih manusia memiliki sifat
khasyyah (takut) kepada Tuhannya, memecahkan ketajaman syahwat, melatih rasa
social dan kasih sayang antar sesamanya, melatih rasa cinta keadilan dan
kesamaan derajat, membiasakan diri untuk hidup teratur dalam segala kegiatan,
termasuk makan dan minum, dan melatih membiasakan hidup sehat secara pisik
jasmani dan psikis rohani.
Semoga kita mampu melaksanakan
pengayaan diri dengan berbagai amal kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT di
bulan Ramadhan ini, sehingga kita meraih predikat mukminin muttaqin dan
mendapatkan jaminan kesehatan jasmani dan rohani, serta mendapat kedudukan
mardhatillah dan maghfirah di sisi Allah SWT. (selesai)



Comments
Post a Comment