KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

 

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

 oleh : Ubes Nur Islam


Alternatif & Solusi - Umat Islam selayaknya memahami keutamaan atau fadhilah dari setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan. Menurut para ulama pemahaman terhadap keutamaan dalam melaksanakan setiap amal shaleh akan menjadi penyemengat sekaligus akan mendorong kepada peningkatan ketaqwaan seseorang.

 

Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memiliki beberapa keutamaan atau manfaat seperti berikut ini:



Ramadhan Bulan Diturunkannya Al-Qur’an. Ramadhan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran). Diturunkannya Al-Quran pada bulan Ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman yang artinya : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

 

Di ayat lain Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar” (QS. Al-Qadar: 1). Dan banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya bulan Ramadhan dijuluki dengan nama syahrul quran (bulanAl-Quran).

 

Bulan Penuh Keberkahan. Bulan ini disebut juga dengan bulan syahrun mubarak. Hal ini adalah berdasarkan pada dalil hadist Nabi Rasulullah SAW yang artinya :”Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Dan juga bahwa setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya.

 

Dan di dalam bulan penuh kemuliaan dan keberkahan ini maka tidak hanya keberkahan di dalam menuai pahala, namun banyak keberkahan lainnya. Puasa ditinjau dari aspek ekonomi, maka Ramadhan memberi keberkahan ekonomi bagi para pedagang dan lainnya. Bagi fakir miskin, Ramadhan membawa keberkahan tersendiri. Pada bulan ini seorang muslim sangat digalakkan dan disunnah untuk berinfaq dan bersedekah di bulan ramadhan kepada mereka. Bahkan diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mereka.

 

Malam Lailatul Qodar. Kemuliaan bulan ramadhan salah satunya adalah dengan hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di bulan ramadhan yaitu malam lailatul qodar. Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan adalah saat diturunkannyaAlQur’anul Karim.

 

Allah Ta’ala berfirman yang artinya :”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”(QS.AlQadr:1-3).

 

Bulan Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa Maghfirah. Allah Ta’ala menyediakan Ramadhan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi saw bersabda yang artinya: ”Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim).

 

Melalui berbagai aktifitas ibadah di bulan Ramadhan Allah Swt menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Saw yang artinya : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR.Bukhari dan Muslim).

 

Begitu pula dengan melakukan shalat malam (tarawih, witir dan tahajud) pada bulan Ramadhan dapat menghapus dosa yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya : “Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadhan (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR.BukharidanMuslim).

 

Ramadhan Pintu Surga Dibuka Pintu Neraka Ditutup. Keberkahan kemuliaan di dalam bulan Ramadhan adalah bahwa pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup serta syaithan-syaithan diikat. Dengan demikian, Allah Ta’ala telah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk masuk surga dengan ibadah dan amal shalih yang mereka perbuat pada bulan Ramadhan.

 

Mengingat berbagai keutamaan Ramadhan tersebut di atas, maka sangat disayangkan bila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja, tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih. Semoga ramadhan tahun ini akan lebih baik dalam hal amalan ibadah daripada tahun-tahun sebelumnya.

 

Puasa Ramadhan Sebagai Wujud Ketaatan dan Peningkatan Kualitas Diri. Puasa atau dalam bahasa arab disebut shaum atau shiyam yang berarti menahan diri, pada dasarnya bersifat universal. Saudara-saudara kita yang beragama lain bahkan penganut aliran kepercayaan sekalipun melaksanakan puasa. Demikian pula umat bangsa-bangsa sebelumnya seperti bangsa Mesir kuno yang menyembah berhala, bangsa Yunani dan bangsa Romawi juga melaksanakan puasa.

 

Puasa Ramadhan memiliki keutamaan yang berbeda dengan puasa-puasa lainnya, baik yang dilakukan non muslim maupun muslim. Puasa Ramadhan adalah puasa yang diperintahkan Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah Surat Al Baqarah ayat 183 :

 

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”).

 

Untuk melaksanakan puasa Ramadhan banyak syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi, termasuk reward (pahala) dan punishment (dosa) bagi mereka yang melaksanakan dan meninggalkannya.

 

Puasa Ramadhan sebagaimana namanya hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan tidak dapat dilaksanakan pada bulan lain, kecuali untuk meng-qadha. Puasa harus dimulai dengan niat pada malam sebelum puasa, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari; dilarang makan, minum, bersetubuh pada waktu puasa; diwajibkan kepada yang beragama Islam, berakal, balig, suci, dll.

 

Bagi mereka yang melaksanakan puasa Ramadhan, Allah SWT menjanjikan pahala yang berlimpah. Disamping keutamaan-keutamaan puasa, dalam bulan Ramadhan Allah SWT juga menjanjikan pahala yang berlipat untuk ibadah atau perbuatan baik lainnya.

 

Bagi mereka yang meninggalkan puasa karena suatu alasan yang dibenarkan, Allah SWT mewajibkan untuk menggantinya di waktu lain, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu melaksanakan puasa mereka wajib membayar fidyah (Al Baqarah : 184-185). Bagi mereka yang sengaja tidak melaksanakan puasa tanpa suatu alasan yang dibenarkan akan mendapat dosa.

 

Ketentuan-ketentuan Allah SWT mengenai puasa Ramadhan yang demikian sempurna mengisyaratkan kemuliaan dan pentingnya puasa bagi orang yang beriman, yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Dengan demikian puasa Ramadhan memiliki makna ketaatan mahluk pada Penciptanya karena dengan berbagai persyaratan yang ditentukan dengan ikhlas kita tetap melaksanakannya dan sekaligus menjadi media untuk meningkatkan kualitas diri, yaitu dengan shaum dari perbuatan yang tidak baik, tetapi memperbanyak perbuatan baik.

Melalui puasa semoga kita menjadi manusia yang taat dan berkualitas.

 

Ramadhan sebagai Madrasah Ruhaniah. Ubadah bin Al Shamit menceritakan: Pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menceritakan: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatnya”. Ketika sahabat-sahabatnya berkata “Na’am ya Rasulullah”, kemudian Rasul berkata: “Engkau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, engkau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya (Al-Tagrib wa Al Tarhib 3:342).

 

Sungguh, ajaran Rasulullah sangat mulia. Secara manusiawi, kita akan sulit memaklumi orang yang menentang kita, memaafkan orang yang justru telah menganiaya kita, atau memberikan rezeki kepada orang yang telah mengharamkan hartanya untuk kita dan kita menyambungkan kasih sayang persaudaraan kepada orang yang sudah memutuskannya. Justru karena kesulitan itulah kemudian Allah mengangkat derajat kita lebih tinggi.

 

Kita akan menjadi manusia biasa jika kita tentang orang yang menentang kita, kita balas dengan aniaya kepada orang yang menganiaya kita; atau kita haramkan juga harta kita kepada mereka yang telah mengharamkan hartanya untuk kita; serta kita jauhi mereka yang telah memutuskan silaturahim dengan kita.

 

Dalam konsep psikologi komunikasi dikenal dengan “homeophaty” yaitu menciptakan suatu kondisi yang kontras dengan keadaan agar mencapai suatu keseimbangan psikologis. Dalam keseharian, jika kita mengalami kondisi stres, maka kita kemudian mensugesti diri kita dengan ungkapan tenang dan rileks. Jika kita mengalami cacian dan hinaan yang menyakitkan, maka kita balas cacian dan hinaan itu dengan kalimat pujian dan penghargaan, maka secara psikologis kita akan mengalami keseimbangan. Tindakan itu sulit kita lakukan, akan tetapi jika kita berhasil melakukannya maka secara psikologis kita akan jauh lebih sehat dan lebih berfikir positif.

 

Kesehatan jiwa karena tindakan dan ucapan kita bukan sebagai sebuah pemberian dari orang lain, melainkan kita ciptakan, kita bangun dan kita pelihara. Para motivator atau para konsultan kejiwaan melalui seminar atau jaringan media sosial seringkali memberikan sugesti positif agar kita selalu berfikir positif dan optimistis, padahal sejak 1500 tahun lalu Rasulullah telah mengajarkan nilai-nilai positif ini dalam keseharian kita dengan prinsip homeophaty ini.

 

Kondisi homeophatis kita alami pada bulan Ramadhan ini. Seringkali kita berhasil menahan amarah kita kepada orang lain dengan ucapan karena sedang puasa, atau ungkapan spontan “untung sedang puasa” ketika kita tidak mengumbar amarah kepada situasi yang memungkinkan kita melakukannya.

 

Secara biologis kita haus dan lapar, sementara minuman dan makanan tersedia di siang hari, karena tubuh dan jiwa kita dipersiapkan dalam keadaan puasa, akhrnya kita tidak meminum dan memakannya walaupun minuman dan makanan itu halal.

 

Menciptakan kondisi kontras atas suatu keadaan negatif dengan dasar sugesti positif hakikatnya adalah suatu proses pelatihan dan pendidikan untuk mencapai suatu keberhasilan dengan prinsip keseimbangan. Ramadhan menjadi “madrasah ruhaniah” dalam menciptakan kondisi seperti itu. Satu perduabelas bulan dalam setahun ummat muslin yang beriman melakukan “pesantren” melalui “madrasah ruhaniah” bulan Ramadhan.

 

Keberhasilan pesantren ini akan tercermin dalam sebelas bulan berikutnya. Indikatornya adalah kita akan jauh lebih sehat, baik secara ruhaniah, psikologis maupun biologis kita, termasuk dalam perilaku komunikasi kita dengan orang lain.

 

Selain tubuh dan jiwa kita lebih sehat, kita menjadi orang yang berhasil membiasakan mengcapkan kata-kata santun kepada orang yang menentang kita; mengungkapkan kelembutan hati kepada mereka yang menganiaya kita; memberikan harta kita kepada orang yang mengaharamkan hartanya untuk kita; dan menebarkan kasih sayang kita kepada orang yang memutuskan silaturahim adalah hasil kelulusan kita menempuh pesantren di madrasah ruhaniah ramadhan ini. Dan tentu saja kita akan otomatis naik derajat kita di hadapan Allah SWT.

Comments