BELAJAR MUDAH PRAKTEK SHOLAT Bagian 1

 BELAJAR MUDAH PRAKTEK SHOLAT

Bagian 1

 

Mengapa Kita Harus Sholat ?

 

Alternatif & Solusi -Tujuan Allah menciptakan kita, manusia dan makhluk semesta lainnya adalah untuk beribadah, dengan menebarkan kebaikan antara sesama makhluk lainnya, dan menyembah khusus secara ikhlas dan lurus (hanif) kepadan-Nya.

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ –

Artinya : Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

 (QS. Adz Dzariyat: 56)

 

وما امروا الاليعبد الله مخلصين له الدين حنفاء (الاية)

 

Manusia, jin dan makhluk semesta lainnya sudah memaklumi dan mengetahui Zat mana yang harus dan patut disembah. Ini adalah keyakinan semua makhluk semesta, tak satu pun makhluk yang mengingkarinya, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Sebab, ini ajaran kepercayaan Tauhid (keesaan Allah) yang diperkenalkan langsung oleh Allah kepada semua makhluknya sejak jaman azali.

 

Namun demikian, cara beribadahnya yang sering dilupakan oleh sebagian makhluknya. Sehingga Allah menyindir para makhluk yang lupa kepada-Nya dengan kalimat ini.

 

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي –

Artinya : Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. ( Surah Taha [20:14] )

 

وذكر اسم ربه فصلى (الاعلى:15)

Artinya: “Dan ia mengingat nama Tuhannya, maka ia melaksanakan sholat”. (Surat Al-A’la:15)

 

Bagi setiap makhluk Allah yang tercipta, memiliki cara beribadah yang berbeda-beda: Matahari, bumi, bintang, dan bulan, masing-masing punya cara ibadah tersendiri. Pepohohan, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan binatang, masing-masing punya cara ibadah tersendiri. Tanah, bebatuan, air, angin, dan api, masing-masing punya cara ibadah tersendiri. Manusia dan jin memiliki keistimewaan cara ibadah yang lebih kompleks dari makhluk lainnya. Sebab mereka lebih lentur dan pleksibel dari sisi fisikalnya.

 

Semua makhluk Allah itu beribadah, dengan caranya masing-masing, ada yang bertasbih, ada yang bertahmid, ada yang bertazkir, ada yang bertaqdis, dan lain-lain. Firman Allah:

 

سبح لله ما في السموت والارض وهو العزيز الحكيم (1)

له ملك السموت والارض يحيي ويميت وهو علي كل شيئ قدير (2)

هو الاول والاخر والظاهر والباطن وهو بكل شيئ عليم (3) (الحديد : 1-3)

 

Matahari beramal dan menebarkan kebaikannya, selalu membagikan sinar cahayanya ke seantero jagat raya secara istiqomah dan terus menerus tanpa henti. Ini sebagai refleksi wujud ibadahnya dan ketaatannya kepada Allah, begitu pun bintang-bintang, dan bulan di lagit.

 

Bumi beramal dan menebarkan kebaikannya adalah siap menerima tumpangan segala makhluk yang tinggal di atasnya atau di dalamnya, ini sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah. Bumi juga selalu menumbuh-kembangkan berbagai makkhluk yang ikut menumpang di atasnya. Bumi menyediakan berbagai kebutuhan dan hajat bagi para penghuninya, ada tanah, bebatuan, air, angin, api, dan berbagai bahan mineral lainnya, baik kimia ataupun fisika.

 

Bumi juga menyediakan kebutuhan para penghuninya dan sekaligus memperoduksi semua kebutuhan primer (daruriyat) dan keperluan scondari dan tersier (hajjiyat dan tahsiniyat) bagi hajat hidup para penghuni bumi, baik sandang, pangan, dan papannya, dengan sistem daur ulang atau sistem simbiosis mutualisme, yaitu ada pepohohan, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan binatang. Mereka tinggal di atas bumi dan hidup saling memajukan dan mengembang di atas bumi, saling bantu, saling tolong menolong, dan saling melengkapi dan menjalin keharmonisan satu sama lainnya.

 

Manusia dan jin juga tinggal di bumi. Keduanya adalah makhluk utama yang paling memerlukan banyak kebutuhan barang-barang tersebut di atas muka bumi ini. Namun justru keduanya ini merupakan makhluk yang sering melupakan Allah, makanya, Manusia dan jin amat ditekankan untuk lebih banyak bersyukur dan mengabdi kepada Allah. Sebagaimana ditekankan dalam ayat al-Quran tersebut ini.

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ –

Artinya : Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

 (QS. Adz Dzariyat: 56)

 

Keberadaan para makhluk semesta, baik langit maupun di bumi, selalu memuji dan beribadah  kepada Allah, juga diinformasikan dan disitir dalam firman Allah berikut ini:

 

يسبح لله ما في السموت وما في الارض  له الملك و له الحمد وهو على كل شيئ قدير (1)

هو الذي خلقكم فمنكم كافر و منكم مؤمن  والله بما تعملون بصير (2)

خلق السموت والارض بالحق وصوركم فاحسن صوركم واليه المصير (3)

يعلم ما في السموت والارض ويعلم ما تسرون  وما تعلنون  والله عليم بذات الصدور (4) (التغابن :1-4)

 

Namun demikian, keberadaan makhluk-makhluk ini, dalam pelaksanaan ibadahnya, kemudian ada yang istiqamah mengabdi kepada Allah, dan ada yang terhenti sehingga ia menjadi kafir di hadapan Allah. Nauzu billahi min zalika.

 

 

Prilaku Kita Di Dunia Akan Menetukan Nasib Kita Di Akhirat

Hidup harus dalam kebaikan yang sesungguhnya

 

Islam mengajarkan, Kita hidup di dunia ini hanya sementara dan dalam tempo yang sangat singkat. Kehidupan abadi adalah kehidupan di akhirat.

 

Namun demikian, Kehidupan yang singkat di dunia ini menjadi penentu kehidupan kita di akhirat , Prilaku baik di dunia akan menetukan nasib baik di akhirat dan Prilaku buruk di dunia akan menentukan nasib buruk di akhirat.

 

بل تؤثرون الحيوة الدنيا (16) والاخرة خير وابقى (17) (الاعلى :16-17)

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره (الزلزلة:7-8)

 

Allah selalu menuntun kita, agar kita selalu hidup dalam kebaikan yang sesungguhnya.

Hidup dalam kebaikan yang sesungguhnya adalah :

 

1.       keseimbangan jasmani dan rohani =>

-          jasmani yang aktif, hidup dan sehat

-          rohani yang hidup, tenang, tentram, ayem, dan damai

 

2.       keseimbangan hubungan diri dengan Sang Pencipta/ habluminallah =>

-          bisa berkomunikasi dan memuji keindahan dan keagungan Allah, secara langsung

-          bisa mengadukan nasib dan keluh kesah kepada Allah, secara langsung

-          bisa berdialog dan memohon segala hajat yang dibutuhkan, secara langsung

-          bisa berterima kasih dan bersyukur atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada kita, secara langsung

-          bisa memohon maaf dan ampun atas kesalahan yang kita lakukan, secara langsung

 

3.       keseimbangan hubungan diri dan kehidupan sosial / habluminannas =>

-          hubungan harmonis diri dengan keluarga

-          hubungan harmonis diri dengan kawan dan lingkungan sekitar

-          hubungan adaptif diri dengan lawan atau musuh kita sekalipun

 

4.       keseimbangan hubungan diri dan alam semesta=>

-          dengan penghuni di bumi dan maupun di langit

-          dengan manusia, jin, maiaikat, para arwah, dan

-          dengan binatang, tumbuhan, tanah, air, api, dll

 

Keseimbangan diri manusia ini amat sulit diciptakan di dunia ini, kecuali dengan melakukan aktifasi ibadah Sholat secara daimun, terjaga, dan istiqomah. Sebab para pelaku shalat yang berkepribadian seperti inilah yang mampu membangun sinergitas dan adaptabilitas dengan berbagai makhluk di bumi manapun, dan dengan makhluk siapa pun. 

 

Kenapa manusia bisa sulit melakukan sinergitas dan adaptabilitas dengan lingkungannya? ini alasannya.

 

Di dalam diri manusia ada faktor internal diri sebagai gharizah asasiah, bakat dasar dan karakter alamiyah yang ganjil yang merupakan sunnatullah bagi khususi jenis manusia, yaitu antara lain:

-manusia ada karakter tergesa-gesa, zig zag, selalu mudah terguncang mental kejiwaannya,

-manusia ada karakter selalu berkeluh kesah, mudah menurun semangatnya bila diterjang masalah buruk,

-manusia ada karakter selalu tidak merasa cukup dan merasa kurang, bila mendapatkan kelebihan atau peluang baik.

 

Kondisi karakter seperti tersebut adalah thabiat alamiyah, yang seringkali mengganggu dirinya dan bahkan mengganggu orang lain dan lingkungannya. Karakter alami ini tidak bisa diobati dengan obat-obatan kimiawi atau biologi, melainkan hanya dengan aktifitas ibadah sholat. Sholat menjadi landasan dasar utama membangun keseimbangan moral dan mental spiritual. Allah sudah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Ma’arij: 19-23.

 

ان الانسان خلق هلوعا – اذا مسه الشر جزوعا – واذا مسه الخير منوعا – الا المصلين –

الذين هم على صلاتهم دائمون – (المعارج: 19-23)

Artinya: “Sesungguhnya manusia tercipta dengan karakter sifat tergesa-gesa, bila ia mengenai keburukan ia akan merasa keluh kesah, bersedih hati, dan bila ia mendapatkan peluang baik ia selalu menyembunyikannya, kurang syukuran, kecuali mereka sering melaksanakan sholat. Yang sholatnya daimun, langgeng istiqomah”. (Al-Ma’arij:19-23)

 

Bilamana karakter alamiyah ini sudah merasuk dirinya dan membahayakan orang lain dan lingkungannya, maka ia wajib melaksanakan sholat, baik itu sholat wajib maupun sunnah. Seperti yang difirmankan Allah berikut ini.

 

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ –

Artinya : “... dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Surah Al-‘Ankabut [29:45] )

 

Sifat alamiyah manusia lainnya adalah, sesungguhnya manusia itu makhluk yang amat lemah, walaupun sudah diberi kelebihan fasilitas indrawi dan anggota tubuh potensial yang lengkap, namun secara kudrati, ia adalah makhluk lemah dan tidak mampu berkuasa atas keinganan dan kemampuannya untuk menggapai apa yang dilakukan dan diharapkannya. Ia membutuhkan bantuan dan pertolongan dari luar dirinya, yaitu kudrat dan iradah Allah swt.

 

Oleh sebab itu, Allah memberi obat penawar sebagai solusi dan alternatif dengan memerintahkan agar manusia segera meminta pertolongan dan memohon segala kebutuhan dan keperluannya kepada Allah, melalui wasilah (tawassul) sholat, sebagaimana firman Allah:

 

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya : ”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS. Al Baqoroh : 45)

 

Sholat juga menjadi pedoman untuk setiap ikhtiar dan aktifitas kehidupan manusia. Bila seorang manusia ingin menemukan peluang baru, ingin memperoleh petunjuk bagaimana melakukan program hidupnya lebih baik dan berdaya guna, atau bahkan hidupnya terancam punah, diganggu pihak lain, atau hidupnya mengalami stagnasi, maka sebaiknya mendekatkan diri kepada Allah dengan wasilah atau tawassul sholat, yakni ia melaksanakan sholat hajat, agar mendapatkan petunjuk dan makhraj (jalan keluar) dari Allah, hal apa yang sebaiknya dilakukan bagi dirinya. Maka, sesuai janji Allah, Allah akan memberinya jalan yang sangat terbaik (la’allakum yarsyuduna).

 

اذا سئالك عبادي عنى فانى قريب اجيب دعوة الداع اذا دعانى فاليستجيبونى وليؤمنوبى لعلكم يرشدون (الاية)

 

Jadi, pada dasarnya manusia membutuhkan Ibadah Sholat. Sholat dilakukan seseorang manusia tak hanya sebuah kewajiban (intruktif) dan keperluan yang genting saja, melainkan sholat adalah sebagai media untuk mengingat Allah, zikrullah, adalah sholat untuk mendekatkan diri taqorrub di hadapan Allah. Rasulullah sendiri, menjadikan sholat sebagai media berselancar mengarungi lautan samudra rahmaniyah Allah yang terbentang luas, dan menikmati indahnya keelokan alam rabbaniyah di sisi Allah. Rasulullah bersabda:

 

جعلت قرة عينى فى الصلاة

Artinya: “Terjadilah tatapan panorama indah mata hatiku ini, yakni kenikmatan syahdu hidupku ini, hanya ada di dalam keadaaan beribadah sholat”. (al-Hadits)

 

Sholat juga, adalah melatih diri, jiwani dan ragawi menjadi hamba yang muttaqin. Sholat sebagai riyadhoh dan mujahadah agar menjadi hamba yang taat, tawaddu, dan khudhu’ di hadapan Sang Kholik. Sholat bisa membangun khouf dan roja, serta rasa cinta (mahabbah) dan kerinduan (dzouq) kepada Allah. Sholat sebagai media efektif dalam melakukan muqorobah dan juga sekaligus muraqobah. Dan Sholat bisa mendidik pribadi agar menjadi hamba yang khusyu beribadah kepada Allah.

 

Dan, akhirnya sholat juga membimbing pribadi manusia agar mampu melihat dirinya bersinergi dan beradaptasi dengan hamba Allah yang lainnya, baik secara privasi keluarga, masyarakat kolektif sosial, dan alam semesta jagat raya, baik alam samawat maupun alam ardiyat, alam ulya dan sufla, alam malakut, alam jabarut, alam lahut, dan alam lainnya. Berikut Allah menceritakan tentang keadaan mereka:

 

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (١) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (٢)

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu, orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka”. (Al Mu’minun : 1-2)

 

Allah ta’ala memuji para mukmin, orang-orang yang beriman yang melaksanakan sholatnya hingga mencapai tingkat khusyu. Pujian Allah kepada mereka dengan ungkapan Aflaha, dengan seghat mubalaghoh, yang menurut ahli bahasa Arab menunjukkan makna (ta’ajjubiyah) ketakjuban Allah atas makhluknya yang beriman, dan Allah memastikan mereka, yang melaksanakan sholat dengan khusyu ini, akan mendapat kebabahagian lahir dan batin, dunia dan akhirat, dengan pemberian hadiyah tak terhingga. Di akhirat nanti, Allah sudah menyediakan dan menempatkan bagi mereka, sebagai pemilik saham (al-warisun) dan penghuni klaster rumah hunian nan indah dan megah di Taman Klaster Perbukitan Jannah Surga Firdaus (lihat Al Mu’minun : 10-11). (*)Ubes Nur Islam dari berbagai sumber.

Comments