Ramadhan sebagai Madrasah Ruhaniah
Ramadhan sebagai Madrasah Ruhaniah
Oleh: Ubes Nur Islam
Alternatif & Solusi - Ubadah bin Al Shamit menceritakan: Pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menceritakan: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatnya”. Ketika sahabat-sahabatnya berkata “Na’am ya Rasulullah”, kemudian Rasul berkata: “Engkau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, engkau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya (Al-Tagrib wa Al Tarhib 3:342).
Kita akan menjadi manusia
biasa jika kita tentang orang yang menentang kita, kita balas dengan aniaya
kepada orang yang menganiaya kita; atau kita haramkan juga harta kita kepada
mereka yang telah mengharamkan hartanya untuk kita; serta kita jauhi mereka
yang telah memutuskan silaturahim dengan kita.
Dalam konsep psikologi
komunikasi dikenal dengan “homeophaty” yaitu menciptakan
suatu kondisi yang kontras dengan keadaan agar mencapai suatu keseimbangan
psikologis. Dalam keseharian, jika kita mengalami kondisi stres, maka kita
kemudian mensugesti diri kita dengan ungkapan tenang dan rileks. Jika kita
mengalami cacian dan hinaan yang menyakitkan, maka kita balas cacian dan hinaan
itu dengan kalimat pujian dan penghargaan, maka secara psikologis kita akan
mengalami keseimbangan. Tindakan itu sulit kita lakukan, akan tetapi jika kita
berhasil melakukannya maka secara psikologis kita akan jauh lebih sehat dan
lebih berfikir positif.
Kesehatan jiwa karena tindakan
dan ucapan kita bukan sebagai sebuah pemberian dari orang lain, melainkan kita
ciptakan, kita bangun dan kita pelihara. Para motivator atau para konsultan
kejiwaan melalui seminar atau jaringan media sosial seringkali memberikan
sugesti positif agar kita selalu berfikir positif dan optimistis, padahal sejak
1500 tahun lalu Rasulullah telah mengajarkan nilai-nilai positif ini dalam
keseharian kita dengan prinsip homeophaty ini.
Kondisi homeophatis kita alami
pada bulan Ramadhan ini. Seringkali kita berhasil menahan amarah kita kepada
orang lain dengan ucapan karena sedang puasa, atau ungkapan spontan “untung
sedang puasa” ketika kita tidak mengumbar amarah kepada situasi yang
memungkinkan kita melakukannya.
Secara biologis kita haus dan
lapar, sementara minuman dan makanan tersedia di siang hari, karena tubuh dan
jiwa kita dipersiapkan dalam keadaan puasa, akhrnya kita tidak meminum dan
memakannya walaupun minuman dan makanan itu halal.
Menciptakan kondisi kontras
atas suatu keadaan negatif dengan dasar sugesti positif hakikatnya adalah suatu
proses pelatihan dan pendidikan untuk mencapai suatu keberhasilan dengan
prinsip keseimbangan. Ramadhan menjadi “madrasah ruhaniah” dalam menciptakan
kondisi seperti itu. Satu perduabelas bulan dalam setahun ummat muslin yang
beriman melakukan “pesantren” melalui “madrasah ruhaniah” bulan Ramadhan.
Keberhasilan pesantren ini
akan tercermin dalam sebelas bulan berikutnya. Indikatornya adalah kita akan
jauh lebih sehat, baik secara ruhaniah, psikologis maupun biologis kita,
termasuk dalam perilaku komunikasi kita dengan orang lain.
Selain tubuh dan jiwa kita
lebih sehat, kita menjadi orang yang berhasil membiasakan mengcapkan kata-kata
santun kepada orang yang menentang kita; mengungkapkan kelembutan hati kepada
mereka yang menganiaya kita; memberikan harta kita kepada orang yang
mengaharamkan hartanya untuk kita; dan menebarkan kasih sayang kita kepada
orang yang memutuskan silaturahim adalah hasil kelulusan kita menempuh
pesantren di madrasah ruhaniah ramadhan ini. Dan tentu saja kita akan otomatis
naik derajat kita di hadapan Allah SWT. Insha Allah.



Comments
Post a Comment