HIKMAH DAN RAHASIA WAKTU DALAM MAWAQIT SHALAT Bagian 1
HIKMAH DAN RAHASIA WAKTU
DALAM MAWAQIT SHALAT
Bagian 1
Ubes Nur Islam
Waktu Alam Semesta dalam Putaran Siang dan Malam
Alternatif & Solusi - Perputaran dan atau pergantian antara waktu, datangnya siang dan hilanglah malam atau sebaliknya, datang malam hilanglah siang merupakan suatu yang sangat menakjubkan. Kini, para ilmuwan mencoba menemukan bahwa tumpang tindihnya malam dengan siang hari merupakan proses yang sangat kompleks, karena itu mereka menggunakan teknologi muthakhir, melalui satelit dan komputer untuk mempelajari proses yang menakjubkan ini. Mereka menemukan bahwa malam masuk pada siang, dan waktu siang masuk pada waktu malam, dan proses ini berlangsung selama 24 jam non-stop.
![]() |
| gambar putaran waktu, diambil dari by Yusuf Alam Ramadhan |
Selama sepanjang sejarah peradaban manusia, fenomena peralihan tersebut tak pernah dikaji dan dibicarakan, belum pernah ada penelitian mutakhir dilakukan atau adanya informasi yang memberikan petunuk tentang fenomena tersebut, kecuali setelah adanya wahyu yang turun kepada Rasulullah, Muhammad SAW, yakni selama 14 abad yang lalu, bahwa siang dan malam silih berganti secara terus-menerus dan bahwa proses ini merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang perlu direnungkan?
Realitas ini telah digambarkan oleh Al-Quran
dalam firman Allah, “Yang demikian
itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang
dan memasukkan siang ke dalam malam.” (QS. Al-Hajj: 61).
Apa hikmah yang bisa kita petik dari pergantian siang dan malam? Bagi kaum
muslimin, setiap fenomena alam merupakan tanda kauniyah yang dapat diambil
sebuah kesimpulan sebagai hikmah. Bahwa pergantian siang dan malam ternyata
bukan hanya sekedar fenomena menakjubkan, akan tetapi memiliki makna yang
sangat dalam. Salah satunya, hikmah pergantian waktu tersebut adalah jeda untuk
hitungan rule (ukuran) dan value (nilai) dari evaluasi pola kerja dan tindak
laku bagi kehidupan manusia. Pola tindak kehidupan manusia tidak bisa lepas
dengan takaran waktu yang kemudian akan menghasilkan efek dan konsekwensi
antara hubungan waktu dan pola tindaknya.
Pola tindak yang dimaksud adalah pola laku tindak yang bernuansa
dan bernilai ubudiyah ilahiyah. Dalam kaitan itu, kemudian dalam putaran siang
dan malam, Allah jadikan step-step kehidupan manusia dibagi menjadi 5 (lima)
putaran waktu dalam sehari semalam, yakni setiap mukmin harus melakukan lima
tindakan ubudiah dalam sehari semalam, berupa shalat lima kali. Proses lebih
lanjut, berjalannya waktu siang dan malam akan berlanjut ke putaran minggu,
bulan dan tahun. Semua hitungan waktu tersebut memiliki efek dan konsekwensi
bagi para mukminin untuk mampu menerima realitas waktu dan sekaligus mampu
melakukan tidakan ubudiyah kepada zat pencipta waktu, Allah Azza wajalla.
Ketentuan Waktu-waktu dalam Ibadah Shalat 5 Waktu
Ibadah shalat dianggap sah dikerjakan apabila telah masuk
waktunya. Dan shalat yang dikerjakan pada waktunya ini memiliki keutamaan
sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut ini.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: Aku pernah bertanya
kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai
oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian amalan apa?”
tanya Ibnu Mas`ud. “Berbuat baik kepada kedua orangtua,” jawab beliau. “Kemudian
amal apa?” tanya Ibnu Mas’ud lagi. “Jihad fi sabilillah,” jawab
beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 248)
Sebaliknya, bila shalat telah disia-siakan untuk dikerjakan pada
waktunya maka ini merupakan musibah karena menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seperti yang dikisahkan
Az-Zuhri rahimahullahu, ia berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik di
Damaskus, saat itu ia sedang menangis. Aku pun bertanya, ‘Apa gerangan yang
membuat anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui ada suatu amalan
yang masih dikerjakan sekarang dari amalan-amalan yang pernah aku dapatkan di
masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya shalat ini saja. Itupun
shalat telah disia-siakan untuk ditunaikan pada waktunya’.” (HR. Al-Bukhari no.
530)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat
itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.”
(An-Nisa`: 103)
Ada beberapa hadits yang merangkum penyebutan waktu-waktu
shalat. Di antaranya hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma,
ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waktu
shalat (yang lima), beliau pun menjawab, “Waktu shalat fajar adalah selama
belum terbit sisi matahari yang awal. Waktu shalat zhuhur apabila matahari
telah tergelincir dari perut (bagian tengah) langit selama belum datang waktu
Ashar. Waktu shalat ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh
(tenggelam) sisinya yang awal. Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah
tenggelam selama belum jatuh syafaq1. Dan waktu shalat isya adalah sampai
tengah malam.” (HR. Muslim no. 1388)
Pada saat datangnya masing-masing waktu tersebut, Rasulullah selalu didatangi Malaikat Jibril untuk bersama-sama melaksanakan ibadah shalat sesuai datangnya waktu-waktu, bershalat secara berjamaah. Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi menegaskan fenomena tersebut, sebagaiman dikutip dari Shahiih: [Irwaa’ul Ghaliil (250)], Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani) (II/241 no. 90).
Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu,
bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah didatangi Jibril
Alaihissallam lalu ia berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
“Bangun dan shalatlah!” Maka beliau shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir.
Kemudian Jibril mendatanginya lagi saat ‘Ashar dan berkata, “Bangun dan
shalatlah!” Lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Ashar ketika
bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya. Kemudian Jibril mendatanginya
lagi saat Maghrib dan berkata, “Bangun dan shalatlah.” Lalu Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Kemudian
Jibril mendatanginya saat ‘Isya' dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu
beliau shalat ‘Isya' ketika merah senja telah hilang. Kemudian Jibril
mendatanginya lagi saat Shubuh dan berkata, “Bangun dan shalatlah!” Lalu Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat Shubuh ketika muncul fajar, atau Jabir
berkata, “Ketika terbit fajar.”



Comments
Post a Comment