RAHASIA KA’BAH SEBAGAI KIBLAT SHALAT
RAHASIA KA’BAH
SEBAGAI KIBLAT SHALAT
Ubes Nur Islam
Paradigma
Alternatif & Solusi - Sebagian orang dari agama lain
(non muslim), atau ummat Islam sendiri yang masih ragu (awam) menganggap bahwa
ajaran islam yang mengharuskan shalat menghadap ka’bah itu sama pengagungan
terhadap batu hitam tersebut. Dan itu, tak ubahnya seperti ajaran para
penyembah berhala. Demikian ungkapan yang sering terucap oleh kaum mereka, baik
dari kaum penyembah berhala mapun mereka kaum majusi, zoroaster, ataupun kaum
atheisme.
Persoalan arah kiblat, sejak
zaman nabi Muhammad SAW dan hingga kini masih menjadi persoalan tersendiri bagi
kaum yang ingkar atau ragu terhadap ajaran Islam. Padahal sejak masa proses
wahyu turun pun fenomena masalah dan ketentuannya sudah jelas diterangkan oleh
Rasulullah sendiri sebagai pengemban amanah wahyu itu.
Ka’bah yang dijadikan sebagai
qiblat (arah menghadap) dalam shalat adalah sebuah ketentuan syariat yang
ditetapkan oleh pemilik syariat (Allah). Ini adalah kehendakNya yang harus
ditaati, sebagaimana Dia sebelumnya pernah berkehendak menjadikan masjidil
Aqsha sebagi kiblat umat islam.
Jadi, mengapa kita shalat
menghadap ke Ka’bah ? Jawabannya, ya
karena Allah memerintahkan seperti itu dalam syariatNya. Dan tentu yang paling
tahu alasan dari semua ketentuan syariat hanyalah Dia. Termasuk dalam masalah
ini. Kita sebagai hambaNya karena telah menyatakan keimanan atas kebenaran
agama ini, menyatakan berserah diri atas ketentuan hukum syari’atNya, tentunya
wajib mentaatinya. Dan orang-orang beriman akan senantiasa berkeyakinan, bahwa
ada hikmah yang agung dibalik setiap perintah atau larangan dalam syariat agama.
Pada awalnya Rasulullah setiap
shalat menghadap ke Baitil Maqdis, kemudian Rasululullah mengingkan agar kiblat
sholat ini ke arah Masjidil Haram, dimana Ka’bah berada, lalu beliau memohon
kepada Allah untuk dapat shalat menghadap ke Ka’bah. Tentang hal ini
Rasululullah sudah menjelaskannya secara rinci. Di bawah ini tertuang bebarapa
hadits yang terkait dengan fenomena dan konsekwensi arah kiblat.
Dari Anas bin Malik, katanya”
Rasulullah saw bersabda,“Barangsiapa shalat seperti kita, menghadap ke kiblat
seperti kita, dan memakan binatang sembelihan seperti kita, maka dialah orang
muslim yang berada di bawah perlindungan
Allah dan RasulNya, Karena itu janganlah anda menghianati Allah perihal perlindunganNya
itu.” (Bukhari).
Dari Barrak bin ‘Azib r.a.,
katanya: “Rasulullah saw shalat menhadap ke Baitil Maqdis, enam atau tujuh
belas bulan lamanya. Sedang beliau ingin shalat menhadap ke Ka’bah. Maka turun
ayat: “Sesungguhnya Kami tahu engkau menghadapkan mukamu ke langit berulang-ulang,
maka setelah itu Nabi saw shalat menghadap ke Ka’bah. Tetapi orang-orang bodoh,
antara lain orang-orang Yahudi, berkata: “Apakah sebabnya mereka berpaling dari kiblat mereka
semula ?” Katakan hai Muhammad “Kepunyaan Allah Timur dan Barat, ditunjukiNya kepada
jalan yang lurus siapa-siapa yang dikehendakiNya.” Seorang laki-laki shalat
bersama Nabi saw waktu terjadinya perubahan kiblat itu. Setelah shalat dia pergi. Dia melewati
sekelompok oang Anshar sedang shalat
“Ashar, masih menghadap ke Baitil Maqdis. Lalu dikatakannya, bahwa tadi dia
shalat bersama Nabi saw menghadap ke Ka’bah. Karena itu mereka merubah arah
kiblat mereka dan menghadap ke Ka’bah. (Bukhari).
Dari Abdullah bin Umar r.a.,
katanya:”Ketika orang-orang di Quba sedang shalat subuh, tiba-tiba datang
seorang mengatakan: “Sesungguhnya tadi malam Al Qur’an turun kepada Rasululah
saw. Beliau diperintahkan shalat
menghadap ke Ka’bah, Maka menghadap pulalah anda semua ke Ka’bah. Lalu mereka
yang ketika itu sedang shalat dengan menghadap ke Syam, merubah arah mereka
dengan menghadap ke Ka’bah.
“Dan kepunyaan Allah-lah Timur
dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. 2:115)
Orang-orang yang kurang
akalnya (safeh, orang ragu, orang lemah pemahamannya) di antara manusia akan
berkata :”Apakah yang memalingkan mereka (ummat Islam) dari kiblatnya (Baitul
Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”. Katakanlah :
”Kepunyaan Allah-lah Timur dan
Barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang
lurus”. (QS. 2:142)
“Dan demikian (pula) Kami
telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu
menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu
(sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti
Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat
berat, kecuali bagi beberapa orang yang
telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (QS.
2:143)
“Sungguh Kami (sering) melihat
mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat
yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja
kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang
(Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui
bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhan-nya; dan Allah
sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan”. (QS. 2:144)
“Dan sesungguhnya jika kamu
mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab
(Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti
kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian dari
mereka pun tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika
kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu
kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”. (QS. 2:145)
“Orang-orang (Yahudi dan
Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad
seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di
antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (QS. 2:146)
“Kebenaran itu adalah dari
Tuhan-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.
(QS. 2:147)
“Dan bagi tiap-tiap ummat ada
kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu
(dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. 2:148)
“Dan dari mana saja kamu
keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram; Sesungguhnya
ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Tuhan-mu. Dan Allah sekali-kali
tidak lengah atas apa yang kamu kerjakan”. (QS. 2:149)
Itulah beberapa ayat-ayat
Allah yang integral dikupas dalam satu surat yang cukup panjang dan hadits
nabawi yang menjelaskan status hukum normatif, mengapa Rasululullah dan ummat
saat itu beralih arah kiblat. Kalau ditinjau dari Hadits dan ayat-ayat tersebut
di atas maka menghadap ke Ka’bah itu adalah ketetapan Allah setelah Rasulullah
memintanya bagi beliau dan umatnya.
Menghadap Ka’bah bukan berarti
kita menyembah Ka’bah, tetapi merupakan simbol yang ditetapkan Allah bagi
kiblat orang-orang Islam. Hal ini untuk membedakan kiblat umat Muhammad dengan
kiblat umat lain.
Namun demikian, Allah maha
bijaksana, seandainya kita berada di
suatu tempat dan tidak mengetahui arah Ka’bah maka menghadap kemanapun sah
shalatnya karena dimana saja disitu ada Wajah Allah. Menghadap ke Ka’bah adalah
simbol persatuan, dan untuk memudahkan kalau kita shalat khususnya shalat
berjamaah.
Lebih jauh dari itu, baiklah
kita perlu merenungi fenomena di balik rahasia berbaliknya arah kiblat dari
Baitil Maqdis Palestina ke Ka’bah yang berada di Masjidil Haram Makkah. Bagi
orang-orang beriman akan senantiasa berkeyakinan, bahwa ada hikmah yang agung
dibalik setiap perintah atau larangan dalam syariat agama. Hikmah inilah yang coba digali oleh
setiap kita, termasuk dalam masalah kiblat ini. Agar semakin tunduklah hati
orang-orang beriman atas kebesaran dan kebenaran risalah yang dibawa oleh para
nabi, berupa risalah islam yang suci ini.
Ka’bah Sebagai Tempat
Ibadah Manusia Pertama
Hikmah Ka’bah dijadikan arah
kiblat ini terkait dengan sejarah islam dari sejak zaman nabi-nabi terdahulu.
Yang mana ka’bah merupakan bangunan pertama yang dipergunakan untuk ibadah di
muka bumi. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah telah mengutus
para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia.
Ini sudah dituturkan dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya rumah yang
mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang
diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Ali Imran : 96).
Di zaman Nabi Nuh bangunan
ka’bah pernah tenggelam dan runtuh
karena banjir, hingga datang masa kenabian Ibrahim dan Ismail. Lalu Allah memerintahkan keduanya untuk mendirikan
kembali ka’bah di atas bekas pondasinya dahulu. Sebagaimana firmanNya:
“Dan telah Kami perintahkan kepada
Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf,
yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (Al Baqarah : 125).
Lalu di masa Rasulullah, awal
perintah shalat mengadap ke arah baitul
Maqdis di Palestina. Namun Rasulullah
sering menengadahkan wajahnya ke langit berharap turunnya wahyu untuk
memalingkan qiblat ke Ka’bah. Hingga turunlah ayat : “Sungguh Kami melihat
mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat
yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja
kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang
diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah
benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka
kerjakan.” (Al-Baqarah : 144).
Melihat realitas sejarah,
dalam urusan menghadap Ka’bah, umat Islam punya latar belakang sejarah yang
panjang. Ka’bah merupakan bangunan yang
pertama kali didirikan di atas bumi untuk dijadikan tempat ibadah manusia
pertama. Dan Allah telah menetapkan bahwa shalatnya seorang muslim harus
menghadap ke Ka’bah sebagai bagian dari aturan baku dalam shalat. Hal ini
adalah sesuatu yang memang diharapkan oleh Rasulullah, dan boleh jadi Allah
menetapkan ka’bah sebagai kiblat, bukannya tempat lain, adalah karena Allah ingin menyenangkan hati kekasihNya.
Ajaran Agama Samawi Ber-Kiblat
Ke Ka’bah
Yahudi dan Nasrani adalah
termasuk diantara agama samawi, yakni suatu agama yang dahulunya juga bersumber
dari ajaran nabi-nabi. Yang mana pada ajaran keduanya, masih ada terkandung
sisa-sisa wahyu ilahi yang murni. Dan termasuk terkait dengan masalah kiblat
ini. Dalam Alkitab sendiri, jelas tertulis bahwa shalat (ibadah) itu harus menghadap kiblat, berikut
diantaranya :
- (Mazmur 5:8 ) : Tetapi aku, berkat kasih
setia-mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-mu, sujud menyembah ke arah
bait-mu yang kudus dengan takut akan engkau.
- (mazmur 138:2) : Aku hendak sujud ke arah
bait-mu yang kudus dan memuji nama-mu, oleh karena kasih-mu dan oleh karena
setia-mu; sebab kaubuat nama-mu dan janji-mu melebihi segala sesuatu.
- (yehezkiel 44:4) : Lalu dibawanya aku melalui pintu gerbang
utara ke depan bait suci; aku melihat, sungguh, rumah tuhan penuh kemuliaan
tuhan, maka aku sujud menyembah.
- (daniel 6:10) : Demi didengar daniel,
bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar
atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah yerusalem; tiga kali sehari ia
berlutut, berdoa serta memuji allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
Jadi awalnya, para penganut
ajaran agama Yahudi dan Nashrani pun, dimana posisi mereka yang berada di
Palestina, dalam melaksanakan ibadahnya mengarah ke Ka’bah sebagaimana
dilakukan oleh nenek moyang mereka, para nabi-nabi sebelumnya, entah mengapa pada akhirnya
mereka mengubah arah kiblatnya sendiri dalam kurun waktu ribuan tahun lamanya.
Dengan adanya keinginan Rasulullah SAW dan kerinduan beliau kepada para
nabi-nabi terdahulu sebagai nenek moyang yang lebih dahulu mengemban amanah
kerisalahan nubuwah, maka Rasululullah tak henti-hentinya berdo’a kepada Allah,
agar arah kiblat dikembalikan ke Ka’bah yang berada di di Masjidil Haram
Makkah, dan alhamdu lillah Ka’bah kembali sebagai pusat arah kiblat ibadah
ummat Islam.
Ka'bah Pusat Dunia Dan Islam
Menghendaki Persatuan
Kini kaum muslimin yang hendak
menunaikan ibadah shalat cukup satu arah kiblat, yaitu arah Ka’bah. Fenomena
awal, umat Islam zaman Rasul dan Sahabat, bisa jadi ada sebagian orang yang
ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan.
Kemudian, Rasulullah menghendaki, untuk menyatukan kaum muslimin dalam
beribadah kepada Allah, maka kini, kaum
muslimin di mana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu
Ka'bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka'bah, mereka salat
menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka'bah, mereka
menghadap barat. Dan inilah satu satunya agama yang memiliki Qiblat.
Menurut Dr Zakir Naik dari
India, bahwa dengan adanya arah kiblat ke Ka’bah, maka kaum muslimin inilah
umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan
menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka'bah berada di pusatnya. Kemudian, para
kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan
selatan ke bawah. Meski begitu, alhamdulillah, Ka'bah terletak di tengah-tengah
peta. Subhanallah..! Lebih lanjut, ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram
di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka'bah. Perbuatan ini
melambangkan keimanan dan peribadahan kepada keesaan satu Tuhan. Sama persis
dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak
disembah.
Sebagai renungan terakhir
pasal ini, yakni menegaskan jawaban dari
sebuah pertanyaan dari kaum non muslim atau sebangsanya, yang katanya, Ibadah umat islam menghadap
ka’bah serupa dengan tatacara menyembah berhala ?
Pernyataan ini tentu saja
sangat keliru besar. Orang yang tidak beriman sekalipun, asalkan ia mau
menggunakan akal yang waras, pasti tidak akan menerima pernyataan seperti ini.
Karena hal ini bukan hanya bertentangan dengan fakta dan realita, juga
bertentangan dengan cara berfikir yang sehat. Secara bahasa saja, menghadap
tidaklah sama dengan menyembah, itu dua hal yang jelas sangat berbeda.
Bagaimana mungkin hendak
disamakan umat islam yang menjadikan ‘batu’ sebagai arah menghadap, dengan para
paganis yang menjadikan batu sebagai sesembahan ? Apakah hendak disamakan
sekelompok orang yang menjadikan bangunan yang memiliki latar belakang sejarah
sebagai pemersatu dengan sekelompok lainnya yang mengharapkan pertolongan dari
makhluk / batu ?
Lagi pula, tidak ada yang
istimewa dari ka’bah kecuali keistimewaan yang memang diberikan oleh syariat,
seperti ia adalah bangunan dan tempat
yang diberkahi. Allah bahkan telah menegaskan:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu
ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan
itu ialah beriman kepada allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa.” (Al Baqarah :177) (Ubes Nur Islam dari berbagai sumber)



Comments
Post a Comment