SIMBOLISTIK STYLE, PENENTU KARAKTER DAN FENOMENA HATI
SIMBOLISTIK STYLE,
PENENTU KARAKTER DAN FENOMENA HATI
Ubes Nur Islam
Alternatif & Solusi - Style dapat diartikan sebagai simpul
arsitektur karakter seorang. Dalam dunia fasion, style bermakna gaya hidup. Kemudian
kata style juga bisa diidentikkan dengan istilah i’rab dalam terminologi ilmu
nahwu (salah satu cabang ilmu kaidah bahasa Arab). I’rab, secara bahasa,
berarti lambang atau tanda baris. Dalam Ilmu Nahwu, berarti lambang yang menandakan sebuah tanda
baca atau menyuarakan huruf konsonan arab (huruf hijaiyah) yang berbunyi
tertentu (vokal). Misalnya suara A, I, U, AN, IN,UN dan atau hilangnya suara
konsonan huruf hijaiyah karena waqaf, sukun dan hadzfun nun.
Dalam istilah tasawwuf, pengertian I’rab berarti lambang sebuah
gerakan (fi’liyah/harakah) pada sebuah gerakan badani, baik jasad
jasmani maupun ruhani, yang meliputi gerak anggota tubuh (gerak arkan), gerak
qauliyah dan maupun
gerak qalbiyah.
Gerak tubuh adalah semua gerakan yang dilakukan oleh seluruh
anggota badan, anggota tubuh (tangan, kaki, kepala, awak, termasuk panca
indra). Apa yang dilakukan anggota tubuh itulah gerak arkan (fi’liyah).
Sementara gerak qauliyah adalah gerak lisan (mulut) saja. Dan yang
terakhir adalah gerak qalbiyah, yakni gerakan yang dilakukan oleh hati sanubari
(qalb).
Keberadaan manusia, eksistensinya terukur oleh tiga gerakan yang
dilakukan oleh anggota tersebut di atas. Manakala ia bergerak, maka itulah
gerakannya. Sebaliknya, manakala ia diam, baik semuanya atau salah satunya,
maka keberadaanya otomatis tidak dapat diperhitungkan lagi.
Berikut ini ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa tubuh
manusia itu bergerak elastis dan fleksibel, yang disitilahkan oleh al-ghazali
sebagai irab. Namun demikian, al-ghazali menyoroti gerakan tubuh ini hanya pada
gerakan hati.
Menurutnya, gerakan hati yang disebut I’rab hati, dapat ditandai
dengan empat macam karakter, yaitu antara lain:
1. rafa'
(terangkat)
2. fatha
(terbuka)
3. khafadz
(turun)
4. waqaf
(berhenti/mati)
Rafa' (terangkat), artinya hati bisa disebut bergerak manakala
hati itu melakukan dzikir kpd Allah, pada setiap detiknya, tanpa adanya sesuatu
yang lainnya. Hati selalu konsentrasi memadu kasih ingat akan Allah selalu.
Tanda karakter rafa' hati ada 3, yaitu meliputi:
Pertama, ada
kecocokan, artinya segala gerak langkah hidup dan kehidupannya selalu sinergis
berjalan seimbang antara keinginan Allah dan keinginan yang dilakukan dia.
Hukum-hukum Allah berjalan di sanubarinya. Segala perintah, kewajiban, sunnah,
mustahab dan mubah (jaiz) berjalan seiring dengan tertib dan sistemik sesuai
aturan Allah.
Kedua, hilangnya
penyimpangan, artinya bentuk segala gerak dan tingkah laku sama sekali tidak
kontra diktif dengan hukum-hukum Allah. Segala bentuk hukum haram, makruh, yang
terlarang, segala bentuk kedzaliman, kekufuran, munafik, akhlaq madzmumah
sangat terjauh darinya.
Ketiga, lestarinya
kerinduan, artinya segala apa yang terbetik di dalam hatinya hanya suasana
kerinduan ilahiyah. Setiap langkah dan geraknya menjadi motivasi untuk mencapai
cinta kasih dari Allah, kerinduan akan ridha, rahmat dan maghfiroh, yang
dibungkus dengan khof dan roja menjadi kesahduan, setiap langkahnya. Kerinduan
dirinya diaflikasikan dengan melakukan berbagai amaliyah dzikir, riyadhoh,
taqarrub, dan mujahadah kepada Allah.
Fath (terbuka), artinya hati adalah selalu terbuka luas menerima
fasilitas yang tersedia dan realitas yang ada, tanpa sedikit pun merasa
menolaknya, walaupun yang didapatkannya sangat minus, kecil, tak memadai,
dan bahkan menyakitkan secara kasat mata. Artinya ia rela dan ridho kepada
taqdir dari Allah.
Tanda karakter Fath hati ada 3, yaitu meliputi:
Pertama, kepasrahan, artinya
segala tidakan dan fenomena hidupnya diserah terimakan kepada Allah. Bentuk
amaliah badani dan ruhaniyah diserahkan kepada Allah, tanpa memikul keinginan
apa pun atas segala bentuk perbuatan yang dilakukannya. Termasuk segala apa
yang tersaji dan yang diterima dari Allah, dia terima secara ikhlas, tanpa
mengeluh, bahkan dia banyak bersyukur terhadapa apa yang dia dapatkan.
Kedua, kejujuran, artinya
segala tingkah laku dan gerak badani, yang berupa amliyah itu, dilakukan
setulus hatinya tanpa ada tujuan material duniawi sedikit pun atau karena ingin
terlihat oleh pandangan makhluk apa pun. Semua hanya jujur karena Allah saja.
Pengabdian tulus kepada Allah.
Ketiga, keyakinan, artinya
segala perbuatannya hanya kepada Allah. Dia yakin hanya Allah yang mampu
menilai baik buruk perilakunya. Oleh karena ia takut dan sekaligus mengharap
kepada Allah. Hanya Allah segala apa yang dia lakukan, tidak lain.
Khafadz (turun), artinya hati adalah selalu sibuk dgn selain
Allah. Merupakan kebalikan dari rafa. Fenomena hati dalam keadaan ini cenderung
melupakan Allah. Banyak melakukan penyimpangan yang dilakukan tubuh (baik fisik
maupun ruhaninya). Ia terlalu sibuk memikirkan hal-hal duniawi, mulai harta,
tahta, wanita, anak-anak, namun ia masih tetap ingat kepada Allah, walau pun
ingatannya sesekali terganggu oleh hawa dunyawi.
Tanda Karakter khafadz hati ada 3, yaitu meliputi :
Pertama, bangga diri, artinya
karakter pribadi orang type ini selalu membanggakan diri, sombong, takabbur,
tak pernah mau mengalang, ingin selalu dipandang hebat dan wah, segala
sesuatunya dialah yang paling baik, paling super dan tak terkalahkan, tak ada
bandingnya.
Kedua, pamer, artinya
secara otomatis karakter selanjutnya ia selalu memamerkan segala hasil karya
perbuatannya, walaupun perbuatannya kadang tak sebanding dengan sifat
takabburnya. Ucapan dan tindakannya melebihi karya yang sebenanya. Andaikan ia
beribadah atau beramal, tiada lain kecuali bersifat simbolik, hanya ingin
terlihat bahwa ia ada di dalam lingkup majlis tersebut, atau ia juga masuk pada
golongan mereka.
Ketiga, tamak, yaitu selalu
memperhatikan dunia, rakus dan sama sekali tidak peduli kepada sesamanya. Yang
dilihat adalah kelebihan dari apa yang dia lakukan, kerjakan. Segala sesuatu
perbuatan harus bernilai materila. Bukan keridhoan atau balik kasih dari Allah.
Segala upaya dianggap buah karyanya tanpa mengingat itu dari karunia dan
pemberian Allah.
Waqaf (berhenti/mati), artinya hati adalah lalai dari Allah. Merupakan
kebalikan dari Fath. Fenomena hati dalam keadaan ini cenderung melupakan Allah
atau sama sekali mengingkari-Nya. Banyak melakukan penyimpangan lebih sadis dan
radikal, yang dilakukan tubuh (baik fisik maupun ruhaninya). Ia terlalu pesimis
dan aptis terhadap Allah. Ia tidak lagi mengindahkan Allah. Ia lebih memilih
jalan hawa nafsunya, lebih sibuk memikirkan segala sesuatu tindakan yang
menimbulkan tingkat mubazir dan membahayakan diri dan orang lain, seperti
banyak tidur dan melalum, thulul amal. Bahkan berfikir selalu melakukan makar
dan berbuat jahat (dzalim). Aktifitas menuju Allah terhenti total.
Tanda Karakter waqaf hati ada 3, yaitu meliputi :
Pertama, hilangnya
rasa manis dalam ketaatan, artinya karakter ini menunjukan, bahwa segala
perbuatannya sudah tidak mampu merasakan apaun kecuali rasa duka, payah, dan
pahit. Ibadah hanya merupakan beban yang sangat memberatkan saja. Bahkan ibadah
menjadi bumerang dan sesuatu yang menjijikan dan menjengkelkan. Lebih dari itu
ia bahkan mencegah orang berbuat kebaikan. Ia dendam dengan segala bentuk
kebaikan. Ia mati rasa terhadap segala hal kebaikan. Ia cuek dan apatis bahkan
membencinya.
Kedua, tiadanya rasa
pahit dalam kemaksiatan, artinya ia merasa lebih bangga terhadap keburukan dan
kemaksiatan, justru sebaliknya ia merasa bodoh, hina dan kumuh bila melakukan
kebaikan seperti yang dilakukan ahli sholihin. Tak heran, seringkali dia
mencaci maki dan mencibir orang-orang solihin yang dilihatnya. Kalimat nasihat
islami dan baik dianggapnya gogogan anjing, yang tak berguna sama sekali,
bahkan dianggapnya celotehan yang menjijikan.
Ketiga, ketidak jelasan
kehalalan, artinya makanan dan minuman termasuk seluruh aktifitasnya tidak lagi
selaras dengan hukum Allah. Ia lebih memilih segala perbuatannya terukur oleh
hawa nafsu dan kebejatan moralnya, budaya jahat dan kedzaliman merupakan hiasan
sehari-hari. Tak enak jika tidak menjahati orang lain. Tak enak jika tidak melakukan
kejahatan atau kejaliman baik untuk dirinya maupun orang lain. Ia tidak faham
lagi apa itu baik dan buruk. Baik dan buruk diukur oleh ukuran kemauan nafsunya
saja. Wallahu a'lam. (ubes nur islam)



Comments
Post a Comment