Mengenal Dekat Dengan Tasawuf
Islam
Oleh: Ubes Nur Islam
Muqoddimah
Alternatif & Solusi - Islam sebagai agama mempunyai ajaran yang
universal, menyangkut berbagai segi, baik jasmani dan rohani, fisik dan non
fisik, lelaki–perempuan, orang tua dan anak-anak, masalah ibadah, keyakinan
aqidah tauhid, muamalah, jinayat uqubat, munakahat, waratsat, dan semua masalah
duniawi dan ukhrowi. Keunivesalan ini tentu
saja akan menarik perhatian si penganut ajaran (muslim) sendiri, bahkan pihak
lawan sekalipun (kaum non muslim). Untuk memahami seluk beluk Islam, seorang
muslim dituntut untuk lebih banyak menggali dengan metode nalar istiqra di satu
sisi, dan sisi lainnya kajian sam’iyah dari sanad-sanad yang tersusun rapi.

Pesan-pesan dilalah tsubut ajaran Islam yang tertuang dalam
kitabnya, Al-Qur’an dan al-Haditsnya, di satu sisi dilalahnya sudah nyata
terungkap, dan sisi lainnya oleh pihak kaum muslim yang lain masih awam),
dilalah tsubut tersebut masih dianggap tersembunyi. Inilah salah satu sebab
kaum muslim terus menggali dan memahami pesan-pesan tersebut, hingga akhirnya
timbul metode baru atau ilmu baru bagaimana merefleksikan ajaran Islam secara
paripurna.
Perkembangan pemahaman dan pengamalan kaum muslimin terhadap
semua ajarannya, tak hanya sebuah cerita ritual, melainkan justru mengasilkan
ilmu-ilmu baru. Ilmu
pengetahuan baru inilah yang
menyebabkan lahirnya beberapa disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana
salah satu di antaranya adalah lahirnya ilmu tasawuf yang akan
dibahas dalam isi makalah ini. Sesungguhnya, Ilmu tasawuf
ialah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam yang utama, seperti
halnya ilmu Tauhid (Ushuluddin) dan ilmu Fiqih.
Dalam
ilmu Tauhid akan dibahas tentang
soal-soal i’tiqad (kepercayaan)
mengenai hal ketuhanan, kerasulan, hari
akhir, ketentuan qadla’ dan qadar Allah dan sebagainya. Ilmu Fiqih ini lebih membahas tentang
hal-hal ibadah yang bersifat dhahir (lahir), seperti soal shalat, puasa, zakat,
ibadah haji dan sebagainya. Sedangkan ilmuTasawuf lebih membahas soal-soal
yang bertalian dengan akhlak, budi pekerti, amalan ibadah yang bertalian dengan
masalah bathin (hati), seperti: cara-cara ihlash, khusu’, taubat, tawadhu’,
sabar, redhla (kerelaan), tawakkal dan yang lainnya.
Dari paparan diatas, kiranya sangat
perlu kita pahami beberapa materi yang terkait dengan tasawwuf ini,
namun kali ini sebagai langkah awal dibatasi pada beberapa hal, anata lain: a) Apa
pengertian ilmu Tasawuf?, b) Apa saja pokok-pokok ajaran Tasawuf?, dan
c) Bagaimana kedudukan ilmu Tasawuf dalam Islam?
1. Pengertian Ilmu Tasawuf
Pengertian Tasawuf, agar tercapai pada maksud, baiklah kita bagi
dua pengertian, pertama secara etimolosgis dan kedua terminologis. Kata
tasawuf berasal dari musytaq : تصوف ,
secara etimologi dari kata
"suf" (صوف), yang berarti pakain dari wol, ini merujuk kepada jubah
sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim, namun
tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang
lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada
kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata
Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.
Dalam pemahaman yang lain menyarankan, masih pengertian etimologis, bahwa kata Sufi berasal dari
"Ashab al-Suffa" ("sahabat beranda") atau "Ahl al-Suffa"
(orang-orang beranda), yaitu sekelompok muslim pada zaman Rasulullah SAW yang selalu menghabiskan waktu mereka
di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa dan berdzikir. Pemahaman inilah menjadi pengertian tasawwuf
secara istilah (terminologis)
Tasawuf dalam pengertian istilah (terminologis) adalah ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akal, membina akhlaq, membangun mental dhahir dan batin dan untuk memporoleh keseimbangan, kedamaian, dan kebahagian hidup yang abadi.
2.
Pokok-pokok Ajaran Tasawuf
Sebagai sebuah ilmu, Ilmu Tasawuf memiliki sistem dan materi kajian yang lebih
konprehenship. Manakala ditinjau dari lingkup materi pembahasannya, ilmu tasawuf terbagai menjadi tiga macam,
yaitu: Tasawuf Aqidah dan Tasawuf Aqidah
Tasawuf Aqidah, yaitu kajian ilmu tasawwuf yang menekankan pada masalah-masalah
metafisis (hal-hal yang ghaib) meliputi kajian keimanan terhadap Tuhan, adanya Malaikat,
Syurga, Neraka dan sebagainya. Karena itu, setiap Sufi menekankan
kehidupan yang bahagia di akhirat, mereka memperbanyak ibadahnya untuk mencapai
kebahagiaan surga. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut, maka Tasawuf
Aqidah berusaha melukiskan ketunggalan Hakikat Allah,
yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak.
Kemudian melukiskan alamat Allah SWT,
dengan menunjukkan sifat-sifat ketuhanan-Nya. Salah satu
indikasi Tasawuf Aqidah, ialah pembicaraannya terhadap sifat-sifat Allah, yang
disebut dengan “Al-Asman al-Husna”, yang oleh Ulama Tarekat dibuatkan zikir
tertentu, untuk mencapai alamat itu, karena beranggapan bahwa seorang hamba
(Al-‘Abid) bisa mencapai hakikat Tuhan lewat alamat-Nya (sifat-sifat-Nya).
Tasawuf Ibadah, yaitu Tasawuf yang
menekankan pembicaraannya dalam masalah rahasia ibadah (Asraru al-‘Ibadah),
sehingga di dalamnya terdapat pembahasaan mengenai rahasia Taharah (Asraru
Taharah), rahasia Salat (Asraru al-Salah), rahasia Zakat (Asraru al-Zakah),
rahasia Puasa (Asrarus al-Shaum), rahasia Hajji (Asraru al-Hajj) dan
sebagainya.
Di dalam kajian tasawuf ibadah,
seorang hamba yang melakukan ibadah itu memiliki tingkat dan
kafasitas yang terukur levelnya, oleh karena itu si hamba dalam
beribadah dibagi menjadi tiga tingkatan,
yaitu: 1) Tingkatan orang-orang biasa (Al-‘Awam), sebagai
tingkatan pertama, 2) Tingkatan orang-orang istimewa (Al-Khawas), sebagai
tingkatan kedua, dan 3) Tingkatan orang-orang yang teristimewa
atau yang luar biasa (Khawas al-Khawas), sebagai tingkatan ketiga. Kalau
tingkatan pertama dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka
tingkatan kedua dimaksudkan sebagai para wali (Al-Auliya’), sedangkan tingkatan
ketiga dimaksudkan sebagai para Nabi (Al-Anbiya’).
Dalam Fiqh, diterangkan adanya beberapa
syarat dan rukun untuk menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah. Tentu saja
persyaratan itu hanya sifatnya lahiriah saja, tetapi Tasawuf membicarakan
persyaratan sah atau tidaknya suatu ibadah, sangat ditentukan oleh persyaratan
yang bersifat rahasia (batiniyah). Oleh karena itu,
menurut Ulama Tasawuf sering
mengemukakan kalsifikasi ibadah menjadi beberapa bagian,
misalnya thaharah dibaginya menjadi empat
tingkatan: 1) Taharah yang sifatnya mensucikan anggota badan
yang nyata dari hadath dan najis, 2) Taharah yang sifatnya mensucikan
anggota badan yang nyata dari perbuatan dosa, 3) Taharah yang sifatnya
mensucikan hati dari perbuatan yang tercela, dan 4) Taharah
yang sifatnya mensucikan rahasia (roh) dari kecendrungan menyembah sesuatu di
luar Allah SWT.
Kajian Tasawuf selalu menelusuri persoalan ibadah sampai
kepada hal-hal yang sangat universal,
konprehensip, mendalam, dan bersifat rahasia. Oleh karena itu, maka ilmu ini sering
dinamakan Ilmu Batin, sedangkan Fiqh sering disebut Ilmu Zahir.
Tasawuf Akhlaqi, yaitu Tasawuf yang menekankan pembahasannya
pada budi pekerti, yang menghantarkan manusia mencapai pada kesimbangan moralitas, keserasian hati
sanubari untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam kaitan ini, seorang yang mau merambah menelusuri kajian
tasawuf akhlaqi ia harus memahami dan menyelami beberapa masalah
akhlaq mahmudah, antara
lain: 1) Bertaubat (At-Taubah); yaitu keinsafan seseorang dari
perbuatannya yang buruk, sehingga ia menyesali perbuatannya, lalu melakukan
perbuatan baik, 2) Bersyukur
(Asy-Shukru); yaitu berterima kasih kepada Allah, dengan mempergunakan segala
nikmat-Nya kepada hal-hal yang diperintahkan-Nya, 3) Bersabar (Ash-Sabru); yaitu tahan terhadap
kesulitan dan musibah yang menimpanya, 4) Bertawakkal (At-Tawakkul); yaitu memasrahkan
sesuatu kepada Allah SWT. Setelah berbuat sesuatu semaksimal mungkin untuk
mencapai tujuan, dan 5) Bersikap ikhlas (Al-Ikhlas); yaitu
membersihkan perbuatan dari riya (sifat menunjuk-nunjukkan kepada orang
lain, demi kejernihan perbuatan yang kita lakukan).
Jika dilihat sepintas hampir sama dengan
kajian akhlak, akan tetapi sesungguhnya berbeda, jika pembicaraan akhlak menuju
kepada pembahasan yang lebih kepada mengemukakan indikasi
lahiriyahnya saja, maka di dalam kajian Tsawwuf lebih dalam lagi,
yaitu hingga menelusuri kerahasiaannya.
Misalnya, pembicaraan taubat, syukur,
sabar, tawakkal dan ikhlas, dibahas dengan mengemukakan indikasi lahiriyahnya
saja, maka hal itu termasuk lingkup pembahasan akhlaq, tetapi bila
dibahasnya sampai menelusuri rahasianya, maka hal itu termasuk Tasawuf.
Sehingga dari sinilah kita dapat melihat perbedaan Akhlaq dengan Tasawuf, namun
dari sisi lain dapat dilihat kesamaannya, yaitu keduanya sama-sama tercakup
dalam sendi Islam yang ketiga (Ihsan).
Dalam tatanan realitas, sisi corak
pemikiran konsepsi (teori-teori) yang terkandung di dalam kajian
tasawwuf, hal itu bisa menjadi Tasawuf Salafi, Tasawuf Sunni dan
Tasawuf Falsafi. Dalam Tasawuf Salafi dan Tasawuf Sunni, system
peribadatan dan teori-teori yang digunakannya sama dengan yang telah dilakukan
oleh Ulama-Ulama Salaf, sehingga kadang-kadang Tasawuf Sunni disebut juga Tasawuf
Salafi.
Akan tetapi, berbeda dengan Tasawuf
Falsafi, ajarannya sudah dimasuki oleh teori-teori
Filsafat, misalnya dipengaruhi oleh Filsafat Yahudi,; Filsafat
Kristen dan Filsafat Hindu. Oleh karenanya, tidak sedikit ajarannya
yang hampir sama dengan agama yang mempengaruhinya, terutama konsepsi yang
digunakan untuk mendapat hakikat ketuhanan, kita kenal dengan istilah
“Al-Hulul” (larutnya sifat ketuhanan ke dalam sifat kemanusiaan), “Al-Ittihad”
(leburnya sifat hamba dengan sifat Allah), “Wihdatu al-Wujud” (menyatunya hamba
dengan Allah) dan sebagainya. Inilah istilah bahasa yang menjadi masalah krusial dan folemik, karena adanya ajaran Mistik
umat-umat terdahulu, yang telah ditransformasikan oleh Ulama Tasawuf ke dalam
Islam.
Barangkali ada tata caranya yang sudah
dikembangkan oleh Ulama Tasawwuf
yang ditentukan sebagai ajaran Tarekat pada masa sesudahnya yang akhirnya
tidak persis sama dengan Tasawuf yang telah dipraktekkan oleh Ulama Sahabat dan
Tabin di abad pertama dan kedua Hijriyah. Tentu saja, perkembangannya itu hanya
sekedar memenuhi tuntutan zaman yang dilaluinya, sedangkan prinsipnya tidak
bertentangan dengan pengalaman Ulama-Ulama Salaf
3. Kedudukan Ilmu Tasawuf dalam Islam
Diakui
bahwa tidak ada satupun ayat atau Hadith yang memuat kata Tasawuf atau Sufi,
karena istilah ini baru timbul ketika Ulama Tasawuf berusaha membukukan ajaran
itu, dengan bentuk ilmu yang dapat dibaca oleh orang lain. Upaya Ulama Tasawuf
memperkenalkan ajarannya lewat kitab-kitab yang telah dikarangnya sejak abad
ketiga Hijriyah, dengan metode peribadatan dan istilah-istilah (symbol Tasawuf)
yang telah diperoleh dari pengalaman batinnya, yang memang metode dan istilah
itu tidak didapatkan teksnya dalam Al-Qur’an dan Hadith.
Tetapi sebenarnya hal tersebut, didasarkan
pada beberapa perintah Al-Qur’an dan Hadith. Ulama Tasawuf membuat suatu metode untuk melakukannya
dengan istilah “Suluk”. Karena kalau tidak didasari dengan metode tersebut,
maka tidak ada bedanya dengan akhlaq mulia terhadap Allah. Jadi bukan lagi
ajaran Tasawuf, tetapi masih tergolong ajaran Akhlaq.
Tasawuf merupakan pengontrol jiwa dan
membersihkan manusia dari kotoran-kotoran dunia di dalam hati, melunakan hawa
nafsu, sehingga rasa takwa hadir dari hati yang bersih dan selalu merasa dekat kepada
Allah. Tujuan tasawuf itu menghendaki manusia harus menampilkan ucapan,
perbuatan, pikiran, dan niat yang suci bersih, agar menjadi manusia yang
berakhlak baik dan sifat yang terpuji, sehingga menjadi seorang hamba yang
dicintai Allah swt. Oleh karena itu, sifat-sifat yang demikian perlu dimiliki
oleh seorang muslim.
Namun, dengan bertasawuf, seseorang akan bersikap tabah,
sabar, dan mempunyai kekuatan iman dalam dirinya, sehingga tidak mudah
terpengaruh atau tergoda oleh kehidupan dunia yang berlebihan dengan bersikap
qonaah, yaitu sabar dan tawakal, serta menerima apa yang telah diberikan Allah
walaupun sedikit. Sehingga, Tasawuf betul-betul mendapatkan perhatian yang
lebih dalam ajaran Islam, walaupun sebagian ulama fikih menentang tasawuf ini,
karena dianggap bid'ah dan orang yang mempelajarinya telah berbuat syirik,
karena tidak berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah.
Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits yang
memerintahkan manusia supaya bertobat, sabar, tawakal, bersikap zuhud, ikhlas
dan ridha kepada Allah swt, serta membersihkan diri dengan berzikir kepada
Allah. Sebagaimana Allah swt, berfirman:
“Sesungguhnya berbahagialah orang yang
membersihkan diri, dan ia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-
A'la: 14-15)
Ulama Tasawuf membuat tata cara
peribadatan untuk mencapai tujuan Tasawuf, didasarkan atas konsepsi dan
motivasi beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadith, antara lain berbunyi:
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka).” (Q.S. At-Tiin: 4-5)
“Hai orang-orang yang beriman; berdhikirlah (dengan)
menyebut (nama) Allah, dhikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbhilah
kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”(Q.S. Al-Ahzab: 41-42)
“Sembahlah Allah, seolah-olah engkau
melihat-Nya; maka apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka Ia pasti
melihatmu. (H. R. Bukhary Muslim, yang bersumber dari Abu Hurairah)
Dalam ayat pertama, diterangkan bahwa
manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baik kejadian, namun karena
perbuatan manusia itu sendiri, maka Allah mengembalikannya kepada tempat yang
sangat hina. Tempat inilah yang dimaksudkan oleh Sufi sebagai
neraka. Untuk menghindarinya, maka Sufi membuat tata cara mengabdikan diri
kepada Allah, yang disebut dengan “Suluk”, di mana di dalamnya diwarnai oleh
zikir, sebagaimana anjuran dalam ayat kedua di muka, dengan kalimat
“Udzkurullah Dzikran Katsiira”… Sehingga Salik (peserta suluk) dapat mencapai
tujuan Tasawufnya, yang disebut Ma’rifah; yaitu suatu pengenalan batin terhadap
Allah, yang disebut dalam hadith di muka, sebagai perkataan pengabdian hamba
kepada Allah, yang seolah-olah dapat melihat-Nya (A’budillah Kannaka Tarahu …).
Bukankah kita ingin dekat dengan Allah
sedekat-dekatnya, serta merasa dekat dengan-Nya? Oleh karena harus ada
penyucian diri dengan selalu berusaha membersihkan hati, supaya kita memperoleh
jiwa yang tenteram dan menjadi orang yang bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Seperti halnya Rasulullah saw, beliau adalah pembesar dari seluruh ahli tasawuf
yang berdaya upaya dengan sangat kepada kesucian hati serta menjauhi dari
sifat-sifat hati yang jelek. Jadi, seorang hamba bisa dekat dengan Allah,
yaitu dengan bertasawuf. Dengan demikian tasawuf memiliki Kedudukan yang
penting dalam ajaran Islam tergantung kita dalam mempelajari dan memahaminya.
Kesimpulan. Ilmu Tasawuf merupakan ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan hati, membina akhlaq, dan membangun mental dhahir dan batin, untuk mencapai dan memporoleh keserasian, keseimbangan, kebahagian hidup yang abadi.
Pada awalnya tasawuf merupakan gerakan
zuhud, dengan merepleksikan
segala ajaran syariat Islam secara kaffah, dengan meninggalkan segala bentuk
karakter diri yang tidak relefan dengan kaidah Islam, yang kemudian dalam perkembangannya
tasawuf mempunyai kedudukan sangat penting dalam ajaran Islam itu sendiri. Dalam hal ini kedudukan Tasawuf berada
pada sendi Ihsan, yang berfungsi untuk memberi warna yang lebih mendalam bagi
sendi Aqidah dan sendi Syari’ah Islam. (Ubes Nur Islam dari berbagai sumber)
Comments
Post a Comment