MEYAKINI TAKDIR ALLAH UNTUK MENCAPAI RIDHO-NYA
MEYAKINI TAKDIR ALLAH UNTUK MENCAPAI RIDHO-NYA
Oleh : Ubes Nur Islam
Alternatif & Solusi - Iman kepada Qada dan Qadar berarti percaya serta meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT memiliki kehendak (irodah), ketetapan (qodo), keputusan (takdir) atas semua makhluk-Nya. Meski memiliki hubungan yang erat serta sama-sama mempengaruhi proses kehidupan manusia, secara harfiyah memiliki makna berbeda, yang perlu dipaparkan di sini. Karena, realitasnya masih banyak diantara sahabat muslim yang masih gamang terhadap makna-makna kata tersebut.
Secara umum, takdir diartikan sebagai putusan Allah SWT yang berlaku bagi seluruh mahluk-Nya, termasuk manusia. Berlakunya takdir atas dasar keyakinan akan adanya kekuasaan dan kehendak mutlak Sang Pencipta serta status manusia sebagai makhluk.
Menurut
golongan Asy'ariyah, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak. Seluruh alam
semesta berada di bawah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya. Manusia
yang merupakan bagian dari alam ini juga berada di bawah kekuasaan dan kehendak
mutlak Tuhan.
Dalam menjelaskan kemutlakan Tuhan ini, Abu Hasan al-Asy'ary dalam kitab al-Ibanah an Usul ad-Dinayah (Uraian tentang Prinsip-Prinsip Agama) menyatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun; di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat oleh Tuhan dan apa yang tidak boleh dibuat.
Golongan Asy'ariyah membahas masalah takdir dalam kaitannya dengan qada, yang berarti 'jangka atau ukuran.' Bagi golongan ini qodo merupakan ketentuan Tuhan yang didalamnya terdapat iradah-Nya untuk segala mahluk
Sementara, qadar merupakan
perwujudan dari ketentuan yang ada, yang tidak berubah sedikit pun. Karena
qada, maka kehidupan manusia pada dasarnya adalah realisasi dari apa yang telah
digariskan Tuhan pada azali (sejak permulaan zaman) baik di kehidupan yang
menyangkut hal-hal baik maupun hal-hal jelek, beruntung atau rugi, senang atau
menderita, dan lain sebagainya.
Dalam hal ini al-Asy'ari mengutip sebiah hadist di dalam kitabnya, al-Ibanah, yang artinya: "Sesungguhnya seorang kamu telah dikumpulkan kejadiannya di dalam perut ibumu 40 hari.Kemudian, masih berada di sana dalam bentuk segumpal daging. Setelah itu, Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk menulis empat kalimat, yaitu tentang ajalnya, rezekinya, pekerjaannya dan kesenangan atau kebahagiaannya. Kemudian ditiupkan kepadanya roh." (HR Bukhari Muslim, Abu Dawud, at-Tarmizi dan Ibnu Majah).
Walaupun ajaran tentang takdir (qada dan qadar) ini tidak dikemukakan secara tegas dalam Alquran, tetapi dalam hadis banyak dijelaskan.
Menurut sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, pernah datang seorang
laki-laki kepada Rasulullah SAW yang kemudian ternyata orang itu adalah
Malaikat Jibril. Ia menanyakan arti iman, Islam, dan ihsan. Di dalam dialog
antara Rasulullah dan Malaikat Jibril itu, Rasul memberikan pengertian tentang
iman yang artinya, "Iman ialah engkau beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta
engkau beriman kepada qadar (ketentuan Tuhan) baik dan buruk."
Di atas sudah disinggung mengenai pengertian qodo an qodar secara umum. Baiklah kita lengkapi bahasan definisi ini secara rinci.
Secara etimologis, qadha’ merupakan bentuk masdar dari kata kerja qadha yang berarti kehendak atau ketetapan hukum Allah SWT terhadap segala sesuatu. Sedangkan qadar merupakan bentuk masdar dari qadara-yaqdaru-qadaran berarti ukuran atau ketentuan Allah SWT terhadap sesuatu.
Para ulama berbeda pendapat dalam mendifinisikan antara qadha dan qadar. Diantaranya ada yang menyatakan bahwa makna dari qadha dan qadar adalah sama, yakni sebagai berikut:
“Segala ketentuan, undang-undang, peraturan, dan hukum yang diterapkan secara pasti oleh Allah SWT untuk segala yang ada, yang mengikat antara sebab dan akibat segala sesuatu yang terjadi.”
Ulama yang menyatakan adanya perbedaan makna antara qadha dan qadar, menyebutkan bahwa qadha adalah penciptaan oleh Allah SWT terhadap segala sesuatu sesuai dengan ilmu dan iradah-Nya. Sedangkan, qadar adalah ilmu Allah SWT mengenai segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluk-Nya pada masa yang akan datang.
Sebagian ulama mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan qadar ialah takdir, sedangkan qadha’ adalah penciptaan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka Dia menjadikannya tujuh langit… .” (QS. Fushshilat: 12)
Dari ayat tersebut, dapat dinyatakan bahwa Allah ta’ala telah menetapkan sesuatu sejak zaman azali yakni penciptaan langit (qadha’). Kemudian, Allah ta’ala melakukan penciptaan tersebut dengan mempertimbangkan segala sesuatu sebelumnya.
Dalam pandangan
lainnya, Qada secara bahasa
yang berarti hukum, ketetapan, dan kehendak Allah. Semua yang terjadi berasal
dari Allah SWT, sang pemilik kehidupan. Sebelum adanya proses kehidupan, Allah
sudah menuliskan apa saja yang akan terjadi. Baik itu tentang kebaikan,
keburukan dan juga tentang hidup atau mati.
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي
ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ ۚ وَإِلَى اللَّهِ
تُرْجَعُ الْأُمُورُ
Dalam Al Qur'an surah Al-Hijr ayat 21
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ
Para ulama dari golongan Asy-Ariyah telah membagi tentang taqdir ini menjadi dua bagian: takdir mua’allaq dan takdir mubrom. Berikut ini penjelasannya.
Takdir Muallaq
Takdir muallaq masih bisa berubah jika manusia berusaha mengubahnya. Misalnya seseorang yang miskin bisa menjadi kaya, ingin pintar, dan lain sebagainya. Semua itu harus melewati proses usaha yang keras untuk mencapai semuanya.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ
يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا
مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا
يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Dan tiap-tiap umat memiliki, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula melanjutkannya."
Rasul SAW berkata:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Semua yang terjadi di dunia
ini sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT seperti adanya pergantian siang dan
malam, adanya alam yang indah, sebaliknya adanya hal-hal yang ditetapkan seperti
bencana alam, musibah dan lain sebagainya. Begitu pula adanya perbedaan keadaan
manusia, Allah menciptakan manusia dengan bermacam ragam, ada wujud yang
sempurna atau kurang sempurna. Adapun Allah mengatur setiap kebutuhan manusia
dan menempatkan kondisi manusia dalam berbagai macam hal yang berbeda. Karena
yang sedemikian itu adalah sebuah ketentuan yang sudah pasti baik adanya dan
seharusnya manusia juga mampu mengimani sampai sedalam itu.
Hikmah Iman Kepada Qada dan Qadar
Hikmah beriman kepada qada dan qadar akan menghasilkan sikaf dan kepribadian
sebagai berikut: pertama, selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan
Allah SWT, sebab percaya bahwa takdir Allah merupakan ketetapan yang terbaik
bagi seluruh makhluk-Nya. Kedua,
selalu rendah hati bahwa segala sesuatu yang terjadi itu semua
berkat kehendak Allah.
Anatara Manusia dan Takdir Allah
Hadits di atas menyebutkan takdir baik maupun buruk. Manusia senantiasa mampu menyiapkan diri dan mental untuk menyambut bukan hanya suatu ketetapan yang diberikan kepada manusia dalam keadaan baik saja, namun juga manusia mampu mempersiapkan dalam keaadaan buruk juga. Manusia akan lebih mudah menerima jika dirinya diberi keadaan takdir yang baik seperti mendapatkan rezeki yang melimpah dan lain sebagainya.
Namun, manusia akan susah menerima takdir baginya dalam keadaan buruk atau sebagai musibah dan cobaan. Karenanya sering kali manusia frustasi dan menempatkan prasangka buruk kepada takdir yang telah Allah berikan kepadanya
Sejatinya manusia mampu membuat rencana yang hebat. Mampu merencanakan untuk mencapai kepentingan dan tujuannya dengan detail dan rinci. Akan tetapi, sebagus-bagusnya rencana manusia ketika Allah tidak meridhoi rencana itu terjadi manusia mampu berbuat apa. Mau tidak mau kita harus menerima apapun yang terjadi dalam hidup kita baik ataupun buruk.
Sehingga kita seringkali tidak menerima keadaan dan seringkali menyalahkan takdir Allah yang salah terhadap dirinya. Manusia mulai merasa bahwa nikmat yang diberikan Allah adalah suatu ketidak adilan.
Musibah bisa saja menimpa kepada siapa saja terserah kehendak Allah. Misalnya, ketika seorang pedagang yang berjualan dari siang sampai malam, dirinya telah bekerja keras serta mempunyai perhitungan bahwa ketika hari itu akan sangat ramai, namun karena hujan lebat seharian alhasil pelanggan yang datang hanya sebanyak hitungan jari. Hal yang terjadi adalah pedagang tersebut tidak bisa menolak dari takdir yang demikian. Takdir yang demikian seringkali membuat kita jauh akan syukur kepada Allah.
Adapula perencanaan manusia yang telah merencanakan dan mempersiapkan tentang jodoh. Pada suatu hari, ada sepasang calon pengantin yang telah saling mengenal dengan cara ta’aruf sehingga mendapatkan keinginan yang sama yakni melangsungkan ke jenjang pernikahan. Keduanya telah merencanaka dengan matang apa saja yang diperlukan untuk melangsungkan pernikahannya. Undangan telah dicetak dan disebar luaskan, gedung pernikahan telah dipersiapkan, kedua belah pihak keluarga telah saling mempersiapkan kostum dan hari pelaksanaan dengan matang.
Semua hal tersebut menurut
renananya akan berjalan dengan sangat lancar dan baik, tidak akan ada suatu hal
yang mampu menghentikan rencana mulia mereka. Akan tetapi pada hari
berlangsungnya akad pernikahan, mempelai pria mengalami musibah kecelakaan
dengan satu mobil rombongannya menuju lokasi pernikahan. Allah pun berkehendak
lain, kecelakaan tersebut mengakibatkan meninggal dunia calon mempelai
suaminya.
Hal-hal di atas seringkali membuat manusia akan merasa bahwa dunia tidak adil, takdir Allah tidak bagus dan merasa garis hidupnya tidak jelas. Namun akan tiba saatnya manusia akan menyadari apa yang telah direncanakan oleh Allah adalah suatu hal yang terbaik bagi hidupnya. Tidak sedikit juga di antara banyak manusia yang memiliki hati yang tangguh dengan mampu menerima dan selalu bersyukur dengan semua apa yang telah Allah tetapkan.
Salah satu ayat-Nya Allah Swt menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah keadaan yang ada pada dirinya. Inilah landasan atau dasar suatu muslim untuk beriman kepada takdir Allah Swt. Hal ini pula yang seharusnya menjadi pendorong bagi setiap muslim untuk memperbaiki keadaan hidupnya melaksanakan tugas sebagai khalifah di bumi.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang masalah Takdir, konsep takdir dan hubungannya dengan pengembangan sumber daya Manusia agar manusia tidak hanya pasrah terhadap garis kehidupan yang sudah ditentukan Allah, padahal Allah juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengubah nasib yang bisa diubah salah satunya seperti hidup miskin menjadi kaya.
Selain itu untuk meluruskan pemahaman orang – orang tentang konsep takdir yang sering menimbulkan perdebatan mengenai takdir. Oleh sebab itu, peranan tauhid sangat diperlukan sebagai modal unuk mendapatkan nilai (kualitas) ibadah. Manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, maka Allah memerintahkan manusia untuk berusaha, berikhtyar, dan berdoa untuk merubahnya. “usaha nyata” yang diamati oleh panca indra , diukur, dan diramalkan.
Ikhtiar berasal dari bahasa Arab (إخْتِيَارٌ) yang berarti meilih jalan dari pemikiran atau inspirasi untuk mencapai hasil yang lebih baik. Secara Istilah, ikhtiar ialah usaha manusia untuk memenuhi kehidupan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi.
Pada dasarnya manusia ingin mendapati keadaannya menjadi lebih baik. Dalam menjalani takdir Allah SWT kita tidak boleh pasrah pada keadaan. Untuk itu, manusia harus berikhtiar atau berusaha menjadikan keadaan tersebut menjadi seperti yang ia inginkan. Seorang yang lapar maka ia harus makan, apabila seseorang ingin pandai maka ia harus belajar.
Karena berdasarkan firman Allah SWT, “..Sesungguhya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri merreka sendiri..” (Q.S Ar-Ra’d: 11).
Setelah itu barulah manusia hendaknya bertawakkal kepada Allah SWT dengan menyerahkan hasilnya atas ikhtiarnya kepada Allah. Apabila hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan, itu dikarenakan kehendak Allah SWT dan atas usaha maksimal yang telah dilakukannya. Tidak sepantasnya manusia menyombongkan usahanya semata sebagai sebab berhasilnya ia. Apabila hasilnya gagal, hendaklah ia senantiasa bersabar dan tidak putus asa. Larangan berputus asa telah Allah gambarkan dalam Q.S Yusuf : 87.
”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”.
Iradat (Kemauan) adalah sifat (atribut) yang dapat menentukan,untuk penciptaan alam ini dengan salah satu jalan-jalannya yang mungkin.
Setelah tetap bahwa Zat.Yang Memberikan wujud kepeda segala yang mungkin ada, Wajib adanya dan bahwa Ia adalah Mengetahui (‘Alim), dan bahwa segala wujud yang mungkin ini tak dapat tidak mesti sesuai dengan ilmu-Nya,tetap pulalah dengan pasti,bahwa Ia mempunyai “Kemauan”,sebab Ia harus berbuat sesuai dengan Ilmu-Nya.
Kemudian perlu dijelaskan,bahwa segala yang maujud harus menurut ketentuan yang khusus dan sifat tertentu,menurut waktu,tempat dan ruang yang tertentu pula.Jalan ini telah ditentukan bagi yang maujud itu dan bukanlah jalan-jalan yang lain.Ketentuan yang demikian itu harus sesuai dengan Ilmu,dan tidak ada makna lain bagi Iradat (Kemauan) kecuali ini.
Apa yang dikenal orang selama ini tentang arti Iradah bahwa orang yang berkemauan leluasa melaksakan kehendaknya atau untuk mengurungkannya dengan semuanya. Pengertian yang seperti iti adalah mustahil pada diri Zat Yang Wajib Wujud.Karena makna seperti ini adalah merupakan keinginan-keinginan alam(manusia) biasa,dan merupakan cita-cita yang merusak,karena makna yang demikian adalah kelanjutan dari kekurangan ilmu pengetahuan.Kemauan yang seperti itu akan berubah-ubah menurut perubahanhukum, dan meragukan orang yang mempunyai kemauan itu sendiri, untuk membuat keputusan dalam situasi terus berbuat atau tidak.
Antara Takdir dan Usaha Integral
Manusia Mencapai Mutu Sumberdayanya
Sumber daya manusia (SDM) sebagai potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk.
Sebagai umat islam maka dituntut untuk mengimani adanya Qadla dan Qadar Alloh. yang mana telah di sedikit dijelaskan tentang hubungan takdir dan ikhtiar, umat islam harus berusaha dalam menumbuhkan sikap tidak pantang menyerah untuk menggali potensi yang di miliki dengan bekal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sebagai pemberi potensi dan yang Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya yang telah berusaha.
Untuk meningkatkan mutu SDM diperlukan berbagai macam pendidikan dan pengajaran, salah satunya adalah mengimani adanya Qadla dan Qadar Alloh sebagai refleksi pemahaman ilmu tauhid.
Usaha-usaha pemupukan rasa keimanan sebagai fitrah manusia harus sungguh-sungguh mendapat perhatian setiap muslim. Usaha tersebut dilakukan melalui proses yang lazim, yaitu pembiasaan, pembentukan pengertian dan pembentukan budi luhur.
Apabila pertumbuhan dan perkembangan pengenalan kepada Allah berjalan dengan baik dan lancar dan kebiasaan baik yang berhubungan dengan tauhid sudah menjadi aktifitas keseharian maka terbentuklah rasa iman kepada Allah yang mendalam baginya.
Manusia adalah bagian dari bangunan besar alam semesta yang dibangun atas sekian banyak unsur terkecil yang saling berelasi membentuk organ – organ, dan organ – organ berelasi membentuk tubuh manusia. Dalam konteks ini, manusia dibangun oleh sekian banyak hukum atau takdir, yaitu unsur – unsur yang mempengaruhi dan membangun tubuhnya. Jika demikian, takdir Allah mengenai umur manusia, rizqi, mati, bahagia dan susahnya sudah ditetapkan atau ditakdirkan oleh Allah, mestinya tidak dipahami sebagai sesuatu yang sudah pasti dan ada begitu saja, akan tetapi harus dipahami sebagai “sesuatu yang adanya dibangun oleh berbagai macam takdir yang saling berelasi dan mempengaruhi manusia”, membentuk umur manusia, rizqi, mati, bahagia dan susahnya.
Takdir Allah tentang umur dan mati misalnya, tidak benar bahwa setiap manusia telah ditetapkan umurnya 10tahun, 20 tahun, 50 tahun, dan seterusnya sehingga pada saat manusia mencapai pada umur yang ditetapkan manusia akan mati. Akan tetapi, manusia berada dalam ruang dan waktu, dan berjalan sesuai takdir atau hukum Allah di alam semesta ini.
Manusia memang tidak mengetahui berapa umurnya dan kapan akan mati, tetapi manusia bisa mengusahakan agar umurnya menjadi panjang dan tidak cepat mati, dengan cara mengikuti, menyesuaikan, dan menyikapi berbagai hukum atau takdir Allah di alam semesta ini.Manusia yang sehat akan cenderung panjang umur dantidak cepat mati sedangkan orang yang sakit akan cenderung pendek umur dan cepat mati.
Masih banyak hal yang mempengaruhi umur dan mati seperti kecelakaan, sakit, dibunuh, dan sudah tua karena organnya sudah tidak berfungsi lagi.
Demikian juga selain mati, takdir rezeki, bahagia, susahnya manusia dibangun oleh berbagai faktor dan unsur yang semuanya berjalan mengikuti dan sesuai hukum Allah. Doa, silaturahmi, shadaqah, dan berbuat baik merupakan bagian dari sekian banyak unsur yang membangun takdir tentang umur, rezeki, mati, bahagia, susah manusia sehingga hal – hal tersebut bisa mengubah takdir. Doa adalah bagian dari dzikir, dzikir menjadikan hati manusia tenang.
Jika hati tenang, psikis sehat. Silaturahmi, manusia bisa memecahkan masalah hidup, meminta solusi kepada orang lain dan tidak banyak pikiran sehingga kalau manusia banyak pikiran maka akan stres serta bisa terjalin relasi – relasi yang dalam konteks bisnis akan banyak mendatangkan rezeki. Shadaqah menjadikan manusia tidak khawatir, tidak susah dan akan cenderung merasa aman dari lingkungannya. Semua hal – hal di atas merupakan hukum – hukum yang bisa mempengaruhi dan merubah takdir manusia.
Sehingga
dapat dipahami bahwa takdir adalah hukum Allah yang ditetapkan dan dibangun
berdasarkan kekuasaan, daya, potensi, dan batasan yang setiap unsur terkecil di
alam semesta ini memiliki hukum masing – masing yang saling mempengaruhi dan
berelasi satu dengan yang lainnya. Selain itu kita dituntut untuk mengimani
adanya Qadla dan Qadar Alloh yang mana telah di sedikit dijelaskan tentang
hubungan takdir dan ikhtiar, umat islam harus berusaha dalam menumbuhkan sikap
tidak pantang menyerah untuk menggali potensi yang di miliki dengan bekal
keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT sebagai pemberi potensi dan yang Maha
Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya yang telah berusaha.
Kebanyakan muslim ketika ditanyai apa yang mereka cari dalam hidup ini? Mereka selalu menjawab mencari ridho Allah, karena mereka ingin mendapat ridho dari Allah. Akan tetapi hal yang sebenarnya bahwa ridho Allah bukan untuk diminta dan dicari tetapi untuk mereka lakukan. Karena subjek utama ridho Allah adalah diri mereka sendiri yang harus ridho kepada Allah bahwa kemudian Allah ridho adalah hal yang otomatis.
Karena tidak mungkin kalau mereka ridho dengan takdir Allah lalu Allah tidak meridhoi. Rumus sederhana di puncak firman-firman Allah dengan siapa yang dipanggil Allah untuk memasuki hilir kemesraan cinta dengan Allah. Siapa yang kompatibel terhadap cinta Allah, karena unsur kompatibelnya adalah Rodhiatan Mardiyah. Hal ini sesuai dengan firman Allah: يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ Wahai jiwa yang tenang! ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. (Q.S.al-Fajr [89]: 27-28)
Dari dalil di atas menyebutkan bahwa semua manusia di muka bumi ini bisa jadi Allah meridhoi dan menerima amalan kita bisa jadi tidak, kecuali beberapa orang yang dijamin masuk surga oleh Allah seperti Rasulullah. Selain itu, semua manusia di dunia ini kedudukannya sama di mata Allah. Oleh karena itu, kita tidak usah sibuk mencari ridho Allah, akan tetapi kitalah yang harus terus menerus ridho kepada Allah karena rumusnya adalah Rodhiatan Mardiyah bukan terbalik Mardiyatan Rodhiah. Jadi kitalah yang harus memastikan setiap saat ridho kepada apapun saja yang Allah tentukan untuk kita, jika kita ridho dan terus ridho efeknya pasti diridhoi oleh Allah.
Hal yang disebut kita ridho kepada Allah adalah ridho kepada setiap aplikasi Allah dalam hidup kita. Misalnya jantung kita berdetak menandakan bahwa Allah mempunyai urusan dengan jantung kita dan kita harus ridho dengan nikmat demikian. Sebagaimana pohon, binatang dan alam itu adalah 100% ekspresi dari ridho. Oleh karena itu, temukanlah ridho karena manusia adalah makhluk yang diberi akal untuk mengambil jalan dari kehidupan maka setiap hari manusia harus menemukan yang mana saja dari perilaku kita hari ini yang diridhoi Allah dan mana saja yang tidak dirihoi. Termasuk yang mana perilaku kita yang mencerminkan ridho kepada Allah dan mana yang tidak itulah ukuran hidup.
Seharusnya kita ridho berlangsung di setiap saat dalam hidup kita. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak berdiri di fakta hidupnya, tidak berdiri di kenyataan hidupnya mereka berdiri di harapannya saja. Maka yang akan terjadi adalah akan selalu merasa kurang apa yang di dapat dari hidupnya. Namun jika kita ikhlas berpijak ditempat dan momentum yang Allah beri serta dengan meridhoi apa yang telah Allah karuniai kita sampai saat ini dengan posisi dan keadaan bagaimanapun. Maka ridho Allah akan menyertai keikhlasan kita untuk melangsungkan kehidupan kita.
Kesimpulan pada pembahasan
Rodhiatan Mardiyatan adalah ketika umat muslim di dunia ini telah
mengaplikasikan ridho untuk diridhoi, maka akan terciptanya hati yang
senantiasa ikhlas kepada setiap ketentuan yang Alah berikan. Serta kita menjadi
hamba Allah yang insyaAllah dimuliakan Allahkarena mendapatkan ridho Allah.
Semoga kita semuanya menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur atas ni’mat
Allah dengan segala takdir-Nya. (*dari
berbagai sumber)



Comments
Post a Comment