MENGENAL ILMU TAUHID UNTUK PEMULA
MENGENAL ILMU TAUHID UNTUK PEMULA
Oleh : Ubes Nur Islam
Kita Perlu Bertauhi
Alternatif & Solusi - Tauhid merupakan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang percaya dengan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa merasa dekat dan dilindungi oleh Tuhannya (Musa, 1999: 43). Pemimpin dan pengatur semua tatanan sistem peredaran kehidupan di semua alam maya pada ini hanya Allah SWT. Hidup dan mati merupakan kuasa sang pencipta yaitu Allah SWT. Kepercayaan terhadap Allah adalah yakin kepada sang pencipta dan Yang Maha Esa, merupakan landasan bagi setiap muslim. Pemahaman mendasar ini merupakan pemahaman tauhid, yakni pemahaman yang selalu berperinsip kepada nilai ketuhanan yang esa.
Seorang muslim tidak
dapat dikatakan sebagai
umat muslim jika tidak menerima suatu ajaran tauhid. Seorang muslim dapat
menjalani kehidupannya wajib memegang tauhid dalam hati dan fikiran. Tauhid adalah prinsip ajaran agama Islam yang menegaskan
bahwa Tuhan itu hanya satu, dan menjadi satu-satunya
sumber kehidupan (Zainuddin, 1992: 3).
![]() |
Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya, karena seluruh makhluk hidup termasuk manusia pada hakikatnya akan kembali kepada Allah SWT. Beribadah kepada Allah dengan landasan keyakinan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Tuhan semesta alam (Hanafi, 1988: 67). Objek kajian dari tauhid adalah tindakan manusia yang diperintahkan oleh Allah agar meng-Esa-kanNya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Perintah untuk men-tauhid-kan Allah dan pernyataan Allah itu Esa dalam Al-Qur‟an:
Al-Baqarah ayat 163.
Artinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang
Maha Pemurah lagi Maha penyayang (Q.S Al-Baqarah: 163).
Definisi Ilmu Tauhid
Ilmu Tauhid adalah ilmu
yang membicarakan tentang caracara menetapkan „aqidah agama dengan mempergunakan dalil naqli maupun dalil aqli.
Dengan menggunakan dalil aqli maupun naqli, seseorang akan lebih mudah memahami dan meyakini segala bentuk penjelasan yang ada
dalam ilmu tauhid. Dapat dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan-pembahasannya yang paling menonjol ialah pembahasan tentang
ke-Esaan Allah yang menjadi asasi agama Islam (Ash Shiddieqy, 1990:1).
Ilmu tauhid merupakan ilmu yang membahas tentang Allah SWT, sifat-sifat wajib
yang ada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh kepada-Nya (Sifat jaiz Allah) dan sifat-sifat yang sama sekali
harus ditiadakan daripada-Nya serta tentang Rasul-rasul Allah SWT untuk menetapkan kerasulan
mereka. Dapat dinamakan ilmu tauhid karena pokok pembahasannya yang paling penting adalah menetapkan keesaan Allah SWT dalam
dzat-Nya, dalam menerima peribadatan dari makhluk-Nya, dan meyakini bahwa Dia-lah tempat kembali,
satusatunya tujuan ( Maslikhah, 2003:90).
Tema Pokok
Pembahasan Ilmu Tauhid
Pokok-pokok pembahasan ilmu tauhid meliputi tiga hal, yaitu: a) mempercayai
dengan sepenuh hati tentang pencipta alam, Allah Yang Maha Esa, b) mempercayai dengan penuh keyakinan tentang para utusan
Allah SWT dan perantara Allah SWT kepada para utusannya untuk disampaikan kepada umat manusia untuk
menyampaikan ajaran-ajaran-Nya, tentang kitab-kitab Allah SWT yang dibawa oleh para
utusan-Nya, dan tentang para malaikat-Nya, c) mempercayai dengan sepenuh hati akan adanya kehidupan
abadi setelah
mati di alam akhirat dengan segala hal-ihwal yang ada di dalamnya.
Berdasarkan jenis dan
sifatnya, ilmu tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan atau tahapan. 1) Tauhid Rububiyyah yaitu: mengesakan Allah dalam
segala perbuatanNya dan meyakini bahwa Allah menciptakan segala makhluk. 2) Tauhid Uluhiyah yaitu: mengesakan Allah dengan
perbuatan para hamba, misalnya: tawakal, beribadah, memohon pertolongan. 3) Tauhid asma‟ wa sifat yaitu: beriman kepada nama-nama
Allah dan sifat-sifatNya yang diterangkan dalam Al-Qur‟an dan sunnah Rasul-Nya yang pantas ditiru oleh
umat-Nya ( Ilyas, 1993 :23)
Sumber
Utama Ilmu Tauhid
Sumber utama ilmu tauhid ialah Al-Qur‟an dan Hadis yang banyak berisi penjelasan
tentang wujud Allah SWT, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan persoalan ilmu tauhid lainnya. Maka dari itu
ilmu tauhid
selalu didasarkan pada dua hal, yaitu dalil aqli dan dalil naqli.
Dengan menggunakan dalil
aqli maupun naqli tersebut, maka seseorang akan lebih mudah untuk memahami dan meyakini segala bentuk penjelasan yang
ada di dalam ilmu tauhid. Terutama untuk memahami dan meyakini penjelasan tentang sifat-sifat Allah SWT baik yang wajib maupun
yang mustahil, ataupun yang jaiz pada-Nya, sehingga seseorang akan lebih mudah mengenal dzat Allah SWT secara mendalam
(Maslikhah, 2003:90).
Tujuan Ilmu Tauhid
Ilmu tauhid bertujuan
untuk memantapkan keyakinan dan kepercayaan agama melalui akal pikiran, selain itu ilmu tauhid
juga digunakan
untuk membela kepercayaan dan keimanan dengan menghilangkan keraguan seseorang, serta ilmu tauhid
bertujuan untuk meluruskan
aqidah-aqidah yang menyeleweng, serta membimbing manusia untuk melakukan ke jalan yang benar serta dapat
melakukan ibadah
dengan keikhlasan.
Selain tujuan, ada juga
manfaat ilmu tauhid
yaitu: mengetahui tentang Allah dengan segala hal yang ada pada-Nya, melaksanakan
perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya, semakin meningkatkan dan
memperteguh keimanannya. Hukum
mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu „ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul
memiliki keyakinan
dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada diatas agama yang benar. Sedangkan
mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa ( Maslikhah,
2003: 90).
Mengenal Ilmu Tauhid Tingkat Dasar
Untuk tidak terlalu melenceng jauh, penulis
berusaha menilik lebih mendalam tentang pokok-pokok ilmu tauhid sebagaimana
yang termuat dalam kitab Aqidatul Awam, sebagai kitab referensi utama
dan pertama, karena di dalam kitab tersebut merupakan uraian tentang pendidikan
ilmu tauhid yang paling dasar dan fundamental. Untuk itu, maka penulis
mencoba untuk menyusun sebuah artikel
atau panduan kitab tauhid yang mengacu dan bersumber dari kitab tersebut.
Alasan mengambil referensi utama dari kitab
tersebut, karena melihat banyak masyarakat memiliki pemahaman yang masih
kurang, bahkan ganjil tentang ketuhanan mereka.Mereka mengaku beragama Islam
dan beriman kepada Allah SWT, akan tetapi, sikap dan perilaku mereka tidak mencerminkan
keimanan sebagaimana digariskan dalam syariat Islam.
Kajian Materi Ilmu Tauhid dalam Kitab Tersebut
Dalam kitab „Aqidatul Awam terdapat rumus-rums
jitu akliyah dan naqlyah yang secara praktis dan efektif membangun dan membimbing sistimatika pola
pikir yang langsung menuju pokok sasaran, yaitu inti pemahaman tauhid.
Rumus-rumus yang dibangun cukup menakjubkan, ringkas dan padat, namun mengena
sasaran pada pokok pangkal pikiran manusia, bagaimana metodologi untuk memahami
keyakinan kepada Sang Pencipta sebagai yang patut disembah secara rasional, sekaligus
bagaimana memahami karakteristik dan sifat
utama para pembawa risalah ketuhanan, benarkah mereka itu utusan Allah, baik
para malaikat maupun para nabi utusan Allah.
Menurut pemikiran Sayid Ahmad Al-Marzuki, sebagai penulis
kitab Kifayatul Awam menyatakan, seorang yang ingin membangun tauhidnya dengan
baik seharusnya memahami konsep dasar ilmu (faham ilm dasar tauhid) ini, yaitu
meliputi:
Sifat Wajib
Bagi Allah
Kewajiban seorang Mukallaf harus mengetahui sifat wajib bagi Allah, sifat
wajib bagi Allah diantaranya:
a) Sifat Wujud bagi Allah SWT.
Allah SWT itu ada, tidak mungkin
Allah SWT tidak ada. Dalil aqli yang membukti bahwa Allah
SWT itu ada adalahpenciptaan alam semesta beserta isinya. Sebagaimana Allah
telah berfirman dalam Q.S Ar-Ra‟du ayat
16:
Artinya: katakanlah: “Siapakah
Tuhan langit dan bumi? Jawabnya:
“Allah”...“Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan
yang Maha esa laig Maha Perkasa” (Q.S Ar-Ra‟du: 16) (Mahmud, 2005: 251).
Ayat di atas sudah jelas membuktikan bahwa Allah SWT itu ada, karena Allah SWT
telah menciptakan alam semesta dan seisinya mulai dari ‟Arsy hingga bagian bumi
yang paling bawah, semua itu merupakan perkara yang baru keberadaannya. Artinya, perkara yang ada (tercipta) setelah tidak ada.
Dan setiap perkara yang baru pasti ada pencipta yang tetap wujudnya. Maka, alam jelas ada yang menciptakan. Keberadaan Sang Pencipta diperoleh dari dalil sifat keesaan dan dari ketetapan sifat wujud bagi Allah SWT.
Dengan demikian, menjadai mustahil
bila Allah SWTmempunyai sifat yang berlawanan dengan sifat wujud-Nya. Makna wujud menurut Sayid Ahmad Al-Marzuki
adalah sifat mengenai ketetapan yang mensifati (dengan wujud itu) untuk menunjukkan
hakikat zat.
Sedangkan makna wujud menurut Syaikh Muhammad alFudholi dalam kitab Kifāyah
al-Awām adalah suatu keadaan yang harus dimiliki suatu zat , selama zat
tersebut masih ada, dan keadaan seperti ini tidak bisa dibatasi suatu alasan
(Achmad Sunarto, 2010: 28). Kedua
makna diatas maksudnya adalah sama, hanya saja bahasa penyampainnya yang berbeda.
b) Sifat Qidam bagi Allah SWT.
Allah SWT adalah al-Awal, tidak
ada permulaan bagi wujudNya, dan juga al-Akhir, artinya tidak ada akhir
dari wujud-Nya. Dalil aqli yang membuktikan
bahwa Allah SWT bersifat qidam menurut Sayid Ahmad Al-Marzuki adalah Seandainya
Allah SWT hudust (ada awalnya) pasti Allah SWT membutuhkan yang menciptakan,
dan itu mustahil bagi Allah SWT. Karena Allah SWT adalah zat yang Maha Awal dan yang Maha Akhir sebagaimana Firman Allah SWT:
Artinya:
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dzahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (AlHadid: 3) (Mahmud, 2005: 537)
Dari pendapat diatas maksudnya adalah sama, bahwa Allah adalah zat Awal dan yang Akhir, tidak ada yang mengawali dan mengakhiri wujudnya Allah (Achmad Sunarto, 2010: 47).
c) Sifat Baqa‟ bagi Allah SWT.
Sifat Baqā‟
wajib ada didalam zat Allah SWT, karena Allah SWT adalah zat yang kekal abadi. Allah
SWT ada untuk selamalamanya, tidak mengalami kehancuran. Lawan dari sifat ini
adalah sifat fana‟ (rusak) (Sayid
Ahmad al-Marzuki: 9).
Wajib bagi Allah SWT bersifat baqa‟, bukti bahwa Allah SWT bersifat baqa‟ adalah jika Allah SWT tidak memiliki sifat
baqa‟ maka ada kemungkinan Allah SWT akan rusak. Dan adanya kemungkinan tersebut tidak akan pernah terjadi karena Allah SWT adalah zat yang qadim dan kekal untuk selama-lamanya, sesuai bunyi firman Allah SWT:
Artinya: Dan
tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (ar-Rahman: 27) (Mahmud, 2005: 532).
d) Sifat Mukholafatu lil hawaditsi bagi Allah SWT.
Wajib bagi
Allah SWT mempunyai sifat Mukhālafah lil Hawādits, lawan dari sifat ini adalah sifat
mumatsalatu lil hawadits (SayidAhmad Al-Marzuki: 9).
Wajib bagi Allah SWT memiliki sifat Mukhālafah lil Hawādits,
karena Allah SWT berbeda dengan makhluk-Nya. Dijelaskan
oleh Sayid ahmad Al-Marzuki Allah SWT itu tidaksama dengan makhluk baik itu
manusia, jin, malaikat ataupun makhluk lainya. Dalam
hal ini Allah SWT tidak mungkin mempunyai
sifat yang dimiliki oleh semua makhluk seperti berjalan, duduk, atau mempunyai susunan anggota badan. Allah SWT terlepas dari susunan anggota tubuh seperti punya mulut, mata, telinga dan anggota tubuh lainnya (Achmad Sunarto, 2012: 55).
Dalil yang menunjukkan sifat mukhalafatul lil hawaditsinya Allah SWT adalah Seandainya Allah SWT Mumatsalah (menyerupai makhluk) maka Allah SWT
tidak ada bedanya dengan makhluk, dan itu mustahil.
Ditegaskan dalam al-Qur‟an sebagaimana
firman-Nya:
Artinya: “
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia danDialah yang Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.” (Asy Syura: 11) (Mahmud, 2005: 484).
Jadi, sudah jelas Allah SWT itu berbeda dengan makhluknya karena tidak mungkin terjadi persamaan, antara Tuhan Sang Pencipta dengan makhluk yang diciptakan.
e) Sifat Qiyamuhu binafsihi bagi Allah SWT.
Allah SWT berdiri dan berbuat dengan
kekuatannya diriNya sendiri. Wujud Allah SWT ditentukan oleh diri-Nya sendiri, bukan oleh yang lain diluar diri-Nya. Dalil yang menunjukkan bahwa Allah SWT bersifat Qiyāmuhu Binafsihi:
Artinya:
“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya(Tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam” (Al-Ankabut: 6) (Mahmud,
2005: 396).
Allah SWT ada dan berdiri dengan kekuasaan dan kekuatannya sendiri, karena Allah
SWT adalah Tuhan yang Maha Kaya atas segala-galanya.
f) Sifat Wahdaniyah bagi Allah SWT.
Makna Wahdāniyah menurut Sayid Ahmad Al-Marzuki adalah
bahwa Allah SWT tidak tersusun dari beberapa bagian, artinya bahwa Allah SWT
itu satu. Adapun makna Wahdāniyah dalam sifat menurut pendapat Syaikh
Muhammad al-Fudholi adalah tidak adanya banyak sifat, maksudnya Allah SWT tidak
mempunyai banyak sebutan ataupun makna. (Achmad Sunarto, 2012: 64).
Sedangkan makna Wahdāniyah dalam
perbuatan adalah,bahwa tidak ada satupun perbuatan makhluk yang sama dengan perbuatan Allah SWT. Seperti; Allah SWT menciptakan makhluk,memberi
rezeki, menghidupkan, mematikan, dan lain-lain (Achmad Sunarto, 2010: 8).
g) Sifat Qudroh bagi Allah SWT.
Sifat qudroh ini merupakan aplikasi dari sifat wujud dan yang
telah dahulu dan selalu menetap pada zat Allah SWT. Dengan sifat qudrat ini, Allah SWT akan mewujudkan dan meniadakan segala sesuatu kemungkinan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Adapun dalil qudrohnya Allah SWT adalah:
Artinya: “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu” (AlBaqarah: 20) (Mahmud, 2005: 4) .
Kekuasaan Allah SWT meliputi segala
yang dilangit dan dibumi. Seluruh alam semesta beserta
isinya diciptakan dengan kekuasaan-Nya, maka mustahil jika
Allah SWT mempunyai sifat „Ajzun ( lemah).
h) Sifat Irodatun bagi Allah SWT.
Tidak akan terjadi segala sesuatu
melainkan atas kehendak-Nya. Maka apapun yang
dikehendaki-Nya pasti ada, dan apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka tidak mungkin terjadi. Dalil yang membuktikan sifat iradahnya
Allah SWT adalah alam ini tercipta dengan jalan iradah dan ikhtiyarnya
Allah SWT (Abdullah Zakiy, 1999: 31). Sebagaimana
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap
apa yang dia kehendaki” (Hud: 107 ) (Mahmud, 2005:233).
i) Sifat „Ilmun bagi Allah SWT
Pengetahuan Tuhan meliputi segala
sesuatu dari yang sebesar-besarnya sampai yang
sekecil-kecilnya, baik yang telah ataupun
yang akan terjadi di bumi, di udara, di laut, dan di mana saja, di dalam gelap atau terang, lahir atau bathin. Mustahil Allah SWT tidak mengetahui, karena tidak mengetahui berarti bodoh.
Kebodohan adalah sifat kekurangan, sedang Allah SWT Maha Suci dari sifat kekurangan. untuk
menciptakan alam ini Allah juga mengetahui apa yang ada dialam semesta ini. Allah SWT lah yang mengatur segala kejadian yang terjadi di alam ini dengan sifat iradah dan ilmunya Allah SWT.
j) Sifat hayyatun bagi Allah SWT.
Kehidupan Allah SWT itu kekal abadi,
tidak ada waktu lahirnya dan tidak ada waktu
matinya. Allah SWT hidup untukselama-lamanya dengan tidak berkesudahan.
k) Sifat Sama‟ bagi Allah SWT.
Pendengaran Allah SWT meliputi segalanya.
Sifat tersebut merupakan sifat yang harus
ada pada zat Allah SWT yang memiliki
keterkaitan dengan segala yang ada, yaitu dengan memiliki sifat tersebut segala sesuatu yang ada di dunia akan tampak jelas oleh-Nya baik yang ada itu wajib atau jaiz (Achmad Sunarto, 2012:106). Dalilnya sifat Sama‟ adalah:
Artinya: “Dan
Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
(Asy-Syûrā: 11) (Mahmud, 2005: 42).
l) Sifat Bashor bagi Allah SWT.
Penglihatan Allah SWT meliputi segalanya.
Sifat tersebut merupakan sifat yang harus ada pada
zat Allah SWT yang memiliki keterkaitan
dengan segala yang ada, yaitu dengan memiliki sifat tersebut segala sesuatu yang ada di dunia akan tampak jelas oleh Nya baik yang ada itu wajib atau jaiz (Achmad Sunarto, 2012:106). Dalilnya sifat Bashar adalah:
Artinya: “Dan
Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
(Asy-Syûrā: 11) (Mahmud, 2005: 42).
m) Sifat Kalam bagi Allah SWT.
Berbicaranya Allah SWT berbeda
dengan bicaranya makhluk, karena sesungguhnya
bicaranya makhluk adalah sesuatu yang
diciptakan pada diri makhluk dengan membutuhkan perantara, seperti mulut, lidah dan dua bibir. Sedangkan bicaranya Allah SWT adalah berupa firman atau kalāmullah.
Adapun yang dimaksud dengan kalam Allah SWT menurut pendapat Syaikh Muhammad al-Fudhali bukanlah lafadz-lafadz syari‟fah (al-Qur‟an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw itu, karena al-Qur‟an tersebut baru saja di turunkan, sementara kalam yang ada pada Allah SWT itu qadim (sudah ada sejak dahulu kala) (Achmad Sunarto, 2012: 116).
Sedangkan menurut pendapat Abdullah Zakiy (1999: 34) kalam adalah sifat Allah SWT yang qadim dan berdiri dengan zatnya sendiri yang dilakukan tidak menggunakan huruf dan tidak pula menggunakan suara.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kalam adalah
sifat Allah SWT yang bukan berupa suara, huruf, atau bukanlah lafadz-lafadz
al-Qur‟an melainkan sifat Allah SWT yang ada karena zat-Nya sendiri sejak zaman
dahulu kala (qadim).
n) Sifat Qadiran bagi Allah SWT.
Sifat Qadiran ini merupakan
aplikasi dari sifat wujud dan yang
telah dahulu dan selalu menetap pada zat Allah SWT. Dengan sifat qadiran ini, Allah SWT akan mewujudkan dan meniadakan segala sesuatu kemungkinan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Adapun dalil qadirannya Allah SWT adalah:
Artinya: “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu” (Al-Baqarah:
20) (Mahmud, 2005: 4) .
Kekuasaan Allah SWT meliputi segala
yang dilangit dan dibumi. Seluruh alam semesta beserta
isinya diciptakan dengan kekuasaan-Nya, maka mustahil jika
Allah SWT mempunyai sifat „Ajzun (lemah).
o) Sifat Muridan bagi Allah SWT.
Tidak akan terjadi segala sesuatu
melainkan atas kehendakNya. Maka apapun yang dikehendaki-Nya pasti ada, dan
apapun yang tidak dikehendaki-Nya maka
tidak mungkin terjadi.
p) Sifat „Aliman bagi Allah SWT.
Pengetahuan Tuhan meliputi segala
sesuatu dari yang sebesar-besarnya sampai yang
sekecil-kecilnya, baik yang telah ataupun
yang akan terjadi di bumi, di udara, di laut, dan di mana saja, di dalam gelap atau terang, lahir atau bathin. Mustahil Allah SWT tidak mengetahui, karena tidak mengetahui berarti bodoh. Kebodohan
adalah sifat kekurangan, sedang Allah SWT Maha Suci dari sifat kekurangan.
q) Sifat Hayyan bagi Allah SWT.
Kehidupan Allah SWT itu kekal abadi,
tidak ada waktu lahirnya dan tidak ada waktu
matinya. Allah SWT hidup untuk selama-lamanya
dengan tidak berkesudahan.
r) Sifat Sami‟an bagi Allah SWT.
Pendengaran Allah SWT meliputi
segalanya. Sifat tersebut merupakan sifat yang harus ada pada
zat Allah SWT yang memiliki keterkaitan
dengan segala yang ada, yaitu dengan memiliki sifat tersebut segala sesuatu yang ada di dunia akan tampak jelas olehNya
baik yang ada itu wajib atau jaiz (Achmad Sunarto, 2012:106).
s) Sifat Bashiron bagi Allah SWT.
Penglihatan Allah SWT meliputi
segalanya. Sifat tersebut merupakan sifat yang harus ada pada
zat Allah SWT yang memiliki keterkaitan
dengan segala yang ada, yaitu dengan memiliki sifat tersebut segala sesuatu yang ada di dunia akan tampak jelas olehNya
baik yang ada itu wajib atau jaiz (Achmad Sunarto, 2012:106).
t) Sifat Mutakaliman bagi Allah SWT.
Berbicaranya Allah SWT berbeda
dengan bicaranya makhluk, karena sesungguhnya
bicaranya makhluk adalah sesuatu yang
diciptakan pada diri makhluk dengan membutuhkan perantara, seperti mulut, lidah dan dua bibir. Sedangkan bicaranya Allah SWT adalah berupa firman atau kalāmullah.
Sifat Wajib Mustahil Bagi
Alla
Kewajiban seorang Mukallaf harus mengetahui sifat mustahil bagi Allah. Sifat yang mustahil bagi Allah diantaranya:
1. Sifat „Adam mustahil bagi Allah SWT.
2. Sifat Huduts mustahil bagi Allah SWT.
3. Sifat Fana‟ mustahil bagi Allah SWT.
4. Sifat Mumatsalasu lil Hawaditsi mustahil bagi Allah SWT.
5. Sifat Ihtiyaju Li Ghairihi mustahil bagi Allah SWT.
6. Sifat Ta‟adud mustahil bagi Allah SWT.
7. Sifat Ajzun mustahil bagi Allah SWT.
8. Sifat Karahatun mustahil bagi Allah SWT.
9. Sifat Jahlun mustahil bagi Allah SWT.
10. Sifat Mautun mustahil bagi Allah SWT.
11. Sifat Sum‟un mustahil bagi Allah SWT.
12. Sifat „Umyun mustahil bagi Allah SWT.
13. Sifat Bukmun mustahil bagi Allah SWT.
14. Sifat „Ajizan mustahil bagi Allah SWT.
15. Sifat Karihan mustahil bagi Allah SWT.
16. Sifat Jahilan mustahil bagi Allah SWT.
17. Sifat Mayyitan mustahil bagi Allah SWT.
18. Sifat Ashoma mustahil bagi Allah SWT.
19. Sifat A‟ma mustahil bagi Allah SWT.
20. Sifat Abkama mustahil bagi Allah SWT.
Sifat Jaiz Bagi
Allah
Kewajiban seorang Mukallaf harus mengetahui sifat jaiz bagi Allah. Sifat-sifat jaiz bagi Allah yaitu: mumkinun.
Adapun Sifat Jaiz Bagi Allah SWT adalah bahwa Allah
berbuat apa yang dikehendaki, seperti dalam Al-Qur‟an disebutkan :
“Dan Tuhanmu menjadikan dan memilih barang siapa apa
yang dikehendaki-Nya.(Al-Qashash: 68)
Sifat Jaiz (kewenangan) bagi Allah SWT adalah sifat yang boleh ada pada
Allah SWT. Hanya ada satu sifat yaitu:
menciptakan setiap yang mungkin
wujudnya atau tidak menciptakanya).
Yang disebut “mungkin” ialah sesuatu yang bisa wujud dan bisa pula tidak wujud, sekalipun itu berupa perkara yang jelek seperti; kufur atau maksiat, menciptakan
makhluk, memberi rezeki, dan lain sebagainya.
Harus kita ingat bahwa Allah SWT
itu sempurna kekuasaannya, sempurna ilmunya dan sesuatu yang jaiz itu tentu boleh ada dan boleh tidak ada. Maka
Allah SWT pun Maha Kuasa untuk mengadakan dan
meniadakan.
Allah SWT boleh berbuat sesuatu, boleh juga tidak berbuat sesuatu. Berbuat atau tidak berbuat, menjadi wewenang sepenuhnya bagi Allah SWT. Dia bebas dan merdeka untuk menentukannya sendiri apa yang ingin diperbuat-Nya.
Demikianlah penjelasan sifat-sifat
Allah ini. Jadi jumlah sifat-sifat yang harus difahami dan diyakini meliputi :
20 sifat wajib, 20 sifat mustahil dan 1 sifat jaiz bagi Allah SWT, yang wajib
kita yakini dan kita ketahui secara terperinci.
Kemudian wajib pula bagi kita meyakini bahwa Allah SWT
bersih dari segala sifat kekurangan, karena Allah SWT mempunyai sifat sempurna
yang tiada terhingga apabila dipandang dari segi bilangan.
Sifat-Sifat Bagi
Seorang Rasul
Dalam pembahasan sifat wajib bagi
Rasul, mustahil dan Jaiz Rasul. Sifat wajib
bagi Rasul. Sifat wajib bagi Rasul adalah sifat
yang harus dimiliki oleh utusan Allah SWT (Rasul). Sedangkan
sifat mustahil bagi Rasul adalah
sifat yang mustahil dan tidak mungkin dimiliki oleh para Nabi dan Rasul, karena mereka semua maksum (terjaga dari dosa).
Telah diyakini bahwa para rasul yang diutus Allah, mereka adalah laki laki merdeka yang
telah dipilih dengan sempurna dan
dilengkapi dengan keistimewaan yang tidak dimiliki
makhluk biasa. Begitu pula telah diberikan kepada mereka sifat sifat kesempurnaan dengan tujuan untuk menguatkan risalah yang dibawa.
Selanjutnya, akan dibahas mengenai sifat-sifat yang wajib dan mustahil bagi seorang Rasul,
menurut pemikiran Sayid Ahmad Al-Marzuki
yaitu:
Sifat-Sifat Wajib Bagi Seorang Rasul
Kewajiban seorang Mukallaf untuk
mengetahui sifat wajib bagi Rasul diantaranya:
a. Seorang Rasul wajib mempunyai sifat Shiddiq (jujur).
Setiap Rasul pasti jujur dalam
ucapan dan perbuatannya. Apa apa yang
telah disampaikan kepada manusia baik berupa wahyu atau kabar harus sesuai dengan apa yang telah diterima dari Allah tidak boleh dilebihkan atau dikurangkan. Dalam arti lain apa yang disampaikan kepada manusia pasti benar adanya, karena memang bersumber dari Allah.
Kita sebagai manusia harus percaya
dan yakin bahwa semua yang datang dari
Rasul baik perkataan atau perbuatan adalah benar. Mustahil
Rasul memiliki sifat Kidzib (dusta),
karena Rasul dalam menyampaikan ajaran-Nya selalu
jujur.
b. Seorang Rasul wajib mempunyai sifat Amanah (dapat dipercaya).
Amanah berarti bisa dipercaya baik
dhahir atau bathin. Sedangkan yang dimaksud di sini
bahwa setiap rasul adalah dapat dipercaya
dalam setiap ucapan dan perbuatannya. Para Rasul akan terjaga secara dhahir atau bathin dari melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika.
Mustahil Rasul memiliki sifat Khianat, karena sikap dan perilakunya tidak pernah melanggar larangan dan aturan-aturan Allah serta tidak menyimpang dari ajaran-Nya.
c. Seorang Rasul wajib mempunyai sifat Tabligh (menyampaikan).
Rasul memiliki sifat tabligh, yakni
menyampaikan apa yang semestinya disampaikan. Wahyu yang
diterima seluruhnya disampaikan kepada umatnya dan tidak
ada satupun yang disembunyikan. Sehingga Nabi dan
Rasul sangat mustahil memiliki sifat
kitman atau menyembunyikan.
d. Seorang Rasul wajib mempunyai sifat Fathanah (cerdas).
Rasul dalam menyampaikan risalah
Allah, tentu dibutuhkan kemampuan dan strategi khusus agar
wahyu yang tersimpan didalamnya hukum hukum Allah dan
risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh
manusia.
Karena itu, seorang Rasul wajib memiliki sifat cerdas, dan mustahil Rasul memiliki sifat Baladah (bodoh).
Maka diharuskan bagi kita untuk meyakinkan bahwa
para rasul itu adalah manusia yang paling sempurna dalam penampilan, akal, kekuatan berfikir, kecerdasan dan pembawaan wahyu yang diutus pada zamannya. Kalau saja para rasul itu tidak sesuai dengas sifat sifatnya maka mustahil manusia akan menerima dan mengakuinya.
Sifat Mustahil
Bagi Rasul
Kewajiban seorang Mukallaf harus untuk mengetahui sifat
mustahil bagi Rasul diantaranya:
a. Seorang Rasul mustahil mempunyai sifat kidzib (dusta).
b. Seorang Rasul mustahil mempunyai sifat Khiyanah (bohong/melanggar).
c. Seorang Rasul mustahil mempunyai sifat Kitman (menyembunyikan).
d. Seorang Rasul mustahil mempunyai sifat Baladah (bodoh).
Dalam pembahasan selanjutnya diperkenalkan dan disebutkan beberapa nama
Malaikat dan nama Nabi yang terkandung dalam nadzom kitab tersebut, antara lain:
Adapun nilai pendidikan tauhid yang
ada dalam kitab Aqidatul Awam
yang terdapat dalam pasal IV menurut pemikiran Sayid Ahmad Al-Marzuki yaitu:
Kewajiban seorang mukallaf harus mengetahui nama-nama malaikat, diantaranya:
a) Jibril, tugasnya menyampaikan wahyu.
b) Mikail, tugasnya membagi rezeki.
c) Israfil, tugasnya meniup sangkakala.
d) Izrail, tugasnya mencabut nyawa.
e) Munkar, tugasnya menanyai didalam kubur.
f) Nakir, tugasnya menanyai didalam kubur.
g) Raqib, tugasnya mencatat amal baik manusia.
h) „Atid, tugasnya mencatat amal buruk manusia.
i) Malik, tugasnya menjaga pintu neraka.
j) Ridwan, tugasnya menjaga pintu surga.
Malaikat adalah makhluk yang
memiliki kekuatan- kekuatan yang
patuh pada ketentuan dan perintah Allah, Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya.
Selanjutnya, kewajiban
seorang mukallaf harus mengetahui nama-nama dua puluh lima Nabi, diantaranya:
1) Nabi Adam a.s
2) Nabi Idris a.s
3) Nabi Nuh a.s
4) Nabi Hud a.s
5) Nabi Shaleh a.s
6) Nabi Ibrahim a.s
7) Nabi Luth a.s
8) Nabi Isma‟il a.s
9) Nabi Ishaq a.s
10) Nabi Ya‟kub a.s
11) Nabi Yusuf a.s
12) Nabi Ayyub a.s
13) Nabi Syu‟aib a.s
14) Nabi Musa a.s
15) Nabi Harun a.su
16) Nabi Dzulkifli a.s
17) Nabi Daud a.s
18) Nabi Sulaiman a.s
19) Nabi Ilyas a.s
20) Nabi Ilyasa‟ a.s
21) Nabi Yunus a.s
22) Nabi Zakariya a.s
23) Nabi Yahya a.s
24) Nabi Isa a.s
25) Nabi Muhammad SAW
Hikmah dan Implikasi
Pemahaman dari kajian materi di atas mudah-mudahan
akan memberikan implikasi nilai-nilai pendidikan tauhid. Pendidikan tauhid mempunyai arti suatu
proses mengembangkan dan memantapkan kemampuan manusia dalam mengenal keesaan
Allah. Yang berarti mengembangkan potensi (fitrah) manusia dalam mengenal
Allah. Menurut pendapat Chabib Thoha, “Supaya siswa dapat memiliki dan meningkatkan
terus-menerus nilai iman dan taqwa kepada Allah Yang Maha Esa sehingga
pemilikan dan peningkatan nilai tersebut dapat menjiwai tumbuhnya nilai
kemanusiaan yang luhur (Thoha, 1996: 62)”.
Usaha mengubah tingkah laku manusia berdasarkan ajaran tauhid dalam kehidupan
melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan dengan dilandasi oleh keyakinan kepada
Allah semata, akan membentuk watak seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT
serta mampu mengimplementasikan nilai-nilai keimanan dalam kehidupan
bermasyarakat, sehingga mampu menjadi orang yang berguna bagi masyarakat yang
timbul saling mengasihi, menolong, memberikan hartanya yang lebih kepada mereka
yang membutuhkan.



Comments
Post a Comment