Makna dan Keutamaan Silaturahmi di Hari Raya Idil Fitri

 

Makna dan Keutamaan Silaturahmi di Hari Raya Idil Fitri

Oleh: Ubes Nur Islam

 

Alternatif & Solusi - Idulfitri menjadi momentum yang pas untuk saling berkunjung dan berkumpul bersama keluarga. Meskipun terhalang mudik, namun silaturahmi virtual masih tetap bisa dilakukan. Idul fitri adalah hari kebahagiaan setiap muslim. Semua muslim hari ini merasakan kemenangan yang tak terhinnga. Setelah mereka menjalani ibadah sebulan penuh, sebagai refleksi hubungan hablum mina Allah, yakni pengabdian kepada sang kholik, kini mereka ingin melakukan refleksi pengabdian lainnya, hablum minan nas, yakni menyambung silaturahmi dengan orang tua, mertua, dan sanak, saudara dan kerabat, sekaligus bertemu dengan para tetangga di lingkungan tempat mereka dibesarkannya.

 


Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab yakni Shilah yang artinya hubungan atau sambungan dan Ar- rahim yang bermakna kasih sayang yang terus menerus tanpa batas. Kata Rahim sering diidentikkan dengan kantung bayi yang ada dalam perut perempuan, sehingga maknanya menunjukkan sebuah hubungan karena dekatnya nasab atau keturunan. Kata silaturahim kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia yakni silaturahmi yang artinya tali persahabatan (persaudaraan), dan bersilaturahmi yang artinya mengikat tali persahabatan (persaudaraan), yang didalamnya ada sebuah nuansa saling sayang menyangi antara kerabat, senasab dan mengikat tali persaudaraan kerabat dekat dan jauh bahkan dengan tetangga sesama lingkungan. 

 

Sejatinya, silaturahim dalam Islam  dimaknai sebagai menghubungkan tali persaudaraan antara karib kerabat, baik yang disebabkan nasab maupun hubungan pernikahan. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan, silaturahmi adalah berbuat baik kepada karib kerabat sesuai dengan keadaan orang yang menghubungkan dan orang yang dihubungkan. Terkadang menggunakan harta, adakalanya dengan memberi bantuan tenaga, sekali waktu dengan kunjungan, atau dengan memberi salam, dan lain sebagainya.

 

Silaturahim ditujukan bagi orang yang punya hubungan kurang baik dengan kerabatnya, kemudian ia hendak memperbaikinya. Rasulullah Muhammad Saw bersabda;

 

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

"Orang yang menyambung silaturrahmi bukanlah yang memenuhi (kebutuhan), melainkan orang yang menyambung hubungannya kembali ketika tali silaturrahmi itu sempat terputus." (HR. Bukhari)

 

Dalam sebuah riwayat, disebutkan kisah mengenai silaturahim Asma binti Abu Bakar dengan Qutailah binti Abdul Uzza, ibundanya yang non-muslim. Saat itu umat Muslim dan kafir Quraisy dalam suasana gencatan senjata melalui perjanjian Hudaibiyah. Karena kerinduan yang mendalam, maka Qutailah mengunjungi Asma di Madinah. Ia membawakan beberapa makanan untuk putri tercintanya itu.

 

Setibanya Qutailah di Madinah, Asma justru ragu untuk menemui dan menerima hadiah dari ibu kandungnya itu. Asma akhirnya bertanya kepada Rasulullah Saw.

 

“Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku dan dia sangat ingin aku berbuat baik padanya, apakah aku harus tetap menjalin hubungan dengan ibuku?” “Ya, sambunglah silaturahim dengannya,” tutur Rasulullah Saw. (Disarikan dari HR. Bukhari)

 

Demikianlah, hubungan Asma binti Abu Bakar dan Qutailah sempat terputus lantaran perempuan berjulukan Dzatu nithaqain ini masuk Islam, sedangkan ibundanya tetap memeluk agama nenek moyang. Selain itu, keduanya juga terpisah jarak yang cukup jauh setelah Asma dan ayahnya hijrah ke Madinah. Akan tetapi Rasulullah Saw memerintahkan putri Abu Bakr ini untuk tetap bersilaturahmi meskipun ibu kandungnya bukanlah seorang Muslimah. 

 

Di Indonesia, istilah silaturahmi justru cenderung dimaknai lebih luas, tidak hanya untuk memperbaiki hubungan yang sempat terputus, tetapi juga ikatan yang dari awal memang baik-baik saja. Juga tak hanya ditujukan kepada karib kerabat saja, melainkan kepada siapapun. 

 

Sejatinya memang tak ada larangan untuk menggunakan kata silaturahmi dalam konteks syariat maupun kebiasaan sehari-hari. Akan tetapi, hadis-hadis keutamaan silaturahim tentunya ditujukan pada makna syariat.  

 

Keutamaan silaturahmi

 

Menyambung tali persaudaraan adalah perkara mulia yang amat dianjurkan. Rasulullah Saw bahkan pernah memberi peringatan bahwa orang yang memutus silaturahim tidak akan masuk surga.  Di samping itu, silaturahim juga memiliki berbagai keistimewaan, beberapa di antaranya dapat memudahkan rezeki dan memanjangkan umur.

 

Nabi Muhammad Saw bersabda:  "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari)

 

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa ingin dibentangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan sisa umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari)

 

Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam Fathul Bari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari mengemukakan, arti dibentangkan rezekinya adalah ditambahkan keberkahannya. Karena berilaturahim dengan kerabat termasuk sedekah, dan sedekah bisa mengembangkan dan menambahkan harta.

 

Kemudian Ibnu Bathal dalam Syarh Shahih Al-Bukhari menyatakan, ada dua pendapat mengenai maksud dipanjangkan umurnya, pertama, orang yang bersilaturahmi akan diingat kebaikannya meskipun sudah menutup usia. Seakan-akan ia belum meninggal. Pendapat kedua, saat ditetapkan umur seseorang di dalam kandungan, dituliskan bahwa apabila ia bersilaturahmi maka umurnya akan dipanjangkan.

 

Silaturahmi diperuntukkan terlebih dahulu terhadap keluarga yang masih ada hubungan darah seperti ayah, ibu, adek, kakak, dan saudara yanga ada hubungannya. Berikut ini dijelaskan dalam hadits Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî, simak penjelasannya di bawah ini :

 

“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

 

Terdapat beberapa keuntungan yang di dapat jika mau dan selalu menjaga silaturahmi agar tetap tersambung, hal itu meliputi :

 

1. Silaturahmi Bisa Memperpanjang Umur

 

Berdasarkan hadits Muttafaqun ‘alaihi, dijelaskan bahwa :

 

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi]

 

2. Silaturahmi Bisa Memperlancar Rejeki

 

Berdasarkan hadits Muttafaqun ‘alaihi, dijelaskan bahwa : “Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

 

 

3. Silaturahmi Mempunyai Pahala Yang Lebih Besar Daripada Memerdekakan Budak

 

Berdasarkan Shahih al-Bukhari, dari Maimunah Ummul-Mukminin, dia berkata : “Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

 

4. Silaturahmi Bisa Membuat Kehidupan Menjadi Lebih Baik

 

Kita sebagai makhuk sosial dan hamba Allah yang bertaqwa hendaknya selalu menyambung tali silaturahmi walaupun sanak saudara kita ada yang berusaha memutuskannya. Sebaiknya kita tetap mengusahakan untuk memperbaikinya. Karena orang yang berjuang untuk menghubungkan tali silaturahmi akan mendapatkan balasan yang baik dari Allah Swt atas mereka yang memutuskannya.

 

Berdasarkan hadits Muttafaqun ‘alaihi, dijelaskan bahwa : “Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi]

 

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi]

 

Berdasarkan firman Allah juga sudah dijelaskan dalam Al Quran surat Ar-Rad ayat 25, penjelasannya sebagai berikut :

 

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [Ar-Ra’d : 25]

 

5. Orang Yang Memutus Silaturahmi Tidak Akan Masuk Surga

 

Kategori memutus silaturahmi yang tergolong dosa besar ialah memutuskan hubungan terutama dengan kedua orang tua, sanak saudara terdekat atau pun kerabat yang masih mempunyai hubungan darah.

 

Berdasarkan sabda Rasulullah dijelaskan di bawah ini : ”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”.

 

Lebih parah lagi jika kita sudah memutuskan silaturahmi dengan orang tua, namun masih bertindak durhaka kepada mereka. Tindakan tersebut merupakan dosa yang sangat besar. Oleh karena itu banyak – banyaknya mendekatkan diri kepada Allah agar kita tidak termasuk orang – orang yang berbuat demikian.

 

”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”.

 

Di lingkungan kita seringkali ditemukan orang yang tidak suka ketika melihat kehadiran kedua orang tuanya, padahal semasa kecil dulu mereka pernah merawatnya. Justru ia lebih mendamba – dambakan dan memuliakan istrinya, namun disisi lain ia melecehkan ibunya sendiri. Ia selalu berusaha keras untuk mendekati dan mengerti keinginan teman-temannya, akan tetapi ia malah semakin menjauhi bapaknya.

 

Pada saat duduk  bersama kedua orang tuanya, maka ia akan merasa seperti sedang duduk di dekat bara api karena memang tidak betah. Hati terasa berat pada saat ia harus menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tuanya.

 

Walaupun hanya sebentar saja ia bersama dengan orang tua, namun waktu akan terasa sangat lama. Ia akan merasa malas dan berat hati pada saat berbicara dengan keduanya. Perbuatan seperti itu mencerminkan bahwa ia telah menanamkan keharaman bagi dirinya sendiri mengenai kenikmatan yang bisa ia raih dengan berbakti kepada kedua orang tua dan tentunya balasan baik yang akan ia peroleh.

 

Selain itu ada juga manusia yang tidak ingin, bahkan ada yang tidak mau untuk memandang, menganggap, serta mengakui sanak saudara sebagai keluarga mereka. Ia tidak ingin berbaur dengan kerabatnya dengan sikap yang seharusnya wajib diberikan kepadanya sebagai keluarga. Ia tidak mau melakukan tegur sapa ketika berpapasan bahkan pura – pura tidak tau dan tidak mau melakukan suatu tindakan yang bisa membuat hubungan silaturahmi menjadi terjaga dengan baik. Begitu pula dengan harta yang ia miliki, ia tidak akan memakai hartanya untuk membantu kerabatnya.

 

Sudah bisa kita lihat bahwa ia berada dalam kondisi serba kecukupan, sedangkan mereka sanak keluarganya berada dalam kondisi serba kekurangan. Ia tidak ingin berhubungan dengan keluarganya tersebut. Padahal, seharusnya keluarga tersebut bisa dikatakan termasuk salah satu kewajiban untuk ia nafkahi dengan alasan karena kondisi ketidakmampuannya dalam melakukan berusaha, sedangkan ia sudah masuk dalam kategori mampu untuk memberikan nafkah kepadanya. walaupun demikian, ia tetap kukuh untuk menolak menafkahinya.

 

Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk selalu menjaga tali silaturahmi agar tidak terputus. Semua hamba-Nya termasuk kita akan mendapat jatah untuk menghadap Allah Swt dengan hanya membawa bekal pahala bagi mereka yang mau menjaga dan selalu berusaha untuk menyambung tali silaturahmi. Atau kita akan menghadap-Nya hanya dengan membawa dosa – dosa saja bagi kita yang berusaha untuk memutus tali silaturahmi. Kita sepatutnya, menengadahkan tangan seraya memohon ampun kepada Allah Swt, karena sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

 

Comments